Strategi Ketahanan Pangan Aceh Harus Fokus Pemenuhan Kebutuhan Lokal

Ketua Ikatan Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKASEP) Unsyiah, Azanuddin Kurnia mengatakan, konsep dan strategi ketahanan pangan di masa pandemi di provinsi ini, harus fokus pada pemenuhan kebutuhan lokal.

Hal ini dikarenakan, hasil produksi pertanian, seperti jenis hortikultura Aceh belum mencukupi untuk konsumsi masyarakat di provinsi ini. Hal tersebut disampaikan Azanuddin Kurnia, saat menjadi salah satu narasumber pada dialog refleksi akhir tahun ketahanan pangan pasca pandemi, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP) Universitas Syiah Kuala beberapa waktu lalu.

Menurut Azan, sapaan karibnya, untuk mencapai target tersebut, organisasi profesi yang modern sangat dibutuhkan, agar dapat melakukan berbagai inovasi dan juga memberikan masukan kepada pemerintah terkait dengan berbagai kebijakan ketahanan pangan yang sangat ini menjadi konsentrasi ditengah pandemi.

Ia juga menambahkan, selain berorientasi pada pemenuhan kebutuhan lokal, strategi ketahanan pangan juga harus masuk pada aspek peningkatan nilai tambah, atau added value setiap komoditas hasil pertanian yang dihasilkan, agar para petani juga merasakan dampak nyata dari hal tersebut.

Nilai tambah tersebut, jelas Azanuddin, yang juga Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, berupa komoditas yang bermuara pada produk konsumsi dari beragam varian produksi pertanian yang dihasilkan.

“Orientasi peningkatan nilai tambah produk pertanian, sejalan dengan semangat visi dan misi pemerintah Aceh, yakni Aceh Meugoe, Aceh Troe, dan Aceh Green. dan tentu saja setiap nilai tambah yang dihasilkan, akan terjadi peningkatan nilai ekonomi dan penambahan tenaga kerja,” ucapnya.

Comments
Loading...