Satu Tahun Hampir Satu Ton Sabu Ditumpas Wahyu

HARI ini, 18 Februari 2021, tepat satu tahun silam, Irjen Pol Wahyu Widada, M.Phil, secara resmi ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi dijajaran Kepolisian Daerah Aceh. Menyandang bintang dua, lulusan Akpol 1991 tersebut, resmi dilantik 13 Februari 2020.

Pria kelahiran Sleman, Jogyakarta itu, Pada 18 Februari 2020 lalu, menerima jabatan tersebut dari Kapolda Aceh sebelumnya, Irjen Pol Rio S Djambak, dalam suatu acara serah terima jabatan di Mapolda setempat. Dan hari ini, 18 Februari 2021, tepat satu tahun peraih Adhi Makayasa Akpol 1991 tersebut, pimpin jajaran Kepolisian Polda Aceh.

Perang melawan Narkoba, merupakan kebijakan Wahyu Widada yang secara aktif diterjemahkannya jajaran dibawahnya. Dan terbukti, selama satu tahun pimpin Polda Aceh, tidak kurang satu ton sabu-sabu telah berhasil ditumpas jenderal bintang dua tersebut.

Dari catatan, pada 2020, 469 kilogram sabu berhasil diamankan Polda Aceh, dan diawal 2021, tidak kurang 353 kilogram narkotika golongan I itu kembali ditangkap institusi kepolisian daerah tersebut.

Baca juga : Misteri Kepemilikan Sabu 343 kilogram dipecahkan oleh Polda Aceh

Jadi, total sabu yang berhasil diamankan Polda Aceh sejak dijabat Irjen Pol Wahyu Widada, 822 kilogram atau hampir satu ton dalam kurun waktu satu tahun mantan Kapolda Gorontalo itu pimpin kepolisian daerah provinsi ujung Pulau Sumatera tersebut.

Pria yang dalam kesehariannya secara gamblang menyebutkan memiliki kecintaan pada Aceh itu, telah menegasan komitmen dan kebulatan tekadnya perang melawan narkotika.

Aceh ini terlalu hebat untuk dirusak oleh narkoba, kata Irjen Pol Wahyu Widada, 17 Juli 2020 dihadapan jajaran Direktorat Narkoba Polda Aceh.

Saat pemusnahan 141 kilogram sabu pada Desember 2020, Wahyu kembali menegaskan komitmennya terhadap perang melawan Narkoba.

“Narkoba telah menjadi ancaman nyatan masyarakat Aceh, dan tugas kami adalah menyelamatkan generasi muda dari bahaya barang haram tersebut,” katanya kala itu.

Peredaran narkotika jenis sabu, di provinsi ini sangat marak. Letak Aceh yang strategis, membuat sindikat pengedar internasional, kerap menjadikan wilayah ini sebagai gerbang pintu masuk barang haram tersebut.

Baca juga : Penyelundupan 353 Kg Sabu dari Malaysia Dikendalikan Napi di Aceh

BNN Aceh sendiri menyebutkan, provinsi Aceh masuk peringkat enam daerah peredatan dan penyalagunaan narkoba. Dan berdasarkan hasil survei instansi tersebut yang bekerjasama dengan Universitas Indonesia pada 2019, tidak kurang 2,8 persen penduduk Aceh terlibat penyalagunaan narkotika.

Dalam survei yang sama pada 2017, Aceh masih menduduiki peringkat ke-12 dari 34 provinsi, dan dalam kurun waktu dua tahun saja, provinsi ini melejit menjadi rangking enam sebagai daerah tertinggi dalam penyalagunaan narkoba.

Laporan : Hendro Saky

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.