Tak Cukup dengan Bak Penampung Raksasa

LUBANG itu berukuran 25×45 meter. Dalamnya sekitar lima meter. Di sekeliling lubang sudah dipagari beton penahan tanah. Ada juga besi yang tertancap di sela-sela beton itu. Lubang tersebut memiliki beberapa sekat. Layaknya kolam ikan dalam bentuk besar.

Di sekitar lubang terlihat beberapa pekerja proyek wara wiri mengangkat besi. Sepintas ada juga pekerja yang terlihat sedang memegang alat di dasar lubang itu. Selebihnya lokasi ini ditutup seng.

Di sayap kanan pengerjaan proyek itu ada gedung megah menjulang ke angkasa. Gedung itu tempat berkantor para anggota dewan Kota Banda Aceh. Sementara di sisi kiri ada markas Kodim 0101 Aceh Besar. Lokasinya tak jauh dari Balai Kota. Berada di belakang Monumen Kereta Api, tempat beroperasi swalayan Barata.

Di gerbang masuk ke areal lubang raksasa itu ada sebuah plang bertuliskan “Pembangunan Reservoir Taman Sari (Otsus).” Ada juga angka Rp12,6 Miliar lebih yang tertera di bagian bawahnya. Proyek ini berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banda Aceh. Dikerjakan oleh rekanan sejak Juni 2019.

Inilah lokasi reservoir atau waduk penampungan air bersih PDAM Tirta Daroy. Lubang ini digadang-gadang mampu menampung 3.000 meter kubik atau setara dengan tiga juta liter air bersih. Lubang inipula yang diharap menjadi solusi ketersediaan air untuk warga di ibukota Provinsi Aceh nantinya. Setidaknya untuk wilayah Meuraxa, Jaya Baru dan sebagian warga yang ada di Kecamatan Baiturrahman.

Duit proyek ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota alias APBK Banda Aceh tahun 2019. Proyek tersebut ditargetkan rampung akhir 2019 atau awal tahun 2020.

Reservoir ini merupakan satu diantara lima reservoir yang berada di bawah tata kelola PDAM Tirta Daroy. Berada di jalan Perwira Taman Sari, dulunya kolam tersebut hanya mampu menampung 300 meter kubik air bersih. Sementara reservoir lain yang juga berada di bawah pengelolaan PDAM Tirta Daroy juga terdapat di Jalan T Nyak Arief Darussalam. Ada juga satu reservoir lainnya di bilangan jalan Teungku Daud Beureueh Lampineung, satu di Jalan Laksamana Malahayati Jeulingke, dan sisanya berada di Jalan Rama Setia Ulee Lheue.

Sayangnya dari lima lokasi reservoir tersebut baru dua yang beroperasi. Sementara untuk reservoir Darussalam dan Daud Beureueh justru tidak beroperasi. Setidaknya demikian informasi rujukan popularitas.com dari situs PDAM Tirta Daroy yang masih memuat data tahun 2012 itu.

Belakangan, Kepala PDAM Tirta Daroy Teuku Novrizal Aiyub menyebutkan, semua kolam penampungan air bersih yang berada di bawah tata kelola perusahaan air minum daerah tersebut beroperasi pada 2019. Namun, tidak semua kolam penampungan air ini diaktifkan selama 24 jam. Inipula yang diduga membuat aliran air di Kota Banda Aceh terkadang berhenti mengalir ke pelanggan. Sehingga tak heran kemudian ada pelanggan yang berteriak air pet macet lagi.

Baca: Air Pet Macet Lagi di Banda Aceh

“Kita banyak (memiliki) reservoir. Di WTP ada tiga reservoir kita, di Lampineung ada satu, di Taman Sari satu. Dulu ada dua, di menara, tapi nggak ada lagi,” kata Teuku Novrizal Aiyub, Selasa, 15 Oktober 2019.

Pun begitu, kendala yang dihadapi PDAM Tirta Daroy saat ini bukan semata-mata disebabkan minimnya reservoir alias bak penampungan air tersebut. Dia menyebutkan kendala utama yang dihadapi PDAM Tirta Daroy di Banda Aceh adalah kurangnya bahan baku air untuk dialirkan ke jaringan pelanggan. “Kendala sekarang, air baku itu keruh sekali. Karena hujan di hulu, air Krueng Aceh itu keruh sekali. Jadi kita nggak bisa ngolah penuh untuk wilayah-wilayah di ujung airnya kurang, nggak ada hubungan dengan reservoir,” katanya.

Menurut pengakuan Teuku Novrizal Aiyub kendala seperti itu kerap dialami pihaknya dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Sayangnya, kendala itu tak hanya terjadi di musim penghujan saja, juga di musim kemarau. “Saat kemarau, produksi air kita (juga) turun,” katanya.

Kendala lain yang dialami PDAM Tirta Daroy dalam memberikan pelayanan air bersih kepada pelanggan juga sering terganggu setiap adanya proyek pengerjaan jalan dan instalasi listrik di ibukota. Di saat pengerjaan jalan, pipa-pipa milik PDAM kerap rusak karena galian. Begitu pula saat peremajaan instalasi listrik.

Hal ini pula yang menggambarkan pekerjaan perusahaan air minum daerah tersebut bak gali lobang tutup lobang. “Ada galian, buat got buat jalan, kena pipa kita, ya selalu begitulah. Bukan rutin tiap tahun, tiap saat rutin bocor,” kata Novrizal.

Dari keterangan pimpinan tertinggi PDAM Tirta Daroy itu pula diketahui bahwa pembangunan reservoir yang digadang-gadang mampu menjawab problem air bersih di ibukota, terkesan hanya bualan belaka. Pasalnya, reservoir raksasa yang mampu menampung 3.000 meter kubik air tersebut hanya untuk menambah tenaga dorong air ke jaringan pelanggan, ke wilayah ujung pelayanan PDAM Tirta Daroy. Wilayah Meuraxa, misalnya.

Namun reservoir Taman Sari ini memang diperlukan. Menurut Novrizal jarak dari WTP Lambaro ke Meuraxa itu sekitar 15 atau 12 Kilometer lebih. Sehingga tekanan air dari mesin utama ke jaringan wilayah tersebut tidak mencukupi.

“Jadi nanti air dari WTP Lambaro kita tampung ke bak reservoir (Taman Sari) dulu baru kita pompa lagi ke jaringan (Meuraxa-Jaya Baru),” kata Novrizal.

Tak hanya itu, listrik byar pet di ibukota Aceh ini juga disebut turut mengganggu pelayanan air bersih untuk pelanggan. Apalagi bak-bak penampung air milik PDAM Tirta Daroy tersebut bersandar pada pompa yang lagi-lagi bergantung pada listrik. Ketika listrik mati, maka menyebabkan pompa mati. Tekanan air juga berkurang ke rumah pelanggan.

Hal ini berbeda jika perusahaan air minum tersebut memiliki bak penampung dengan sistem menara. Meskipun pada saat menampung air memerlukan listrik, tetapi saat penyaluran ke rumah-rumah pelanggan cukup menggunakan gaya gravitasi ketika listrik mati. Sayangnya pembangunan menara air tersebut mahal. Anggarannya lebih besar jika dibandingkan sistem pengadaan reservoir yang ada saat ini.

Water Toren merupakan menara air yang dibangun Belanda pada 1880-an. Kini menjadi situs sejarah di Kota Banda Aceh | Foto: Banda Aceh Tourism

Menara air sebenarnya bukan hal baru di Banda Aceh. Belanda sudah memperkenalkan teknologi ini sejak lama untuk warga di ibukota. Bak penampungan serupa mercusuar itu bahkan sudah dibangun Belanda sejak 1880-an.

Bangunan tersebut masih dapat kita saksikan hingga sekarang. Lokasinya tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, dan dekat dengan Taman Sari Bustanussalatin Banda Aceh. Belanda menyebutnya dengan Water Teron.

Material bangunannya mayoritas beton dengan bentuk bundar. Atap bangunan berbentuk dari seng yang berbentuk kubah. Pada bagian atas atap terdapat kemuncak yang berbentuk segi enam. Belanda dulu mempergunakan menara ini untuk menampung air. Kubah di atas menara berfungsi sebagai bak raksasa. Sementara sumber air diambil dari pegunungan Glee Taron, Mata Ie, yang saat ini berada di wilayah administratif Aceh Besar.

Saat ini, menara Water Teron tak lagi difungsikan. Padahal di dalam bangunan tersebut masih terdapat pipa-pipa, pengukur debit air dan elemen sejarah peninggalan kolonial lainnya. Kini menara yang berguna bagi penduduk kota itu berubah menjadi situs. Dipasangi lampu dan hanya berguna untuk estetika kota belaka.

Menara air di Taman Sari yang dibangun usai kemerdekaan Indonesia dan dihancurkan setelah tsunami Aceh | Foto courtesy YouTube

Selain menara Water Teron, Banda Aceh juga pernah memiliki menara air raksasa. Lokasi menara itu berada di pusat Taman Sari alias Bustanussalatin sekarang. Menara air ini dibangun pada awal tahun 1980-an. Materialnya juga terdiri dari beton dengan atap kubah di atasnya. Saat tsunami menerjang Banda Aceh, menara air ini bertahan bersama tugu proklamasi yang ada di Taman Sari.

Entah apa yang menyebabkan menara air raksasa itu belakangan dirobohkan pada awal 2007 lalu. Mungkin faktor keamanan dan rawan gempa salah satu alasan hilangnya teknologi bak penampungan air itu di ibukota.

“Bagus menara, tapi untuk bangun menara, pertama mahal. Kedua Banda Aceh itu kota rawan gempa. Kalau cukup uang kita bangun menara, tapi konsekwensinya lima kali lipat lebih mahal daripada reservoir itu,” kata Novrizal. Kendati Novrizal menyebutkan penggunaan reservoir yang ada saat ini tidak jauh berbeda dengan sistem menara, tetapi dia mengakui kalau menara air lebih efisien. “(Menara) lebih aman, mati lampu masih mengalir (karena menggunakan sistem gravitasi). Kita (reservoir sistem bak penampung sekarang) mati lampu, mati kita,” pungkas Teuku Novrizal Ayub.* (BNA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat