Waspada Lonjakan drastis covid-19 di Aceh

TERHITUNG Kamis, 24 Juni 2020 kasus positif covid-19 di Aceh, mengalami lonjakan drastis, dan dari catatan yang disampaikan oleh Saifullah Abdulgani, Juru bicara gugus tugas Covid-19 provinsi ujung barat Sumatera ini, telah terjadi 53 kasus. Atau ,meningkat 125 persen, jika kita bandingkan tanggal 23 Mei 2020, hanya terjadi 19 kasus.

Merujuk data tersebut, dalam kurun waktu satu bulan, yakni sejak 23 Mei hingga 24 Juni 2020, terjadi penambahan kasus positif covid-19 di Aceh sebanyak 34 orang, atau sebesar 132 persen, dari posisi bulan lalu. Dan melihat kondisi yang ada, bukan tidak mungkin akan terus terjadi penambahan kasus positif di provinsi ini.

Masih menurut SAG, sapaan karib Saifullah Abdulgani, dari 53 kasus positif covid-19, 20 orang dinyatakan sembuh, 31 dirawat intensif, dan 1 orang dinyatakan meninggal dunia.

Lonjakan kasus paparan covid-19 yang terjadi di provinsi ini, tentu harus menjadi perhatian kita semua, bahwa, corona masih menjadi ancaman serius, yang sewaktu-waktu dapat menginfeksi siapa saja jika abai terhadap protokol kesehatan.

Yang menariknya kemudian, lonjakan kasus covid-19 di Aceh, dibarengi dengan klaster baru, yakni terjadinya local transmission atau transmisi lokal pada klaster Kota Lhokseumawe, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh. Padahal, satu bulan lalu, nyaris tidak ditemui kasus transmisi lokal, sebab dari 19 pasien yang terpapar bulan lalu tertular lewat imported case, atau terpapar dari daerah diluar Aceh.

Menyikapi lonjakan kasus itu, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, melakukan gerak cepat, yakni dengan opsi melakukan penyekatan jalur masuk ke Aceh dari provinsi Sumatera Utara. Dalam wawancara dengan TV One, pada acara Apa Kabar Indonesia, Nova Iriansyah menuturkan, lonjakan kasus setidaknya terjadi sebab kebijakan pelonggaran perbatasan. Ia menyebutkan, sejak April dan Mei, berbagai langkah pencegahan dan pembatasan sosial yang dilakukan, mampu mencegah penyebarluasan covid-19. Dan terutama sejak diberlakukan penutupan empat jalur masuk dari Sumatera Utara ke provinsi ini.

“Kita akan pertimbangkan opsi penutupan kembali jalur masuk tersebut, atau pilihan, memperketat prosedur pintu masuk ke Aceh dari provinsi lain,” ujarnya.

Kewaspadaan tinggi, semestinya juga harus menjadi perhatian kita semua sebagai warga di provinsi ini. Disadari, pergerakan ekonomi masyarakat harus tetap jalan, namun, pilihan untuk tetap mengikuti protokol kesehatan harus tetap menjadi prioritas.

Untuk sementara waktu, jika bukan satu kebutuhan penting yang sifatnya mendesak, hindari berpergian ke zona merah, seperti Medan, Jakarta, dan provinsi lainnya. Dan jikapun harus pergi, upayakan untuk menyiapkan diri sebaik mungkin, yakni dengan tetap mengikuti protokol dan anjuran dari pemerintah.

Siapapun, sangat berpotensi terpapar covid-19. Dan terhindar dari virus mematikan itu adalah tugas dan tanggungjawab setiap orang, yakni dengan tidak abai pada protokol kesehatan, dengan cara selalu gunakan masker kemanapun pergi, membawa pembersih tangan atau hand sanitizer, dan mencuci tangan setiap menyentuh fasilitas publik, dan atau berada di pusat keramaian.

Covid-19 akan tetap menjadi ancaman nyata. Di era new normal saat ini, terhindar dari corona virus yang belum ditemukan vaksinnya tersebut, merupakan tugas dan tanggungjawab setiap individu. Dan caranya, tetap patuh pada protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah. Semoga, kepatuhan warga terhadap amaran tersebut, dapat menekan laju penambahan kasus covid-19 di provinsi yang kita cintai bersama ini, sembari kita terus memanjatkan doa, agar Aceh senantiasa Allah jaga dari virus ini. (RED)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat