Rizki Fadhli dan bisnis makanan laut khas Lamno

POPULARITAS.COM – Aceh merupakan satu wilayah di Indonesia yang miliki panjang garis pantasi mencapai 2.666,3 KM. Kawasan Pantai barat dan Selatan di daerah itu, miliki potensi laut unggulan, selain ikan, migas, dan tentu saja khas makanan laut lainnya.

Kabupaten Aceh Jaya, satu dari beberapa wilayah di kawasan barat dan Selatan Aceh yang miliki potensi makanan laut yang besar, salah satunya adalah gurita.

Gurita merupakan binatang khas laut yang banyak hidup di perairan Aceh. Spesies hewan laut berdaging lunak, kelas chepalopoda atau kaki hewan terletak dikepala itu, habitab utamanya terumbu karang, dan perairan samudera.

Aceh Jaya yang berada pada garis Samudera Indonesia itu, merupakan habitat gurita, dan potensi tersebut ditangkap dengan baik oleh Rizki Fadhli.

Pemuda yang berasal dari Aceh Jaya itu, mengenalkan model gurita beku sebagai, dan menjualanya sebagai salah satu komoditas unggulan dari daerah asalanya tersebut.

Selama ini katanya, saat dihubungi popularitas.com, beberapa waktu lalu, gurita hanya dimanfaatkan dengan cara diolah menjadi produk kering, dan di asingkan dengan cara dijemur sinar matahari.

Potensi gurita di Aceh Jaya sendiri, setiap harinya bisa mencapai dua ton, dan ini tentu hal yang luar biasa jika digarap dengan baik, paparnya.

Sebab itu, sejak akhir 2019 silam, Rizki Fadli mulai serius menggarap potensi besar makanan laut itu. Berawal dari produksi terbatas, dan menawarkan dengan teman-temannya, kini bisnis gurita beku yang dilakoninya terus berkembang pesat.

Pada awal mulai bisnis tersebut, Rizki Fadli membeli bahan baku gurita itu dari para nelayan di kawasan Aceh Jaya. Setelah diolah, produk gurita dititip ke restoran dan warung mie yang ada di beberapa wilayah di Aceh.

“Jadi mereka bayar sesuai jumlah yang laku,” ujar Rizki Fadli.

Rizki Fadli juga menawarkan produk tersebut melalui media sosial, baik WhatsApp, Instagram, Facebook dan media sosial lain. Seiring berjalan waktu, Rizki Fadli terus memperbaiki konsep produk yang dijual tersebut.

“Awalnya gurita tersebut saya bawa ke teman-teman, tahap pertama dalam kap kue, sekarang sudah dalam toples, dari masukan teman-teman, konsep penjualan terus disempurnakan,” kata Rizki Fadli.

Dengan mengusung merek Gurito, yang merupakan akronim Gurita Lamno, kini bisnis Rizki Fadhli telah melebarkan sayap ke berbagai tempat.

Penamaan Merek Guritno sempat tuai pro dan kotrak, namun Ia kukuh mempertahankan nama itu, dan Alhamdulillah, kini nama Gurito telah terdaftar, ujarnya.

Guna memperkuat penetrasi pasar, dan memudahkan akses pemasaran, kini nama Gurito telah Ia daftarkan ke Kementrian Hukum dan HAM RI untuk terdaftar sebagai Hak atas kekayaan intelektual (HAKI). “Guritno hadir pada akhir tahun 2019 dan Alhamdulillah sudah kita patenkan pada tanggal 15 Februari 2020,” sebut Rizki Fadli.

Produk Guritno di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Foto: Instagram/@guritno.guritalamno

Ia menyampaikan bahwa pemberian nama Guritno adalah juga masukan dari teman-temannya, terutama mereka yang ngefans dengan Wulan Guritno, aktris keturunan Jawa Inggris. Penamaan ini sempat menuai pro dan kontra.

Kurang lebih satu tahun, Guritno mulai menampakkan hasil. Rizki Fadli kemudian membuka sebuah warung mie khas Aceh di kawasan Lamno, Aceh Jaya dengan nama “Warung Guritno” tepatnya pada tahun 2021.

“Alhamdulillah setahun nitip-nitip, ada kemudahan untuk buka warung di Lamno. Di situ mereka bisa makan mie, dan bawa pulang oleh-oleh gurita, mau di mana pun, mau di Jakarta bawa pulang oleh-oleh dengan gurita yang sama,” ucap Rizki Fadli.

Di awal-awal berdiri, Warung Guritno langsung menjadi destinasi wisata terutama pendatang yang melintasi barat selatan Aceh. Menikmati Guritno dengan pemandangan alam Aceh Jaya tentu menghadirkan sensasi tersendiri. “Alhamdulillah Guritno sudah menjadi destinasi wisata di Aceh dan Guritno sudah menjadi kuliner khas Aceh Jaya,” kata Rizki Fadli.

Guritno Bertahan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 merusak segala sektor, bukan hanya kesehatan, tetapi juga ekonomi. Guritno menjadi salah satu yang terdampak.

Rizki Fadli menjelaskan bahwa Covid-19 menyebabkan harga Guritno naik dari sebelumnya Rp25 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan ini akibat mahalnya bahan baku dari para nelayan yang sadar bahwa makanan laut ini laris manis di pasaran.

Kenaikan harga menyebabkan beberapa warung mie tak menerima lagi penitipan. Rizki Fadli kemudian mencari solusi lain, salah satunya menitip Guritno di warung-warung kelas atas menengah, terutama yang berada di Kota Banda Aceh.

“Pihak warung mie sebagian pun mengerti, bahwa bahan baku terjadi kenaikan, jadi ini tetap titip, tapi dengan harga yang agak tinggi karena bahan baku mahal, namun ada warung mie tidak lagi menerima titipan,” ujar Rizki Fadli.

Di samping penitipan, Rizki Fadli juga menyediakan jasa antar langsung ke para pelanggan. Cara ini dilakukan agar Guritno tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

“Saya tidak ada kerja lain, mau tidak mau harus cari solusi. Tetap saya antar produknya, kadang-kadang saya antar ke rumah-rumah orang, titip di pagar karena sedang Corona, kemudian diambil,” ujar Rizki Fadli.

Kini, Gurtino terus berkembang seiring usianya yang memasuki tahun ketiga. Rizki Fadli juga terus menjalin hubungan bisnis dengan pelanggan maupun reseller di beberapa daerah di Aceh. Di sisi lain, ekspansi juga terus dilakukan.

Bukan hanya di Aceh Jaya, Rizki Fadli kini juga membeli gurita dari nelayan di Aceh Besar, Banda Aceh dan beberapa wilayah lainnya di barat selatan Aceh.

Rizki Fadli bertekat Guritno bisa tembus pasar nasional, bahkan internasional. Sehingga suatu saat ini Guritno ikut andil mempromosikan daerah ujung barat Sumatra itu melalui kuliner. 

“Kini Guritno juga sudah mulai dibawa ke beberapa negara melalui jasa titip (jastip), jadi ada warga Aceh yang ke Mesir, Turki, Yaman, nanti dibawa, jadi bukan ekspor,” demikian Rizki Fadli. []

Comments
Loading...