Reborn 29 produk busana dari Aceh ke pasar Australia dan Eropa

REBORN 29 usaha desainer dan produk fashion milik Syukriah Rusdy dan Ata Amarullah. Pasangan suami istri itu, membuka gerai tokonya di Lamlagang, Banda Aceh.

Didalam toko itu, ragam busana bermacam model terpajang rapi. Aneka jenis pakaian tersusun, dan sebagian ditampilkan menggunakan maniken. Pencahayaan yang selaras, membuat kesan mewah galeri tersebut.

Syukriah Rusydi, pemilik usaha atau owner Reborn 29 terlihat mengamati buku catatan, dan suaminya, Ata Amarullah, merapikan sejumlah pakaian yang dipajang, ketika popularitas.com, mendatangi toko tersebut, Rabu, 22 September 2021.

Pandemi sangat berimbas besar pada produk Reborn 29, kata Syukriah mengawali pembicaraa dengan popularitas.com. Seluruh produksi yang sudah di pasarkan di sejumlah mall dan pusat perbelanjaan di Kota Jakarta dan Surabaya, terpaksa kita tarik, tukasnya lagi.

Karena itu, kurun dua tahun terakhir, semasa pandemi Covid-19, pihaknya fokus pada penjualan online, dan menghentikan sementara pemasaran offline, ujarnya.

Hampir 10 tahun Syukriah dan suaminya merintis usaha desain busana dan memproduksi pakaian. Perempuan yang mengaku jebolan sekolah desainer di Jakarta itu, memulai usahanya sejak 2011 silam.

Dirinya memulai Reborn 29 dengan konsep menciptakan pakai ready to wear atau siap pakai. Dan model seperti itu belum ada di Aceh. Karenanya dapat dikatakan, pihaknya adalah pionir dalam hal tersebut.

“Di Aceh itu belum pernah ada konsep ready to wear, dan Reborn 29 pionir dalam menjalankan bisnis dengan model seperti itu,” terangnya.

Diakuinya, kala memulai usaha Reborn 29, dirinya masih menyiapkan konsep, mendesain model, dan memproduksinya di daerah lain, dan kemudian memasarkannya di Aceh.

Galeri produk busana Reborn 29

 

Namun, sejak 2013, proses produksi sudah semua dilakukan dari Aceh. Hal tersebut menimbang tanggungjawab memajukan perempuan di Aceh dalam hal pembuatan busana, dan juga sekaligus menyerap tenaga kerja.

“Kami ingin menularkan ilmu dan sekaligus membantu para perempuan di Aceh untuk bisa bekerja dan sekaligus mengurangi pengangguran di daerah ini,” ujar Syukriah.

Diawal-awal usaha, seluruh produk Reborn 29, menggunakan model penitipan di butik-butik lain untuk penjualan dan pemasaran dengan kerjasama. Namun sejak 2013, dirinya bersama suami memutuskan untuk membuka toko sendiri.

“Jadi sejak 2013, Reborn sudah lakukan pemasaran offline dengan membuka gerai sendiri,” katanya.

Berbagai produk fashion Reborn 29 mendapatkan anomo yang luas dari masyarakat Aceh dan Indonesia, serta luar negeri. Hal tersebut membuat pihaknya langsung tancap gas, dengan melakukan inovasi-inovasi terbaru.

Reborn 29 di Indonesia fashion Week 2013

Pada 2013, Reborn 29 mengikuti kegiatan Indonesia Fashion Week di Jakarta. Beberapa model busana yang ditampilkan di ajang promosi itu mendapatkan perhatian dan animo dari para pencinta fashion. Dan pihaknya sempat diliput oleh Majalah Muslim dan Majalah Nur.

“Sejak tampil di dua majalah itu, produk Reborn 29 semakin terkenal di penjuru nusantara,” sebutnya.

Imbas baiknya, tukas Syukriah kemudian, banyak buyer yang menghubungi pihaknya dan mengajak kerjasama, dan bahkan sejumlah pusat perbelanjaan dan mall menawarkan menawarkan Reborn 29 dapat ditempatkan disana.

Dalam mendesain Reborn 29, pihaknya menawarkan tiga konsep, dan hal itu menjadi tagline, yakni busana modest wear atau pakaian sopan, universital produk, dapat dipakai dengan atau Tanpa hijab, dan model mix and match.

Reborn 29 menembus Mancanegara

Pada 2017, Reborn 29 berhasil menjejakkan brandnya di pasar Australia. Lewat Australia Award, sejumlah pembeli di negeri Kangguru ini berminat pada model-model yang dibuat Rebor 29.

“Nah di Australia kami dapat satu pembeli. Alhamdulillah,” ujarnya.

Kini pembeli dari Australia itu kerap memesan sejumlah model bikinan Reborn 29, dan kemudian memasarkannya di negara itu, serta di sejumlah negara lainnya.

Memang, kata Syukriah lagi, pembeli dari Austalia itu hanya memesan produksinya tanpa merek. Sebab disana mereka beri label lain, dan menggunakan brand sendiri. “Mereka pesan dengan volume besar, tapi yah itu, di re-label, atau tidak menggunakan brand Reborn 29,” terangnya.

Selain Australian, sebut Syukriah, pihaknya terus gencar melakukan ekspansi, yakni menyasar pasar Malaysia. Dan beberapa kali Reborn 29 ikut promosi produk di negeri Jiran itu. “Disana juga model kita diterima pasar dengan baik,” paparnya.

Inovasi ditengah Pandemi

Pandemi Covid-19 mendorong Reborn 29 untuk berbenah, kreatif dan inovatif. Syukriah bersama sang suami, memutar otak agar produk fashionnya tetap laku, meski pembatasan-pembatasan akibat Covid-19.

Karena itu, Ata Amarullah mengungkapkan, strategi yang dibangun Reborn 29 agar bertahan di tengah pandemi, kreatif dan inovatif, dengan melahirkan produk fashion yang mudah diserap pasar, misalnya pakaian olahraga.

Ata Amarullah, Owner Reborn 29

 

Selama Pandemi, sebut Amrul, sapaan karib Ata Amarullah, masyarakat cenderung melakukan olahraga, seperti bersepeda, dan lainnya. Nah, peluang itu kita tangkap dengan memprduksi Reborn Sport. Dan Alhamdulillah produksi diterima baik di pasaran.

Tidak hanya melahirkan Reborn 29 model sport, pihaknya juga memproduksi masker, dan juga sajadah serta souvenir, dan seluruh produk itu dipasarkan dengan model offline. “Itu beberapa strategi dan inovasi yang kami lakukan semasa pandemi,” terangnya.

Mitra Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Reborn 29 dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, beberapa kali menjalin kerjasama, yakni dengan cara mengikutisertakan Reborn 29 dalam berbagai ajang promosi.

Menurut Amrul, pada 2013 pihak Disperindag Aceh, beberapa kali mengajak Reborn 29 ikutserta dalam sejumlah pameran produksi IKM, baik di Jakarta dan sejumlah kota lainnya.

Luncurkan Sejumlah Program

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh berharap agar industri kecil dan menengah (IKM) di provinsi paling barat Indonesia itu tetap eksis di tengah pandemi Covid-19.

Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Nila Kanti mengatakan, pihaknya telah meluncurkan sejumlah program untuk mendukung dan menguatkan agar IKM di Aceh agar tetap eksis di tengah pandemi.

“Kita telah meluncurkan sejumlah program seperti pojok kreatif, pelatihan digital marketing, pelatihan kemasan produk IKM, fasilitasi merek, dan sertifikasi halal,” kata Niken, sapaan akrab Nila Kanti, beberapa waktu lalu.

Niken menjelaskan, program pojok kreatif merupakan penyedian space (ruang) di setiap café maupun lokasi wisata, untuk memajang hasil kerajinan serta ide-ide kreatif lokal yang bisa dipasarkan kepada para pengunjung.

Program pojok kreatif tersebut, lanjut Niken, merupakan hasil kerjasama Dekranasda Aceh dengan Disperindag Aceh. Di saat pagelaran launching perdana pojok kreatif di ARB Café, dipajang sejumlah hasil kerajinan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG).

Niken berharap, para pelaku IKM di Aceh tetap mematuhi protokol kesehatan dalam menjalankan bisnisnya. Salah satu cara adalah dengan meningkatkan penjualan pada sistem online.

“Kita berharap retap semangat dan tetap menjalani protokol kesehatan dalam melayani pembeli dan perluas wawasan bisnisnya melalui kesempatan pelatihan yang ditawarkan secara tatap muka maupun online,” ucap Niken.(***)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.