Relevansi menyembelih qurban dan Ikhtiar Melawan Pandemi Covid-19

20 Juli 2021 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1442 kalender hijriah, ummat muslim dipenjuru dunia, akan merayakan hari raya idul adha. Pada hari itu, pemeluk islam, akan melakukan ibadah qurban, dengan mempersembahkan sesembelihan, dengan niat kepada Allah Subahawataala.

Perintah melaksanakan Qurban, Allah turunkan dalam melalui kitab suci Alquran, dan terdapat dua ayat dalam kalamullah itu syariat melaksanakannya, yakni :

“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan [kurban], agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah [Muhammad] kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah],” (Q.S. Al-Hajj [22]: 34). 

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam surah Al-Kautsar mengenai perintah berkurban ini: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar [108]: 1-2). 

Ibadah kurban memiliki sejarah panjang dalam Islam. Perintah kurban pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS, yang bermula dari mimpinya menyembelih anaknya sendiri, Ismail AS. Hal ini didasarkan pada riwayat Zaid bin Arqam, mereka [para sahabat] berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu? Rasulullah SAW menjawab: ‘Kurban adalah sunahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim’,” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).

Tahun kedua ummat muslim sedunia melaksanakan ibadah Qurban ditengah pandemi covid-19. Situasi yang membedakan kegembiraan yang berpuluh tahun sebelumnya kita melaksanakan hari raya tersebut.

Dalam konteks historis, kisah pengorbanan nabi Ibrahim AS takkala Allah perintahkan menyembelih putra tercintanya, nabi Ismail AS, memberikan pesan simbolik kepada seluruh ummat muslim di dunia, tentang hakikat qurban dan upaya kita melawan pandemi covid-19.

Bukti cinta nabi Ibrahim AS dan ketaatan beliau kepada Allah, ditunjukkannya dengan melaksanakan perintah itu, tanpa bertanya, dan sama sekali mampu mengendalikan diri. Pun begitu wujud cinta nabi Ismail pada Allah di usianya yang belia, dan rasa baktinya kepada orangtua, tidak sedikitpun Ia membantah atas apa yang Allah perintahkan.

Bacalah sejarah yang Allah ceritakan tentang nabi ibrahim dan nabi Ismail tersebut, maka pesan pentingnya adalah, perwujudan Akhlak keduanya, yang tidak sedikitpun melawan, dan patuh atas perintah yang Allah berikan melalui perantaraan wahyuNya.

Histori penyembelihan Hewan qurban, dan kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismali, kita rasa sangat relevan saat ini sebagai wujud ikhtiar kita melawan pandemi covid-19.

Bukti kecintaan kita pada Allah, dengan keyakinan kita bahwa, virus ini adalah cobaan yang Allah turunkan, maka sebagai makhluknya kita dituntut kesabaran menghadapi musibah ini. Dan bentuk pengorbanan adalah dengan mematuhi semua anjuran pemerintah, yakni mengorbankan hal-hal yang merugikan diri sendiri, dan orang lain, seperti, tidak menimbulkan keramaian, menjaga jarak, mencuci tangan, dan hal-hal lainnya yang itu merupakan amaran pemerintah.

Melakukan segala sesuatu yang dianjurkan pemerintah, dalam upaya melawan pandemi saat ini, sebab dilandaskan rasa taqwa kita pada Allah, maka hal itu adalah bentuk pengorbanan kita semua.

Mengakhiri pandemi covid-19 saat ini, tidak hanya peran negara yang kita harapkan, namun, pengorbanan kita juga harus terwujud dengan tetap membatasi kegiatan-kegiatan yang berpotensi menjadi sarana penyebaran corona.

Sebagai ummat muslim, kita pasti percaya, bahwa Allah bisa menurunkan penyakit, tapi juga memberikan penawarnya untuk menyembuhkan. Tapi, hal itu akan terwujud jika ada ikhtiar dan doa.

Selamat merayakan Idul Adha 1442 hijriah, mari kita sambut ibadah ini dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, dan mematuhi semua anjuran yang negara amarkan. Sebagai bentuk pengorbanan kita dan ikhtiar melawan Pandemi. (***EDITORIAL)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.