Membendung Isu Miring Aroma Kopi Gayo

DALAM kurun waktu beberapa hari terakhir, isu tidak sedap berhembus dari dataran tinggi Gayo. Informasi tersebut terkait dengan penolakan sejumlah pembeli di Eropa, atas produk kopi Arabika dari daerah tersebut, sebab diduga mengandung zat kimia jenis glyphosate.

Zat kimia jenis ini, biasanya terdapat pada racun pestisida yang umumnya digunakan petani untuk menyemprot gulma atau rumput.

Ihwal ini awal mula dikabarkan oleh Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah. Dimuat belakangan pada salah satu surat kabar cetak di Aceh. Ketiara menyebutkan sudah tiga kali sample yang dikirim ke buyer Eropa ditolak. Alassnnya sample kopi itu mengandung zat glyphosate.

Pengalaman Rahmah ini tentu belum mewakili seluruh petani kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bisa saja sample yang dikirimkan oleh mereka, merupakan sebagian kecil dari populasi petani dari dataran tinggi Gayo.

Namun, isu itu telah merugikan petani Gayo secara keseluruhan. Sebab, jika benar, sample kopi arabika Gayo yang dikirimkan pihak koperasi itu telah dinyatakan mengadung racun jenis glyphosate, maka hal itu tidak mewakili seluruh kopi yang ada di Gayo.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua DPR Aceh, Hendra Budian yang juga legislator dari daerah pemilihan Aceh Tengah dan Bener Meriah, justru mempertanyakan klaim dari pihak Koperasi Ketiara.

Ia mempertanyakan apakah yang ditolak tersebut secara keseluruhan, atau hanya komoditi milik PT Ketiara saja?

Sebab sampai saat ini belum ada hasil uji laboratorium tentang hal itu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Hendra bahkan berharap kepada semua pihak tidak membesarkan isu tersebut, yang bisa berdampak pada petani kopi di Gayo. Selain itu, perlu investigasi terkait buyer dan pihak-pihak yang menolak kopi Arabika Gayo tersebut.

Di Gayo terdapat 75 ribu kepala keluarga bergantung hidup dari komoditas kopi. Jika isu ini tersebar tanpa ada penelitian mendalam, dapat berakibat negatif pada mereka. Apalagi jika isu tersebut meluas ke mancanegara. Pihak buyer dapat mengambil kesempatan dengan menurunkan harga kopi Gayo di pasar. Lebih parah jika biji kopi Gayo tak lagi diminati.

Saat ini, pihak Balai Proteksi Tanaman dari Kementrian Pertanian RI bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distabun) Aceh, telah turun ke lapangan. Mereka melakukan penelitian dan uji sampling atas isu kopi Gayo mengandung zat kimia.

A Hanan selaku Kadis Pertanian dan Perkebunan bahkan mengaku telah melaporkan hal tersebut kepada pihak Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Kementrian Pertanian RI. A Hanan juga telah melaporkan hal ini kepada Atase Pertanian RI di Brussel. Harapannya agar mereka dapat meng-counter isu tersebut.

Uji sampling yang dilakukan Tim Kementan RI akhirnya menjadi harapan bagi semua pihak. Terutama bagi mereka para petani kopi di dataran tinggi Gayo. Hasil penelitian juga perlu disampaikan secara luas ke publik.

Ini penting, agar isu dan informasi yang beredar dapat segera diluruskan. Dan tentu saja, Pemerintah Aceh melalui atase perdagangan RI di Eropa, harus segera melakukan pertemuan. Berikan klarifikasi atas persoalan yang ada hingga ke Uni Eropa.

Dengan demikian, isu miring kopi Gayo mengandung zat kimia dapat segara diatasi. Agar aroma kopi Gayo tetap wangi, seperti yang selama ini telah dikenal di seluruh penjuru dunia.* (RED)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat