Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Aceh Gembok Pertamina

POPULARITAS.COM – Puluhan mahasiswa Aceh yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pembela Rakyat (AMPER) menggembok pintu pagar Pertamina Aceh pada saat menggelar aksi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Rabu (28/3/2018) di Banda Aceh.

Mahasiswa yang tergabung dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh pertama kali melakukan orasi di Simpang Lima Banda Aceh. Mereka juga membawa sejumlah poster dan spanduk menolak kebijakan kenaikan harga BBM, termasuk terjadi kelangkaan BBM jenis premium di Aceh.

Setelah berorasi secara bergantian selama 30 menit. Peserta aksi dikawal ketat pihak kepolisian langsung mendorong sepeda motor menuju kantor Pertamina, jarak sekitar 300 meter dari titik aksi pertama. Setelah semua sepeda motor mereka parkir depan pintu masuk kantor Pertamina, peserta aksi berjalan kaki menuju kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Sampai di depan pintu masuk gedung dewan. Peserta aksi sempat tertahan, karena pintu pagar tertutup rapat. Setelah menunggu sekitar 15 menit, peserta aksi diperbolehkan masuk dan langsung berkumpul di tiang bendera di bawah tarik matahari.

Sedangkan di teras gedung paripurna DPRA yang rindang sudah menunggu dua anggota dewan yaitu, Ketua Fraksi Golkar, Zuliat Suparjo dan Ketua Fraksi Gerindra dan PKS Abdurrahman Ahmad.

Berselang beberapa menit kemudian, peserta aksi meminta kedua anggota dewan ini untuk menjumpai mereka di terik matahari. Keduanya pun langsung menuju tiang bendera dan menyambut kedatangan peserta aksi.

Setelah berorasi dan menandatanganan petisi menolak kenaikan harga BBM dan dikembalikannya premium ke pasar. Peserta aksi juga meminta kesediaan kedua anggota dewan tersebut menandatanganinya. Keduanya langsung menandatanganinya di atas sehelai spanduk panjang sekitar 3 meter.

Peserta aksi kembali berorasi selama sekitar 1 jam. Setelah itu, semua peserta aksi diminta untuk kembali ke kantor Pertamina. Sampai di kantor Pertamina sekitar 100 meter dari gedung DPRA dengan berjalan kaki. Peserta aksi meminta untuk bertemu dengan pimpinan Pertamina. Akan tetapi, hanya ditemui oleh beberapa karyawan Pertamina didampingi oleh pihak kepolisian.

Peserta aksi sempat sedikit memanas. Awalnya peserta aksi hendak masuk dan berdiskusi dengan pimpinan Pertamina. Sedikit dorongan pun terjadi, namun Koordinator Aksi, Alfian Rinaldi berhasil meredam amarah rekan-rekannya.

Sehingga peserta aksi pun langsung memasang spanduk di pintu pagar kantor Pertamina. Setelah itu, peserta aksi  mengambil rantai dan menggembok pintu pagar kantor Pertamina. Ini dilakukan bentuk kekecewaan mahasiswa Aceh atas kenaikan harga BBM selama ini dibawah rezim Presiden Joko Widodo.

“Kita gembok sebagai bentuk protes kita terjadinya kenaikan harga BBM di Indonesia,” kata Alfian Rinaldi.

Alfian mengaku, kenaikan harga BBM pada rezim pemerintahan sekarang dilakukan secara diam-diam. Padahal Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan berjanji tidak akan menaikkan harga tarif dasar listrik dan harga BBM.

“Nyatanya harga Pertalite terus naik, baru-baru ini kembali naik Rp 200 per liter, bagi rakyat kecil ini sangat berat,” jelasnya.

Alfian kembali tegaskan, sementar itu di bawah rezim pemerintahan Joko Widodo, keberadaan BBM premium juga terjadi kelangkaan. Sehingga telah membuat rakyat miskin menderita dan berpengaruh terhadap perekonomian rakyat kecil.

“Kenaikan BBM berdampak buruk dipelbagai sektor perekonomian. Berimbas terjadinya kenaikan harga barang dan lainnya,” ungkapnya.

Alfian juga menyoroti kenaikan harga BBM selama ini dilakukan secara diam-diam. Tanpa terlebih dahulu diumumkan secara terbuka kepada publik. Padahal berdasarkan Undang-Undang  Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, setiap warga negera berhak mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik.

“Kalau begini terlihat pemerintahan sekarang terkesan otoriter,” tukasnya.

Oleh karena itu, AMPERA menolak dan meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan kembali kenaikan harga BBM. Termasuk menyediakan kembali BBM Premiuam, yang selama ini terjadi kelangkaan di pasar.

“Kami juga meminta agar mengusahakan kesediaan kembali BBM jenis premium dan kembalikan subsidi BBM untuk rakyat kecil,” pintanya.

Sementara itu Ketua Fraksi Golkar, Zuriat Suparjo dan Ketua Fraksi Gerinda/PKS Abdurrahman Ahmad mengaku akan menyampaikan usulan ini kepada pimpinan. Nantinya akan dibawa ke Badan Musyawarah (Banmus) untuk membahas langkah kebijakan soal kebaikan harga BBM.

“Akan kami sampaikan kepada pimpinan semua tuntutan ini. Karena memang kenaikan harga BBM telah berpengaruh terhadap perekonomian rakyat,” ungkap Zuriat Suparjo.

Sedangkan Abdurrahman Ahmad mengaku, partainya menolak kenaikan harga BBM. “Fraksi kami siap menolak kenaikan harga BBM,” tutupnya.[acl]

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.