Pidie Jaya Harus Nombok Rp 5 Miliar Per Tahun Hanya Untuk Listrik

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, tiap tahun mengalokasi anggaran Rp 8,8 miliar untuk pembayaran rekening listrik.

Anggaran yang bersumber dari APBK Pidie Jaya itu, dialokasi untuk melunasi rekening listrik penerangan jalan umum (PJU) yang tersebar di 222 desa di daerah setempat, selama 12 bulan.

Meskipun Pemkab Pidie Jaya saban tahun mengeluarkan dana hampir mencapai Rp 9 miliar yang disetor ke PLN, namun ironisnya, pendapatan dari pajak penerangan di daerah setempat hanya Rp 3,5 miliar.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pidie Jaya, M Diwarsyah melalui Sekretaris M Yusuf menyebutkan, dalam pembayaran tagihan rekening PJU, saban tahun pemerintah setempat harus nombok sekitar Rp 5 miliar.

Hal itu disebabkan kecilnya pemasukan dari pajak penerangan pelanggan listrik non subsidi yang dikutip PLN untuk disetor ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pidie Jaya.

“Kabupaten lain seperti Kabupaten Pidie mereka surplus dari pajak penerangan untuk tagihan PJU, sementara Kabupaten Pidie Jaya harus nombok Rp 5 miliar lebih pertahun,” kata M Yusuf kepada wartawan, Selasa (29/6/2021).

Dikatakan, sebelum tahun 2020, proses pembayaran tagihan PJU itu dilakukan langsung oleh pemerintah setempat.

Namun, terhitung tahun 2020, pelunasan rekening listrik PJU tersebut dilakukan langsung oleh masing-masing, dengan dana dikirim langsung oleh Pemerintah Pidie Jaya, yang ditransfer ke Alokasi Dana Gampong (ADG) bersumber Dana Alokasi Umum (DAU).

“Sebelumnya, tagihan PJU dibayar langsung oleh pemkab, per tahun biasanya Rp 8.8 miliar lebih, mulai tahun 2020, tagihan PJU dibayar oleh gampong, dana dikirim oleh pemkab melalui ADG,” jelasnya.

Transfer dana ke gampong untuk pembayaran rekening listrik penerangan jalan umum itu sesuai dengan data rekapitulasi tagihan PJU yang dikeluarkan oleh PLN pada Desember 2020.

Penelusuran popularitas.com, nominal tagihan PJU di 222 gampong di Kabupaten Pidie Jaya perbulannya sebesar Rp 735 juta.

Angka itu merupakan akumulasi dari masing-masing desa yang menyetor PJU perbulanya, dengan angka terbesar Rp 17.502.181 dan terkecil Rp 248.377.

Gampong-gampong yang paling besar tagihan PJU per bulan diantaranya, Keude Ulee Gle Rp 17.459.343, Gampong Blang Dalam Rp 14.400.520, Uteun Bayu Rp 10.801.140. Kota Meureudu Rp 8.638.512, Gampong Keude Paru Rp 17.502.181, Gampong Jijiem Rp 14.221.201, Gampong Blang Glong dan Keude Lueng Putu masing-masing Rp 8.209.250.

Gampong yang paling rendah tagihan PJU diantaranya, Gampong Siren, Manyang, Blang Iboh, Beurandeh, Kayee Raya, Puep Lueng Nibong, Balee, Mesjid, Sawang, Cut Langgien, Blang Krueng, Aki Neungoh, Ujong Lebat dan Gampong Tanoh Mirah, masing-masing Rp 248.377 per bulan.

“Saat ini kami berharap, pihak gampong harus mengetahui kalau PJU di setiap gampong itu dibayar setiap bulan, jadi jika ada yang putus atau tidak nyala, ya harus diperbaiki, jangan sampai kita membayar yang tidak bermanfaat (PJU tidak berfungsi) bagi gampong,” paparnya.

Editor: dani

Comments
Loading...