Home News Sudah Lima Tahun, Implementasi Qanun KTR di Banda Aceh Belum Maksimal
News

Sudah Lima Tahun, Implementasi Qanun KTR di Banda Aceh Belum Maksimal

Share
Satgas tindak enam pelanggar KTR di Banda Aceh
Ilustrasi, kawasan tanpa rokok. (suara.com)
Share

POPULARITAS.COM – Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Tati Meutia Asmara menyebutkan, implementasi Qanun Nomor 5 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di kota tersebut belum berjalan maksimal, padahal sudah disahkan lima tahun lalu. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah Kota Banda  Aceh.

“Qanun ini sudah lama disahkan dan kalau saya melihat dalam implementasinya ini memang banyak PR, saya ambil contoh bahwa KTR harapannya adalah bahwa ada satu titik fokus untuk yang namanya pengguna rokok melakukan aktivitas merokoknya, mau tidak mau kita harus akui bahwa kita tidak mungkin menafikan perokok itu, karena lebih banyak jumlahnya,” ujar Tati di Banda Aceh, Rabu (3/3/2021).

Ia menyebutkan, Komisi IV DPRK sudah melakukan rapat dengan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terkait persoalan tersebut. Namun, oleh Dinas Kesehatan menyatakan bahwa secara penganggaran kawasan untuk perokok hanya dibangun satu titik setiap tahun.

“Ternyata secara penganggaran untuk membuat ruang khusus (perokok) di lokasi KTR masih belum signifikan di kota kita. Setiap tahun itu kalau saya tidak salah hanya satu titik gitu,” sebut Tati.

Tati berharap, Qanun KTR ini ke depan bisa dijalankan dengan maksimal di Kota Banda Aceh. Apalagi, pemerintahan provinsi pada tahun lalu juga sudah melahirkan qanun tersebut.

“Harapan besar kita mungkin KTR ini, yang pertama adalah yang memang benar-benar bisa untuk aparatur pemerintah, sekolah, kesehatan, itu benar-benar terjaga dari yang namanya terpapar dari bahaya rokok,” kata dia.

Di sisi lain, Tati juga berharap agar perokok memahami lingkungannya yang tidak merokok. Sehingga, aktivitas merokoknya tidak memberi efek negatif kepada orang lain.

“Jangan lupa juga bahwa rokok ini sebenarnya yang paling penting diubah adalah bukan dari sisi kawasannya, tetapi pemahaman atau pola pikir dari perokok bahwa ternyata dia menyumbang penyakit untuk orang di sekitarnya. Jadi, sosialisasi harus lebih aktif lah atau lebih intens,” ucap Tati.

Editor: dani

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Aroma kuah kari dan Shalawat Rasul untuk tanah Japakeh yang ingin bangkit

POPULARITAS.COM – Aroma kari menguar lebih dulu, jauh sebelum tenda-tenda itu tampak...

News

Dinilai tak layak, BGN tutup 2 ribu dapur MBG 

POPULARITAS.COM – Sebanyak lebih dari 2.000 dapur MBG di seluruh Indonesia, ditutup...

News

Komunitas pegiat sejarah dan budaya berduka, Piet Rusdi Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh meninggal dunia

POPULARITAS.COM – Komunitas pegiat sejarah dan budaya Aceh, Piet Rusdi meninggal dunia....

InternasionalNews

Pasar Saham Israel Bisa Merosot Tajam jika Netanyahu Terpilih Lagi

POPOULARITAS.COM – Pasar saham Israel berpotensi menghadapi tekanan jika Perdana Menteri Benjamin...