Dinobatkan Pahlawan Nasional, Makam Keumalahayati Dibenah

BANDA ACEH – Memperingati hari Pahlawan Nasional 10 November 2017, makam Laksamana Keumalahayati kini tampil lebih bagus usai direnovasi paska dinobatkan sebagai tokoh Pahlawan Nasional oleh presiden Joko Widodo, Kamis (09/11/2017) kemarin di Istana Negara.

Baca : Sah, Laksamana Malahayati Jadi Pahlawan Nasional

Kondisi bangunan sekitaran makam kini telah dicat ulang berwarna putih divariasi dengan warna coklat. Di atas bukit Gampong Lamreh, Aceh Besar. Makam Laksamana Keumalahayati berdiri kokoh. Panorama bukit barisan menghiasi perkarangan makam bagaikan taman bagi almarhumah.

Kondisi makam tampak ditutupi oleh pepohonan rindang. Kicauan suara burung akan menyambut Anda saat berkunjung ke sana.

Makam Keumalahayati, terletak di Gampong Lamreh, Krung Raya, Aceh Besar. Tepatnya di  kawasan pelabuhan Keumalahayati dan pabrik Semen Padang. Untuk menuju ke sana menempuh jarak sekitar satu  jam perjalanan dari pusat ibu kota Banda Aceh.

Setiba di sana dari pemukiman warga, para pengunjung harus menaiki seratusan anak tangga untuk menuju ke makam. Arsitekur bangunan makam berbentuk segi empat, pinggirannya terpasang keramik hingga ke tiang bangunan. Makam Keumalahayati terdapat enam batu nisan berwarna putih, tiga berada di sisi kepala dan tiga di kaki.

Papan bertuliskan “Situs Cagar Budaya Makam Laksamana Malahayati” terpasang di areal depan makam. Di belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dibuat untuk para penziarah atau pengunjung beristirahat.

Salah seorang pengunjung, Randi mengatakan, kawasan areal makam saat ini tampil lebih bagus dan bersih. Sebelumnya kondisi makam seperti kurang dijaga.

“Kondisi makam dulu sedikit kurang bersih dan warna bangunannya pun sudah pudar.Semoga kondisi seperti sekarang ini bisa terus dijaga bukan hanya karena moment ini saja,” katanya.

Dikisahkan Keumalahayati diangkat oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil untuk mengantikan posisinya sebagai panglima Armada Selat Malaka. Atas persetujuan Sultan Al Mukammil, ia kemudian memimpin perjuangan dan pergerakan dibantu pasukan Inong Balee (Janda). Armada Inong Balee berkekuatan 1000 orang membangun kekuatan militernya di Bukit Krung Rayeuk sebaigai benteng pertahanan.

Kepemimpinan Keumalahayatii saat itu sukses menjatuhkan dua kapal Belanda yang dipimpin dua bersaudara Coernelis de Houtman dan Federick de Houtman. Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditahan dan dijebloskan ke tahanan Kerajaan Aceh.  Peristiwa itu menjadi saksi bagaimana kekuatan sosok panglima laut yang dipimpin oleh seorang wanita.[acl]

Penulis : Zuhri Noviandi

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.