Semerbak Wangi Rempah di Festival Kuliner Aceh

WEWANGIAN bumbu dapur tercium dari kompleks Pekan Kebudayaan Aceh Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Minggu, 7 Juli 2019 siang. Aroma rempah khas begitu menyengat dan menggoda perut bagi siapa saja yang datang ke arena tersebut. Racikan lada, ketumbar dan bermacam jenis bawang, ditambah bubuk cabai dan sedikit percikan garam turut mengugah selera untuk menikmati ragam kuliner khas Aceh yang ada di sana.

Bermacam kuliner khas Aceh ini memang disajikan untuk disantap para pengunjung. Ini merupakan kegiatan tahunan yang dihelat pemerintah, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Bahkan, sudah tiga hari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Festival Kuliner Aceh 2019 di tempat ini. Beragam menu khas pun tersaji, dari rujak U Groh Indrapuri hingga Memek Simeulue dapat ditemui di kawasan ini. Tak hanya itu, beragam varian menu kuliner baru juga disuguhkan di pentas budaya ini.

Aceh Culinary Festival merupakan top 100 Calendar of Event Wonderful Indonesia 2019 yang dilaksanakan di Aceh. Festival yang mengangkat tema “The Authentic Food Experience” itu menghadirkan enam zona, ada Rumoh Makan Aceh, Aceh Food Market, Nusantara Food Market, The World Gourment, Fusion Food, dan Food Innovation.

Sie Ruboh, kuliner daging olahan yang dipamerkan di stand Aceh Besar | Foto: Boy Nashruddin

“Anjungan yang ada di arena PKA ini kita sulap menjadi restoran daerah, jadi pengunjung bisa menikmati aneka hidangan dan kuliner khas daerah masing-masing yang menawarkan sejumlah sajian unggulan,” kata Kepala Disbudpar Aceh, Jamaluddin, ketika membuka festival, Jumat, 5 Juli 2019 lalu.

Tak hanya itu, beragam event menarik juga digagas dalam rangkaian festival ini. Sebut saja di antaranya Cooking Demo, yang menjadi wadah untuk memperlihatkan gaya masak khas kuliner masing-masing daerah di Aceh. Cooking Demo sendiri dilaksanakan pada Jumat, 5 Juli 2019.

Selanjutnya ada juga Food Exibition di seluruh arena pameran, lomba memasak cipta menu B2SA, Masterclass Cooking Demo, workshop Aceh Traditional Food Processing di Gampong Nusa, Khanduri Bu Minyeuk, dan kompetisi koki Aceh Indonesia.

Festival kuliner Aceh ini tak semata-mata tentang makanan. Para pengunjung juga disajikan sejumlah atraksi seni terutama saat pembukaan dan penutupan kegiatan.

Sebelumnya, Plt Sekda Aceh Helvizar dalam sambutannya mewakili Plt Gubernur Aceh juga menyebutkan, potensi kuliner khas daerah bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengundang wisatawan. Mengingat kuliner merupakan salah satu bagian dari industri kreatif dalam perekonomian Indonesia.

Ketua PKK Aceh Darwati A Gani bersama Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti mencicipi sate di stand PKA | Foto: Disbudpar

“Pertumbuhan industri kreatif bidang kuliner kini berkembang pesat, tak jarang kenikmatan kuliner yang ada di daerah bisa menghadirkan inspirasi bagi kalangan dunia usaha untuk mengembangkannya di daerah lain,” katanya.

Ketua Tim CoE Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti juga menyampaikan, kegiatan ACF 2019 terus mengalami peningkatan dalam upaya menarik minat wisatawan serta menjadi unggulan wisata halal di Aceh.

“Tahun lalu perputaran ekonomi di ACF sampai 3 miliar, dan kami berharap tahun ini bisa lebih mencapai 5 miliar yang tentunya efek dari kegiatan ini dapat membantu perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan kuliner yang ada Aceh, kata Esthy, selain menjadi daya tarik bagi segi kultur, juga akan menjadi nilai komersil, serta communication value dalam menarik wisatawan, mengingat Aceh salah satu tujuan destinasi halal unggulan di Indonesia.*

Anda mungkin juga berminat