Meraup Untung di Tengah Pandemi (2)

Menerka Dugaan Mark Up

BANDA ACEH (popularitas.com) – Suasana toko grosir di salah satu sudut pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh dilalui lalu-lalang pembeli pada Jumat, 1 Mei 2020 petang. Para pembeli datang silih berganti, mereka umumnya berbelanja kebutuhan pokok rumah tangga.

BACA JUGA:

Meraup Untung di Tengah Pandemi (1)

Toko ini menyediakan sejumlah bahan sembako, seperti telur ayam, beras, susu, minyak goreng, gula pasir dan lain sebagainya. Sebagian besar sembako tersebut didatangkan dari Medan, Sumatera Utara.

Di toko grosir tersebut, gula pasir dipatok dengan harga Rp 17.000 per kilogram. Jumlah ini sedikit menurun dibandingkan bulan lalu. Saat itu, stok gula dari Medan sempat tersendat, sehingga mempengaruhi pasar di Aceh.

Saat stok gula pasir dikabarkan menipis di Aceh, para pedagang grosir biasanya menjual dengan harga Rp 900.000 per 50 kilogram. Jika dikalkulasikan, maka 1 kilogram mencapai Rp 18.000.

Angka itu tentu berbanding terbalik dengan harga yang tertera dalam paket sembako yang pengadaannya dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Dalam satuan paket tersebut, gula pasir dijual dengan harga Rp 19.000 per kilogram.

Berdasarkan dokumen dari Pemerintah Aceh menyebut, harga itu ditetapkan berdasarkan survei pasar yang dilakukan pada 6 April 2020. Namun, hal ini dibantah oleh sejumlah pedagang grosir di Banda Aceh.

Menurut mereka, harga gula pasir paling tinggi di tingkat grosir saat itu adalah Rp 18.000 per kilogram, bukan Rp 19.000. Jumlah ini tak berubah walaupun dibeli dalam jumlah banyak.

“Per 6 April tidak sampai Rp 19.000, paling tinggi Rp 18.000, walaupun orang jual sekian-sekian, saya jual Rp 18.000 per kilo atau Rp 900.000 per sak, ini memang harga pasaran,” kata seorang pedagang grosir di Pasar Peunayong, Jumat, 1 Mei 2020.

Selain gula pasir, hal yang sama juga terjadi pada minyak goreng merek sovia. Dalam paket tersebut tertera bahwa harga minyak goreng untuk 2 liter mencapai Rp 25.000. Hal ini berbanding terbalik dengan harga pasar saat itu yakni Rp 23.500 per 2 liter.

Sedangkan untuk paket intermie dan sarden, harganya sudah sesuai dengan harga pasar. Di paket tersebut, harga intermie dipatok dengan harga Rp 35.000 per kardus. Sedangkan di harga pasaran grosir bahkan sedikit lebih tinggi yaitu mencapai Rp 36.000 per kardus.

Sementara untuk sarden merek gaga, harganya sudah sesuai yang disetujui tim pemerintah Aceh, yakni Rp 18 ribu per kaleng ukuran 425 gram.

 Dugaan Mark Up

Dalam salinan pengadaan paket sembako yang disediakan pemerintah Aceh untuk warga terdampak Covid-19, total ada Rp 200.000 yang diplot untuk 4 jenis bahan pokok.

Keempat jenis bahan pokok ini adalah gula pasir 2 kilogram, minyak goreng merek sovia 2 liter, sarden gaga 425 sebanyak 4 pcs dan mie instant intermi 1 kotak.

Jika disesuaikan dengan harga pasar, maka harga gula pasir yakni Rp 36.000 per 2 kilogram. Kemudian minyak goreng sovia Rp 23.500 per 2 liter. Sedangkan sarden gaga 425 gram Rp 72.000 per 4 pcs dan mie instant intermi Rp 36 ribu per kotak.

Apabila dijumlahkan, keempat sembako tersebut hanya Rp 167.000. Artinya, ada sisa Rp 33.000. Bila dikalikan 60.000 paket yang disalurkan dengan selisih anggaran itu ada Rp 1,9 miliar lebih dana tak diketahui keberadaannya. Hingga sekarang masih misteri mengalir kemana anggaran sebesar itu. Bersambung….

BACA JUGA: Meraup Untung di Tengah Pandemi (3)

Reporter     : Muhammad Fadhil

Editor         : A.Acal

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat