Perjalanan Sulastri Hingga Raih Penghargaan dari Menteri Agama

PEREMPUAN itu duduk menyendiri di sofa salah satu ruangan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag ) Aceh pada Rabu, 11 Desember 2019 sore. Di depannya, segelas teh hangat dan sebungkus roti menemaninya sore itu.

Di samping kanannya, sebuah tas dan kantong plastik warna hitam yang di dalamnya berisi trofi dan piagam penghargaan ditaruh begitu saja. Ia baru saja tiba dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.

Sosok perempuan tersebut adalah Sulastri, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Kala Wih Ilang, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah yang mendapat penghargaan dari Menteri Agama RI dalam acara Ekpose Kompetensi dan Profesionalitas Guru Madrasah 2019 pada Selasa 10 Desember 2019.

Sulastri bersama empat orang guru lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia dinobatkan sebagai kepala sekolah sekaligus guru insipiratif atas jasanya dalam membangun dan mengabdi di madrasah pedalaman Aceh.

Usai menerima penghargaan, pada Rabu, 11 Desember 2019 sore, Sulastri kembali ke Aceh. Sebelum pulang ke tanah kelahirannya di Aceh Tengah, dari Bandara SIM Blang Bintang, Sulastri singgah terlebih dulu di Kanwil Kemenag Aceh. Di sana, beberapa wartawan sudah menunggu. Mereka ingin mewawancarai kisah Sulastri yang dinilai inspiratif.

“Wawancaranya di dalam ruangan bapak kabid saja ya,” kata Saifullah, salah satu pegawai di Kanwil Kemenag Aceh kepada wartawan. Ia mempersilakan Sulastri dan beberapa jurnalis untuk memasuki ruang Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh.

Di dalam ruangan itu, Sulastri mulai menceritakan kisahnya. Penghargaan yang diperoleh Sulastri tak terlepas dari pengabdiannya sebagai kepala sekaligus guru honorer di pedalaman Aceh Tengah. Di tengah-tengah perkebunan kopi, Sulastri mendidik anak-anak di desa tersebut yang belum pernah merasakan bagaimana mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

“Sebelum tahun 2013, dulu belum ada sekolah, sementara anak didik banyak, tetapi tidak bersekolah. Bahkan, sampai berumur 12 tahun dia tidak mengetahui apapun, apalagi huruf A sampai Z, kemudian nilai-nilai uang, uang seribu aja dia tidak tahu,” kata Sulastri.

Kata Sulastri, awalnya madrasah itu dibangun oleh pamannya, Haji Thamren pada tahun 2013. Pembangunannya berawal dari keprihatinan sang paman terhadap kondisi di sana, di mana banyak anak-anak tidak memiliki tempat mengenyam pendidikan.

“Dulu sebelum ada sekolah, anak-anak menghabiskan waktu sehari-sehari ikut orang tuanya ke kebun kopi, sementara sebagian lagi ada yang bermain-main,” ujar Sulastri.

Saat mendirikan madrasah, Haji Thamren menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lut Tawar. Sebelumnya, sejak 2005 sampai 2011, Haji Thamren menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Pegasing.

“Sejak 2005, saya bekerja di KUA Pegasing, dulu dia (Haji Thamren) bertugas di KUA Pegasing, dan kemudian dimutasikan ke KUA Lut Tawar. Setelah dia meninggal, saya melanjutkan langsung sekolah itu,” kata Sulastri.

Saat itu, madrasah masih berdinding papan dan beralaskan tanah. Adapun murid tahun pertama adalah sebanyak 13 orang. Mereka semua anak-anak petani kopi di kawasan itu.

Dalam mendidik murid-murid, Sulastri dibantu temannya, Susi. Satu tahun kemudian, guru bertambah menjadi tiga orang setelah masuknya Mahyani. Untuk mereka bertiga, tak aga gaji layaknya tenaga-tenaga pendidik lainnya.

Mereka setiap bulan menerima gaji hanya sebesar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Hasil itu diperoleh dari bantuan orang tua siswa seikhlasnya dan tak ada paksaan. Namun, bagi Sulastri hal itu tak menjadi masalah, karena mereka bekerja dengan ikhlas.

Pada Desember 2014, Haji Thamrin meninggal dunia. Setelah itu, kendali MIS Kala Wih Ilang di bawah tanggung jawab Sulastri. Berbagai urusan administrasi diurusi Sulastri di Kemenag Kabupaten Aceh Tengah.

Waktu terus berjalan, murid bertambah seiring masuknya petani-petani kopi ke pedalaman Aceh Tengah. Namun, kondisi sekolah masih seperti awal yaitu beralaskan tanah dan berdinding papan.

Suatu hari di pada Januari 2017, beberapa wartawan datang ke madrasah tersebut. Mereka mewawancarai Sulastri, kemudian berita pun ditayangkan di media mereka. Berita potret pendidikan di pedalaman Aceh itu viral, sehingga membuat tim dari Kemenag Aceh turun ke lokasi.

Sulastri saat ditemui wartawan di Kanwil Kemenag Aceh, Rabu, 11 Desember 2019. (Muhammad Fadhil/popularitas.com)

“Alhamdulillah 2017 ada perhatian dari pemerintah, kebetulan setelah wartawan datang tanpa sepengetahuan saya dan tanpa saya undang, saya juga merasa terkejut dengan kehadiran beliau, mereka bertanya kok ada sekolah di tengah hutan,” ujar Sulastri.

Kata Sulastri, pada 2017 madrasah sudah dibangun dalam bentuk permanen, totalnya enam ruangan. Satu ruangan untuk ruang guru dan lima ruangan untuk kelas belajar.

Enam ruangan itu, kata Sulastri, merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Aceh Tengah (tiga ruangan), Kanwil Kemenag Aceh (dua ruangan) dan Kemenag RI (satu ruangan).

“Untuk kelas satu dan dua kami sekat menjadi satu kelas, karena tidak cukup ruangan,” sebut Sulastri.

Singkat cerita, pada awal Desember 2019, dari perjalanan dari Kantor Kemenag Aceh Tengah menujuh Kala Wih Ilang, Sulastri mendapat telepon dari salah satu pegawai Kanwil Kemenag Aceh. Telepon itu memberi tahu bahwa Sulastri terpilih menjadi salah satu yang dinobatkan sebagai kepala sekolah sekaligus guru insipiratif atas jasanya dalam membangun dan mengabdi di Madrasah pedalaman Aceh.

Kemudian, pada Senin, 10 Desember 2019, Sulastri berangkat ke Jakarta melalui Bandara SIM. Lalu, keesokan harinya di Bell Swiss Hotel Jakarta, Sulastri mendapat penghargaan dari Menteri Agama yang diwakili oleh Direktur Pendidikan dan Agama Bappenas RI, Amich Alhumami, MA, M.Ed, Ph.D.

“Saat mendapat telepon itu rasanya ingin menangis, terharu, kok bisa saya yang diundang ke sana (Jakarta),” kata Sulastri.* (C-008)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat