Senjakala Pengrajin Gerabah di Ateuk Jawo

SIANG itu Basyariah ngaso di beranda rumahnya. Dia duduk di atas alas yang terbuat dari bekas karung beras. Tapi siang itu sebenarnya Basyariah tidak dalam keadaan sepenuhnya berpangku tangan. Sembari berselonjor kaki, tangan perempuan yang mulai keriput dimakan usia itu tampak cekatan membentuk tanah liat menjadi gerabah.

Dia salah seorang perempuan di Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, yang menjadi pengrajin gerabah.

Di usia 71 tahun, Basyariah masih setia menggeluti usaha membuat gerabah. “Untuk mengisi waktu luang saja,” katanya saat di jumpai, Kamis 5 September 2019.

Gampong Ateuk Jawo, tempat tinggal Basyariah, dari dulu memang sudah terkenal sebagai pemasok gerabah di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar.

Berbagai hasil olahan gerabah semacam cobek, periuk nasi, dan belanga dihasilkan oleh warga di sana. Akan tetapi, gerabah di Gampong Ateuk Jawo sedang berada di jurang senjakala. Apa sebabnya?

Menurut penuturan Basyariah, para pengrajin gerabah di kampungnya kini semakin sulit memperoleh bahan baku tanah liat untuk membuat gerabah.

Hal itu diakibatkan banyak lahan kosong yang mulanya menjadi tempat warga mengumpulkan tanah liat, kini tergerus dengan keberadaan ‘hutan beton’ yang merambah Gampong Ateuk Jawo.

“Udah banyak dibangun perumahan di sini,” ujarnya keluh.

Selain itu, ia mengaku tanah liat semakin sulit di dapat lantaran pemilik sawah yang juga salah satu pemasok untuk pengrajin, mulai enggan memasok bahan baku utama pembuatan gerabah tersebut.

Pemilik sawah merasa tanah mereka makin dalam akibat terus-terusan dikeruk. Dan tentu itu berdampak buruk bagi tumbuhnya tanaman padi.

“Makanya pemilik tanah sawah yang biasanya jadi langganan kami mulai nggak mau kasih lagi. Sekarang semakin sulit saja membuat (gerabah) ini,” ujar Basyariah ketus.

Karena sulitnya memperoleh bahan baku itu, tentu saja turut berdampak pada jumlah produksi gerabah di Gampong Ateuk Jawo.

Biasanya, pengrajin seperti Basyariah, perbulannya bisa memperoleh Rp1,5 Juta terhadap penjualan gerabah.

Namun sejak perumahan bak cendawan di musim hujan tumbuh di Ateuk Jawo, dan pemilik tanah sawah mulai enggan menjual tanah liat kepada pengrajin, rupiah yang didapat pengrajin gerabah pun hanya Rp800 ribu saja perbulan.

“Itu pun tergantung rezeki Allah kasih. Dulu bisa sering kita buat, kalau sekarang kapan ada tanah liat aja,” tuturnya.

Senjakala gerabah di Ateuk Jawo bukan hanya soal minim bahan baku saja, Melainkan regenerasi pengrajin yang laksana benang sungsang. Genting iya, putus nyaris.

“Paling sekarang yang seumuran saya yang masih mau jadi pengrajin,” kata Basyariah seraya melanjutkan ucapannya dengan sedikit berdeham, “Bak aneuk muda hana pue ta harap leh (kepada anak muda tidak usah kita harap lagi),” ketusnya.* (ASM)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.