Penjelasan PLN Aceh terkait pemadaman listrik

POPULARITAS.COM – Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi pemadaman total aliran litrik diseluruh Aceh. Dan kondisi ini menyebabkan munculnya berbagai kecaman dan hujatan yang dialamatkan kepada PT PLN (Persero) wilayah Aceh. Dan berikut penjelasan General Manager perusahaan plat merah tersebut, kepada media ini, terkait masalah teknisnya.

Dapat kami jelaskan, kata Jefri, kondisi yang terjadi, bukan karena kerusakan sistem Aceh, tapi disebabkan terjadinya gangguan teknis di Medan, Sumatera Utara, yang berakibat, jaringan di provinsi ini mengalami black out, atau kehilangan seluruh sumber tenaga, dan berdampak pada pemadaman total seluruh arus listrik yang ada di Aceh.

Jadi begini, kata Jefri, ketika terjadi gangguan di Medan, menyebabkan sistem PLTMG Arun, di Lhokseumawe, secara otomatis melepaskan relay, nah, sambungnya, beban yang dilepas sistem ini mencapai 100 MW, sehingga, PLTMG Arun, yang awalnya memikul beban, tiba-tiba kehilangan, dan ini menyebabkan frekuensi naik, dan menyentuh setting rate. “Jadi ketika sistem relay menyentuh setting rate, sistem PLTMG Arun melepaskan keseluruhan beban,” tukasnya.

Karena itu, sambungnya, akibat PLTMG Arun melepaskan beban, keseluruhan beban listrik di Aceh, ditanggung oleh sistem PLTU Nagan Raya, atau secara teknis, 390 MW beban puncak berpindah ke Nagan Raya, dan ini tidak sanggup ditopang oleh sistem Nagan Raya, dan akibatnya sistem Nagan melaspakan diri, maka, terjadilah blackout, atau padam total seluruh Aceh.

Dan proses pemulihan sistem ini membutuhkan waktu, sambung Jefri. Saat ini, aliran listrik ke Aceh, telah ditopang dari sistem interkoneksi Sumbagut, nah, jika pada hari sebelumnya, Aceh hanya mendapatkan pasokan 80-90 MW MW, saat ini, pasokan telah mencapai 200 MW. dan begitu juga pemadaman bergilir, kata Jefri, yang semula 100 MW, saat ini, jumlah yang padam hanya 45 MW, yang kita bagi keseluruh wilayah Aceh. “Dalam dua hari kedepan, saya pastikan listrik Aceh akan kembali normal,” tukasnya.

Jefri menyebutkan, banyak pihak yang mengatakan, semestinya sistem kelistrikan di Aceh, tidak bergantung lagi ke Medan, sehingga jika terjadi masalah, tidak merembet ke Aceh. Jadi, disini dapat saya terangkan, jaringan listrik di Aceh, adalah sistem interkoneksi, yang menghubungkan tiga wilayah, yakni, Aceh, Sumut dan Sumatera Barat. Saat ini, sambung Jefri, kapasitas pembangkit yang dihasilkan oleh Aceh, baru mencapai 280 MW, dan sementara, kebutuhan beban puncak di provinsi ini adalah 390 MW.

Jadi, ada keuntungan dengan adanya sistem interkoneksi ini, selain lebih handal, jika terjadi kekurangan daya di Aceh, dapat disuplai atau di transfer dari sistem interkoneksi Sumbagut. “Kelemahannya sistem ini adalah pada proteksinya,” sebut Jefri.

Sistem proteksi inilah yang kemudian menjadi fokus perhatian Dirut PLN (Persero), ungkap Jefri, dan untuk itu, pihak PLN pusat mengutus Direktur Regional Bisnis Sumatera, ke Aceh, guna membahas dan mencari solusi atas sistem proteksi yang ada, sehingga, jika terjadi masalah seperti saat ini, tidak terjadi blackout pada sistem Aceh. “Pemadaman listik di Aceh menjadi perhatian serius Direktur utama PT PLN,” ujarnya.

Karena itu, sejak Selasa, 28 Maret 2018, Direktur Regional Bisnis Sumatera, bersama dengan beberapa GM, secara khusus hadir ke Aceh, guna membahas, melakukan evaluasi, dan langkah perbaikan terhadap sistem proteksi yang ada. “Kita berharap, sistem proteksi dapat dibenahi, agar tidak terjadi lagi masalah pada sistem pembangkit Aceh,” tukasnya. (Saky)

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.