Rusaknya Pergerakan Mahasiswa

MAHASISWA dikenal sebagai aktor perubahan atau sering disebut agent of change, yang dimaknai seperti seorang cerdas lagi bijaksana dan selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan para pemimpin, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan negeri ini. Puluhan tahun sebelum negeri ini merdeka lahirlah sebuah organisasi bernama Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan kawan-kawan mahasiswa STOVIA (sekarang merupakan fakultas kedokteran Universitas Indonesia). Organisasi Budi Utomo merupakan organisasi pertama yang pergerakannya melalui pendekatan intelektual dalam usaha pencapaian kemerdekaan negeri dan awal mula dikenalnya pergerakan mahasiswa.

Saat ini kurang lebih sudah 110 tahun setelah berdirinya Budi Utomo atau awal mulanya pergerakan mahasiswa di negeri ini, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama tahun-tahun itu. Termasuk salah satunya adalah Proklamasi Kemerdekaan dan peristiwa lainnya yang semua diprakarsai oleh mahasiswa.

Gaung dan nama mahasiswa semakin hari kian menjadi nama besar yang diagung-agungkan. Peristiwa ’98 tentunya juga menjadi peristiwa dan tahun yang tak terlupakan bagi seluruh rakyat dan seluruh mahasiswa di negri ini. Di tahun tersebut prakarsa mahasiswa benar-benar terlihat ketika sukses memberhentikan kediktatoran di negeri ini, dan di tahun itu juga istilah “Sumpah Mahasiswa” yang kini selalu diteriak-teriakkan bahkan menjadi bahan ajar untuk junior kampus. Mungkin sekarang banyak orang yang telah muak akan itu karena sumpah itu kini hanya sekedar sumpah seremonial yang harus ada ketika demonstrasi ataupun ketika mahasiswa petinggi kampus berdiri di atas mimbar.

Peranan mahasiswa sangat besar dalam proses perkembangan bangsa ini tak terlepas dari sumbangsih pemikiran dan juga peran pengabdian kepada khalayak ramai di sekitarnya untuk membuka mindset ke arah yang lebih berkemajuan. Namun, kini sangat disayangkan, gaung dan nama besar mahasiswa mulai meredup bahkan dapat dikatakan telah mati seiring majunya teknologi yang kini disebut revolusi industry 4.0.

Mahasiswa semakin disibukkan dengan dunia media sosialnya, bahkan takut sehingga tak mau ketinggalan trend media sosial dengan fitur-fitur yang dianggap lebih menarik ketimbang membaca buku ataupun menggunakan media untuk update berita terkini.

Bangsa Indonesia dalam tahun belakangan ini terbagi menjadi dua kubu berseberangan dengan visi misi yang dianggap lebih unggul antara satu sama lain. Permainan dan segala taktik memperoleh kekuasaan dimainkan, sehingga cara pendekatan rasial hingga agama pun ikut dimainkan. Mahasiswa pun tak jarang yang turut ambil peran dalam prosesi ini, mulai dari yang hanya ikut-ikutan hingga mahasiswa yang memanfaatkan situasi untuk mengisi kantongnya sendiri dan golongannya.

Keterlibatan mahasiswa dalam memanfaatkan peluang untuk kepentingannya sendiri, yang sebenarnya tak sehat ini, menjadi hal lumrah. Karena tak sedikit juga yang sudah menjadikannya sebagai ajang adu hebat antara mahasiswa-mahasiswa itu sendiri, siapa yang dekat dengan siapa, dan golongan mana yang dekat dengan partai mana. Itu sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswa.

Kedekatan-kedekatan yang dianggap biasa-biasa ini telah membunuh sikap kritis dan juga merusak pergerakan mahasiswa. Secara tidak langsung, efek lingkungan yang dekat dengannya memberikan asupan doktrin-doktrin secara halus untuk belajar membenci dan meninggikan golongannya. Apabila tak sepaham, tak satu kepentingan dengannya, maka akan terdaftar sebagai lawan atau kasarnya diartikan musuh.

Padahal dalam konteksnya mahasiswa merupakan wujud dalam menegakkan keadilan dan kedaulatan rakyat. Hal ini bahkan pernah menjadi tujuan bersama. Namun, tujuan bersama itu seakan sirna. Kata-kata lantang “Kita Satu” seakan tiada dan dianggap hanya guyonan ketika pemikiran bersebrangan dan tak seatap naungan.

Selain perihal kesepahaman politik, rusaknya pergerakan juga akibat kurangnya antusias para mahasiswa, baik di organisasi maupun terhadap perkembangan bangsa. Semua organisasi melaksanakan perkaderan ataupun pelatihan sebagai syarat agar dapat bergabung, tetapi ruh perkaderan itu tak tersampaikan secara baik. Sehingga pengkaderan dan pelatihan itu hanya dianggap sebagai syarat masuk sebuah organisasi dan tak melekat dalam ruh dan jiwa seorang yang dikader atau dilatih tersebut.

Setelah melewati masa syarat sudah pastinya mereka memiliki hak dan wewenang sebagai pengurus ataupun sebagai penggerak organisasi. Di fase inilah mulai timbul isitilah orang yang hanya numpang meletakkan nama. Ketika sudah diberi amanat, dia lupa dan justru mengagung-agungkan namanya kepada dunia bahwa ia adalah seorang yang aktif di organisasi tersebut.

Antusiasme merupakan hal yang penting dalam kemajuan organisasi maupun pergerakan mahasiswa itu sendiri. Bagaimana mungkin ada sebuah organisasi dapat maju jika tidak dibuktikan dengan aksi nyata. Aksi yang dimaksud bukan hanya melalui mimbar-mimbar orasi ataupun ikut berandil dalam demonstrasi, namun mulai dari hal-hal kecil yang berguna untuk diri sendiri dalam peningkatan intelektual diri serta melatih mengambil keputusan.

Setiap hal yang kita lakukan tentu mempunyai makna tersendiri, tentu antusias tersebut berasal dari diri masing-masing dan tujuan hidup kedepan pribadi tersebut.

Rusaknya pergerakan mahasiswa tentu bukan hanya dari hal diatas, namun hal diatas adalah suatu mindset diri pribadi yang dapat diubah setelah membaca tulisan ini. Terbiasa dengan hal-hal kecil yang baik semisal jujur, tepat waktu dan memiliki semangat positif akan menjadikan pergerakan terarah dan tentu akan berkah. Sudah waktunya bangkit dan mengatakan salah sesuatu hal yang salah. Pergerakan itu diawali dari diri sendiri, mari berubah, mari belajar, dan mari terus bergerak.*

*Penulis adalah Muhammad Dwi Cahyo, seorang mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah, serta Kader IMM Unsyiah.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.