Iklan pemutihan kendaraan – Pemerintah Aceh

Tak Perlu Lockdown, Warga Harus Disiplin

Menangkal COVID-19

BANDA ACEH (popularitas.com) – Mobil truk bertuliskan Satpol PP-WH Banda Aceh berhenti di setiap warung kopi (Warkop) di Banda Aceh. Derap langkah sepatu personel gabungan membuat pengunjung melongok ke arah luar.

Malam itu, Minggu (22/3/2020) jarum jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Warkop dan café tampak masih ramai pengunjung. Sepeda motor masih terparkir rapi.

Pengunjung masih asyik nongkrong sembari bercengkrama bersama rekannya. Tanpa ada jarak, meskipun ada imbauan pembatasan sosial (social distancing) oleh pemerintah. Sebagai bentuk strategi menangkal COVID-19 yang sudah menjadi pandemi global.

“Kita terbagi empat tim, ini kami tim tiga keliling mengimbau agar warkop tutup sementara,” kata Kasatpol PP-WH Banda Aceh, Muhammad Hidayat.

Kendati Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya menganjurkan menggunakan frasa physical distancing yang berarti “menjaga jarak fisik” dari pada penggunaan kalimat social distancing (menjaga jarak sosial).

Perubahan ini dinilai WHO agar masyarakat tetap terhubung melalu media sosial. Yang harus dilakukan menangkal COVID-19 adalah menjaga jarak fisik dari pada jarak sosial.

Gagasan ini disampaikan WHO untuk menjernihkan warga tetap berada di rumah, menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit itu tidak menyebar. Artinya masyarakat tetap perlu interaksi sosial, terutama memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial.

Warkop merupakan ruang publik banyak terdapat kontak fisik secara langsung, karena menjadi titik berkumpul banyak orang yang tidak saling mengenal dan berasal dari mana. Kontak fisik inilah diminta agar dikurangi untuk menangkal COVID-19 di Aceh.

***

Truk dipenuhi personel gabungan, sepeda motor jenis trail mengikuti di belakang. Dari Balai Kota Banda Aceh, personel gabungan ini langsung menuju kawasan Ulee Kareng. Daerah padat pengunjung, baik siang maupun malam.

Warkop juga banyak terdapat di sana. Seperti Solong yang setiap saat dipenuhi penikmat kopi sareng Ulee Kareng. Setiap detik selalu dipenuhi pelanggan. Begitu juga Warkop Sewu, tak kalah banyak orang nongkrong hanya sekedar berkumpul dan menikmati secangkir kopi.

Regu empat Satpol PP-WH Banda Aceh bersama TNI/Polri langsung menuju Ulee Kareng. Satu persatu petugas mendatangi warung kopi dan cafe untuk memberikan arahan penutupan sementara. Permintaan ini guna mencegah penyebaran virus corona di Banda Aceh.

Pemilik warkop dan café diberi pemahaman ikhwal penutupan sementara. Para pemilik usaha tampak tak ada yang keberatan. Sebagian langsung menutup usahanya. Meskipun ada juga sebagian warung kopi masih tetap buka, pengunjung belum beranjak.

Pengunjung yang masih berada di lokasi juga diminta untuk segera kembali ke rumah masing-masing. Tetap berada di kediamannya untuk menangkal penyebaran COVID-19 di Banda Aceh.

Pemberlakuan physical distancing di Aceh sudah diberlakukan sejak 16 Maret 2020 lalu. Seluruh sekolah semua tingkatan telah diliburkan, pembelajaran dilakukan secara daring.

Begitu juga pembatasan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebagian dari mereka diminta untuk bekerja dari rumah, lebih dikenal Work From Home (WFH).

Ini bagian dari upaya Pemerintah Aceh menangkal penyebaran COVID-19 yang sudah ditetapkan pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia satu di antara Negara di dunia yang sudah ditetapkan bencana nasional.

Pemberlakuan physical distancing menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Safrizal Rahman efektif bila warga disiplin, mematuhi imbauan pemerintah. Semua tetap berada di rumah hingga ada pemberitahuan kembali dari pemerintah.

Libur 14 hari yang ditetapkan pemerintah itu sangat penting. Karena waktu tersebut dianggap masa inkubasi terlama virus corona. Bila dalam rentang waktu tidak ada yang terjangkit. Artinya tidak ada virus corona. Sehingga di daerah tersebut aman dari COVID-19.

Kendati tidak ada jaminan, karena bisa saja virus itu dibawa oleh orang yang baru kembali dari daerah terinfeksi. Yang harus dilakukan, pemerintah harus terus waspada untuk pencegahan, warga disiplin mematuhi imbauan tidak berada di tempat umum sementara waktu.

Tujuan dari physical distancing itu untuk mengurangi angka penularan. Bila tidak dilakukan pembatasan kontak fisik, Safrizal mengaku dikhawatirkan angka tertular dapat mewabah di suatu daerah.

Indonesia sekarang memang belum ditetapkan karantina kawasan atau lockdown. Ini merupakan salah satu bentuk strategi physical distancing secara ekstrem. Beberapa Negara sudah mulai menerapkannya, salah satunya Negara tetangga Malaysia.

Menghadapi pandemi COVID-19, berbagai Negara telah memberlakukan physical distancing, bagian dari upaya menangkal penyebaran lebih cepat. Strategi tersebut merujuk dari anjuran WHO, di Negara yang sudah terdapat virus corona agar segera menerapkan strategi pembatasan kontak fisik.

Warga diminta untuk mengurangi kontak fisik guna memperlambat penyebaran. Seperti kebijakan yang diambil oleh Korea Selatan tanpa memberlakukan lockdown. Tetapi hanya physical distancing dan disambut baik oleh warganya.

Semua penduduk Korea Selatan patuh tetap berada di rumah masing-masing. Mereka tetap berada di rumah masing-masing dan tidak melakukan kontak fisik semenjak diberlakukan physical distancing.

Dikutip dari tirto.id, kasus COVID-19 di Korea Selatan mencapai 8.625 orang data Jumat (20/3/2020) pukul 15.43 WIB. Data tersebut berasal dari Map CSSE Johns Hopkins.
Dari jumlah kasus corona tersebut, sebanyak 1.540 telah dinyatakan sembuh dan jumlah kasus kematian sebanyak 94 orang. Korea menjadi salah satu negara dengan penemuan kasus Covid-19 terbayak di dunia.

Sebelumnya pada 12 Februari 2020, kasus di Korea Selatan hanya 28 yang positif corona. Namun terjadi lonjakan tajam mulai 20 Februari usai seorang wanita di Daegu dinyatakan positif.

Kasus corona di Korea menembus angka 1.000 hanya dalam beberapa hari dan kini mencapai 8.000. Sebelumnya Korea Selatan menjadi negara dengan kasus terbanyak di dunia setelah Cina. Namun Korea mulai bergerak cepat untuk menekan penyebaran COVID-19.

Jika Cina dan Italia memilih untuk lockdown dengan menutup wilayah Wuhan di Cina dan negara Italia, maka Korea Selatan mengambil langkah yang berbeda. Pemerintah Korea merespons dengan melakukan pencegahan secara terkoordinasi dan tetap menekankan transparansi dan meminta kerja sama publik sebagai pengganti langkah-langkah lockdown.

Korea Selatan tidak membatasi pergerakan orang – bahkan di Daegu, kota tenggara di pusat wabah negara itu tak diberlakukan lockdown. Pihak berwenang fokus pada wajib karantina pada pasien yang terinfeksi Covid-19 dan orang-orang yang telah melakukan kontak dekat.

Di samping itu, pemerintah juga menyarankan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam rumah, menghindari acara-acara publik, memakai masker dan mempraktikkan kebersihan yang baik.

Korea Selatan mampu melakukan pemeriksaan hingga 15.000 tes per hari. Para tenaga medis Korsel telah memeriksa sekitar 250.000 orang – sekitar satu dari setiap 200 warga Korea Selatan – sejak Januari.

Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan ini, pemerintah menyatakan semua pemeriksaan terkait Covid-19 gratis untuk siapa saja yang dirujuk oleh dokter atau menunjukkan gejala Covid-19.

Sementara mereka yang sehat dan ingin mengetahui risiko infeksi, pemerintah akan memberlakukan biaya sebesar 160.000 won atau sekitar 235 dolar AS.

Kepatuhan dan kedisiplinan warga Korea Selatan patut dicontoh. Menginsolasi diri di rumah, kurangi kontak langsung dengan rekan kerja dan patuh atas imbauan pemerintah. Sehingga dapat mencegah penyebaran virus corona di Tanah Rencong.

Kiranya lockdown tidak perlu diberlakukan di Indonesia bila warga disiplin, menjaga kesehatan, meningkatkan imunitas tubuh serta makan makanan yang bergizi.

Menurut Safrizal, secara praktis untuk menangkal wabah COVID-19 harus dilakukan secara mandiri oleh warga. Mengurangi berada di tempat publik, bila pun terpaksa harus keluar karena ada keperluan mendesak agar menjaga jarak minimal 1 meter.

Jangan sampai, sebut Safrizal, libur yang ditetapkan pemerintah dipergunakan untuk berwisata atau mudik. Bila ini dilakukan sama saja semakin mempercepat penyebaran COVID-19, bukan malah dapat menangkal pandemi virus corona.

Safrizal sebut, pemerintah Aceh sudah mengambil langkah yang tepat dengan meliburkan sekolah semua tingkatan. Termasuk pembatasan kerja ASN, bahkan ada yang mulai bekerja di rumah masing-masing.

Warkop, Café, Lokasi Wisata Ditutup

Upaya pemerintah menangkal COVID-19 tak hanya sampai di situ. Minggu (22/3/2020) Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengirim surat kepada Wali Kota Banda Aceh nomor 440/5242 tertanggal 22 Maret 2020, dalam upaya pencegahan virus corona di Aceh.

Surat itu direspon cepat Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman. Setelah menerima surat, sore itu juga langsung menggelar rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Keputusannya semua warkop, café dan lokasi wisata diminta tutup sementara waktu, hingga nantinya ada pemberitahuan selanjutnya. Aminullah langsung memerintahkan Satpol PP-WH Banda Aceh, dibantu TNI/Polri untuk menertipkan warkop, café yang masih buka.

Sejak pukul 21.30 WIB tim gabungan langsung mengeksekusi instruksi Wali Kota Banda Aceh. Petugas keliling dan menatangi seluruh warkop dan café diminta untuk tutup sementara waktu.

“Ini langkah yang baik untuk kepentingan bersama, pemerintah sudah tanggap,” ungkap pemilik warkop Sewu di Simpang Ili, Ulee Kareng, Wahyu Taqwani.

Wahyu mengaku akan patuh permintaan pemerintah untuk menankal COVID-19 di Aceh. Kendati belum ada yang positif, menutup warkop bagian dari pencegahan agar tidak mewabah di Serambi Makah. Kalau pun hendak buka warkop, ia akan meminta pelanggannya tidak nongkrong di warkop, tetapi setelah membeli langsung dibawa pulang ke rumah.

Miko Monthe, pemilik Rebbe Café di kawasan Pango, Banda Aceh sebelum petugas mengingatkan, café tempat nongkrong mayoritas anak muda sudah terlebih dahulu tutup.

Malam itu tak banyak pengunjung di Rebbe Café. Hanya beberapa kursi yang terisi. Pengakuan Miko, sejak seminggu ini café miliknya sepi pengunjung. Ada imbauan diminta tutup, tak keberatan baginya.

“Seminggu ini memang sudah sepi pengunjung,” ucapnya.

Hidayat yang memimpin langsung di lapangan mengaku, mendatangi warkop, café tidak hanya dilakukan malam ini saja. Selama masih belum dicabut instruksi wali kota akan terus dilakukan setiap hari upaya menangkal COVID-19 di Aceh.[]

Penulis: A.Acal

-- ads Maklumat bersama Forkopimda Aceh --

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
loading...