Teriakan Nurul Masih Tergiang Hingga Sekarang

Refleksi 16 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh

Ipah… tolong Nurul, Ipah tolong Nurul … tolong. tolooong….!

Teriakan itu masih tergiang di benak Syariah Rahmatillah, meski tragedi gempa dan tsunami 16 tahun sudah berlalu. Kalimat itu juga terakhir diucapkan Nurul Fadhilah, setelah itu hilang tanpa jejak.

Nurul bersama sejumlah warga lainnya sempat lari dari arah Punge, Taman Siswa Merduati dan Lampaseh. Namun naasnya Nurul terjatuh dan sempat terinjak-injak ramai orang yang hendak menyelamatkan diri dari terjangan air laut yang mengalir deras ke daratan.

Ipah sapaan akrap Syarifah Rahmatillah, dosen Fakultas Syariah UIN Ar-raniry Banda Aceh mengaku, itulah kalimat terakhir Nurul Fadhilah yang masih membelenggu hatinya untuk bersilahturahmi ke keluarga Nurul, meski sudah 16 tahun bencana maha dahsyat gempa tsunami Aceh.

Waktu menunjukan pukul 7.30 WIB usai gempa berkekuatan 8.9 SR. Ipah dan Nurul bergegas menuju Radio Baiturrahman yang berada di komplek MUI Lampaseh Aceh.

Sebelum sampai ke studio mereka sempat melihat -lihat bangunan yang runtuh di sepanjang jalan dari Rukoh, Darussalam menuju pusat kota Banda Aceh.

Saat itu ia melihat beberapa warga mulai berlarian sembil berteriak air naik, dengan tanpa alas kaki dan baju basah. Namun mereka tak menghiraukannya, hanya berfikir air pasang saja, terus saja melajukan motornya ke Studio Radio Baiturrahman yang menjadi tujuan mereka.

Sesampai di halaman radio, seorang bapak-bapak menyapa dan menanyakaan mau kemana. Mereka berdua menjawa hendak ke radio. Saran bapak itu, sebaiknya tidak usah masuk takutnya ada gempa susulan nanti dan meminta untuk pulang ke rumah.

Saat hendak masuk ke studio radio, mereka mendengar suara ledakan yang sangat keras selama tiga kali, “suara apa itu pah? Jangan-jangan ada alien yang turun kemari, yok kita lihat,” ucap Nurul kepada Ipah saat itu.

Kedua sahabat itu bergegas untuk melihat suara ledakan dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke studio radio. Terlihat warga sudah berlarian dalam keadaan panik, ada yang memakai sarung, memakai handuk, baju tidur nyaris tanpa alas kaki, bahkan sebagian warga pakaiannya sudah basah dan berlumpur.

Kemacetan mulai terjadi saat itu, sepeda motor dan mobil terus melaju menerobos dan menabrak warga hingga jatuh saat dan tergilas saat berlarian.

Melihat orang-orang pada berhamburan ke jalan. Ia dan Nurul ikut juga berlarian sambil berpegang tangan. Namun saat desak-desakan itu Nurul terjatuh dan terlepas dari pegangan tangan Ipah.

Saat itu Ipah panik dan mutar balik untuk mencari Nurul, sembari memanggil Namanya. Saat itu, Ia juga mendengar sahabtnya meminta tolong berkali-kali, ia mulai panik mencari Nurul, dan tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang bapak dan menuntunnya keluar dari jalan Rama Setia dan memintanya untuk lari.

Seketika itu juga, dosen Ilmu Hukum Islam ini melihat air hitam pekat berdiri setinggi empat meter seakan-akan mulut air siap menerkam mangsanya. Ia melompat pagar Dinas Kebersihan Kota Banda Aceh (dulu masih di jalan kawasan Merduati dekat SD Muhammadiyah-red) untuk menyelamatkan diri.

Celana yang pakai tersangkut dan sobek di bagian lutut hingga merobek daging lututnya, darah bercucuran tak dihiraukannya, bahkan tak ada rasa sakit saat itu dan air hitam tersebut memangsanya.

Tiga jam lebih ia berada dalam gulungan tsunami, hantaman demi hantaman beton, kayu dan seng ia rasakan selama berjam-jam dalam air.

Setelah berjuang berjam-jam dalam air tsunami tsersubut, ia diselamatkan oleh tamu hotel Vavilium Seulawah yang berada di atas atap hotel, saat itu tubuhnya terbawa air ke depan Vavilium Seulawah (Grand Arabia -red) depan lapangan Blang Padang. Kondisi pakaian Ipah masih utuh lengkap dengan jilbab yang masih rapi di tubuhnya, saat itu ada balita berumur 2 tahun yang memeluk erat kakinya.

Anak lelaki itu ia dekap dan diselimuti dengan jilbabnya guna menghangatkan tubuh anak itu. Jelang sore airpun mulai surut, namun ia mulai merasakan sakit, tubuhnya tak bisa ia gerakkan.

Tapi ia paksakan untuk turun dari atap hotel dan menyusuri jalan di Blang Padang menuju Taman Budaya dengan melewati tumpukan kayu, bangunan runtuh dan tumpukan mayat yang mulai gembung dan bau busuk.

Bayi yang terselamtkan bersamanya di atas atap hotel ia titipkan kepada karyawan Hotel Vavilium Seulawah. Hingga saat ini ia tidak tau lagi bagaimana nasib anak itu. Itu menjadi penyesalan kedua baginya, kenapa ia tidak bawa serta anak tersebut saat itu.

Dari taman Budaya ia berjalan kaki ke Darussalam untuk melihat kosnya sembari menyusuri jalan besar untuk mencari sahabatnya Nurul yang terjatuh dan hilang saat menyelamatkan diri.

Pada hari ke tiga  setelah tsunami, Penyiar Radio Baiturrahman yang memiliki nama sapaan Fahilla Kamarudzaman itu tanpa diduga bertemu dengan Walednya (Ayah Kandungnya) yang datang dari Jakarta untuk mencari jenazahnya.

Dua helai kain batik panjang telah disiapkan sang Ayah untuk membungkus tubuh kakunya kelak untuk dibawa pulang ke Aceh Timur. Setiap tempat yang disusuri sang Ayah untuk mencarinya sembari memperlihatkan fotonya, semua mengatakan mengenalnya sebagai mahasiswa yang aktif di kampus dan mengatakan jenazahnya sudah dibawa untuk dikebumikan secara masal. Saat itu hati sang ayah remuk dan ikhal akan nasib putrinya.

Saat melihat anaknya masih hidup, tangis sang waled-pun pecah seketika sembari meringkuh putri kecilnya dalam pelukan, serasa dadanya ingin meledak saat melihat putrinya masih wujud dengan fisik yang lengkap.

Hal serupa juga dirasakan Ipah, rasa sakit di tubuhnya karena hantaman benda keras saat dibawa tsunami hilang seketika. Ke esokan harinya ia dibawa pulang ke Aceh Timur di kampung neneknya, dan menjalani perawatan di RS Pringadi Medan, di sanalah ia baru mengetahui jika ada tiga ruas tulang belakangnya bergeser dan cedera di lutut.

Setelah menjalani perawatan di kampung halamannya Aceh Timur, tepat sepekan tsunami, ia kembali ke Banda Aceh untuk kembali menjalani aktifitasnya sebagai penyiar dengan bergabung di Radio Suara Aceh, yang merupakan radio darurat, dengan kondisinya yang masih trauma dan terluka karena kehilangan sahabat.

Ia memaksa dirinya dengan untuk bangkit, menjadi penyiar menjadi hiburan tersendiri baginya. Sehingga ia dipercayakan oleh InterNews menjadi pendongeng di radio.

Setiap rekaman dongengnya direkam dan diputar di sekolah-sekolah darurat sebagai upaya trauma hiling bagi anak-anak korban tsunami. Prestasi demi prestasi mulai ia raih, salah satunya menjadi juara dua dongeng tingkat Nasional pada hari ualang tahun KOMPAS, membawa pulang ratusan buku cerita yang dibagikan untuk anak-anak korban tsunami di Aceh.

Hari demi hari kondinya mulai membaik, dan ia pun menjadi relawan di beberapa NGO yang membantu rehap-rekon Aceh pasca tsunami. Hinga ia menyelesaikan studi masternya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ( UII) Jogja Karta, kini ia menjadi dosen tetap di kampus UIN Ar-raniry Fakultas Syariah.

Cerita kelam tsunami yang dialaminya kini ia bagikan untuk anak-anaknya sebagai edukasi bagi mereka bahwa tsunami itu nyata adanya, dan bagaimana mereka bisa mengantisipasi jika bencana itu datang lagi.

Namun ia tak pernah bisa bercerita detail peristiwa tersebut, karena mengingatkan ia akan sahabatnya dan rasa sakit saat digulung ombak tsunami.

Setelah 16 tahun berlalu, ia mmasih belum punya keberanian untuk menemui keluarga Sahabatnya Alm. Nurul Fadhilah. Rasa bersalah masih menghatui pikirannya serta membelenggu kakiknya untuk melangkah dan bersilahturahmi ke keluarga tersebut. []

Editor: Acal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.