OPINI: Tugas Mahasiswa Sudah Kelewatan Batas

Virus corona menjadi momok bagi semua orang di dunia. Bahkan masyarakat yang ada di pelosok pun ikut siaga dalam menghindari pandemi ini. Akibat adanya virus ini telah mengubah hampir semua kegiatan yamg biasa dilakukan sehari-hari.

Pekerja harian yang sumber penghasilan di jalanan kelompok paling berdampak saat ini, mereka tidak mendapatkan penghasilan. Selain itu dampaknya juga dirasakan oleh mahasiswa.

Kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berdasarkan surat edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud, merupakan kebijakan yang besar dan sangat berpengaruh untuk para pelajar/mahasiswa.

Perkuliahan secara daring sangat membebani bagi sebagian besar mahasiswa. Tugas yang diberikan sudah melebihi kapasitas dari perkuliahan biasa yang dilakukan secara tatap muka.

Entah apa yang ada di pikiran dosen atau pengajar. Tugas yang diberikan memang sudah kelewatan batas. Ketakutan dosen yang menganggap  mahasiswanya tidak  membaca materi yang diberikan sangat berlebihan.

Sehingga menjadikan tugas adalah jalan keluar agar mahasiswa tetap membaca materi yang diberikan. Alih-alih fokus, mahasiswa malah stress dengan tugas yang bahkan pengerjaannya tidak hanya membutuhkan waktu dalam semalam.

Sistem belajar secara daring  yang dilakukan dua minggu pertama cukup membuat lelah dibandingkan dengan perkuliahan secara tatap  muka. Sistem daring menuntut mahasiswa untuk tetap fokus ke layar HP/laptop untuk memperhatikan penjelasan dari dosen.

Belajar tatap muka saja sudah pusing, apalagi dengan daring. Kegiatan perkuliahan daring mewajibkan mahasiswa harus tetap berada di depan ponsel mereka.

Walau bukan termasuk waktu mengajar dosen, tetapi tetap saja dosen memberikan perintah tugas yang harus dikumpul keesokan harinya. Padahal tidak semua mahasiswa ada di depan ponsel 24 jam. Bukannya makin pintar, bisa jadi saat kembali ke kampus semua mahasiswa sudah bermata empat.

Banyak cara dosen untuk  menyampaikan materi. Mulai dari google classroom, goole meeting, hingga aplikasi zoom cloudmeeting yang menghabiskan paket data lumayan banyak dari aplikasi lainnya.

Tetapi jika tidak menuruti perintah dosen, mahasiswa bisa apa? Tidak salah memang dosen memiliki cara mengajar yang mereka pilih. Mahasiswa akan lebih paham jika materi diberikan dengan penjelasan.

Kembali lagi, paket data menjadi masalah terbesar yang ada untuk mahasiswa. Tugas yang diberikan pun banyak yang menuntut mahasiswa untuk menonton youtube, mendownload jurnal, dan lain sebagainya.

Mahasiswa yang biasanya sengaja pergi ke kampus untuk mendapatkan wifi agar paket data tidak cepat habis, kali ini malah harus memakai paket data sendiri untuk semuanya. Sudah kebayang bagaimana pusingnya menjadi mahasiswa.

Tidak semua dosen memang yang memberikan tugas memberatkan untuk mahasiswa. Tetapi jika ada satu dosen yang terus menerus memberikan tugas, semua dosen pasti kena imbasnya di mata mahasiswa.

Ada dosen yang memang hanya memberikan tugas di setiap jam kuliah hanya untuk memastikan bahwa mahasiswanya hadir. Paham atau tidak materi yang diberikan, itu urusan belakangan. bagi mahasiswa, yang terpenting adalah kumpul tugas daripada yang lain.

Orang tua di rumah pun sampai heran, “apasih yang dilakukan anak ini di kamar? dari pagi enggak keluar-keluar”. Tidak tahu saja orang tua kalau anaknya sudah matian-matian mengerjakan tugas.

Belum lagi mahasiswa meminta uang lagi untuk membeli paket data yang seharusnya jatah untuk sebulan, eh hanya terpakai untuk dua minggu. Habislah mahasiswa serba salah di mata orang tua dan dosen.

Lantas harus apa lagi? Memang sudah kewajiban mahasiswa sebenarnya menjalankan tugas sebagai penuntut ilmu dan menanggung resikonya. Tapi apa tidak ada jalan lain untuk paket data?

Tidak semua daerah tempat tinggal  mahasiswa memiliki akses internet yang baik. Bagi yang tinggal di daerah terpencil, sinyal internet sangatlah susah untuk didapatkan.

Belum lagi tidak semua provider ada sinyal di beberapa daerah. Jika ada kuis online yang hanya memberikan waktu 5 menit, dan ternyata saat itu jaringan hilang, habislah mahasiswa. Nilai A yang diharapkan langsung hilang karena kesalahan jaringan internet di kampung. Lalu, yang pantas disalahkan siapa? ya jelas, lagi, lagi salah mahasiswa.

Ada beberapa kampus yang sudah membagikan pulsa secara gratis untuk mahasiswanya. Seperti dikutip dari salah satu akun twitter cyber. “FH UGM memberikan pulsa gratis kepada mahasiswa kurang mampu untuk meringankan beban mereka dalam mengikuti perkuliahan online”.

Hal tersebut jelas membuat iri seluruh mahasiswa yang tidak diberikan pulsa gratis untuk mahasiswanya. Tapi yakin saja bahwa semua ini pasti ada jalan keluarnya. banyak-banyak berdoa saja..

Beberapa hari yang lalu akun twitter resmi Unsyiah memerintahkan mahasiswa agar memasukkan ulang nomor telepon yang aktif saat ini. Di kolom komentar juga banyak yang mengatakan bahwa mahasiswa akan dikirimkan pulsa secara gratis.

Tetapi pihak Unsyiah belum mengkonfirmasi akan mengirimkan pulsa gratis kepada mahasiswanya. Sebagaian dosen juga mengirimkan informasi itu ke WAG jurusan masing-masing dengan pesan, “jangan lupa diisi, mana tau dapat pulsa gratis”.

Mahasiswa langsung bersemangat untuk mengupdate nomor telepon aktif di laman KRS online. Siapa sih yang tidak mau pulsa gratis? Tetapi, seperti main kucing-kucing sabun. Pihak humas unsyiah tetap saja merahasiakan apa tujuan dari perintah mengupdate nomor telepon aktif di laman KRS online.

Penulis:

Defrika Afristi. Mahasiswa Statistika 2018 Universitas Syiah Kuala

Email: defrikaaf@gmail.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat