Orbituari Dokter Muhammad Jailani

Pukul 07.25 WIB, Kamis (3/3/2022), telpon tenggamku berdering, diujung sebrang, Bang Dharwo mengabarkan berita duka, Dokter Jay sudah meninggal ya, ucapnya dengan lirih. Terduduk dalam kesendirian, seolah tak percaya atas kabar itu.

Bang Dharwo, beliau merupakan sahabat dekat dokter Jay, begitu pria bertubuh cungkring dan kecil itu kami menyapanya. Sudah satu Minggu, tepatnya tanggal 25 Maret 2022, ayah dari dokter Agam itu terbaring lemah di rumah sakit, tak bisa di kunjungi.

Ada gangguan pada pembuluh darah jantung, kata bang Dharwo mengutip keterangan Dokter M Diah, spesialis penyakit jantung yang merawat intensif Dokter Jay.

Sudah enam hari Dokter Jay di rawat intensif, dan Ia harus menyerah atas sakit yang dideritanya, Dia meninggal dengan begitu banyak kenangan dari sahabat, dan banyak orang yang mengenalnya.

Menyelesaikan pendidikan dokter di Universitas Sriwijaya, Dokter Jailani menuntaskan pendidikan spesialis bedah plastik di Universitas Airlangga, Surabaya.

Masa kecil Dokter Jay, dihabiskannya di Meunasah Capa, Kecamatan Jeumpa, kini kabupaten Bireuen. Ayahnya bernama Husein Son, seorang pedagang kain, dan Bahrensyah, ibunya seorang perempuan tangguh.

Dokter Jay tujuh bersaudara, Syakya Husein, Ramlah, Abdul Karim, Abdullah, Muhammad Jailani, Fathiyah. 

Kembali ke Aceh usai menyelesaikan pendidkan dokter spesialis bedah plastik, dokter Jailani mendirikan Yayasan Bibir Sumbing, dan bersama Smile Train, sejak kurun waktu terakhir, dia telah melakukan mengoperasi bibir sumbing dan kerusakan celah mulut, tidak kurang 6 ribu masyarakat miskin.

Tak jarang, jika pasien yang di operasi berasal dari kabupaten yang jauh dari pusat kota, Dia kerap membayar penginapan dan bahkan memberi ongkos pulang untuk pasien itu. 

Mereka orang-orang miskin Pak Hendro, terangnya padaku, dan saya percaya doa mereka Allah dengar.

Dokter Jailani memang seorang ahli bedah plastik, kepakarannya dalam ilmu bedah plastik, melahirkan karya yang telah diakui internasional, karya tulisnya berjudul Cleft-Palate Repair By Modified Millard’s Technique With Premaxilla Shortening In Bilateral Labioplasty : A5 Year Clinical Study, mendapatkan hak paten di Indonesia dan Amerika Serikat, New York.

Dan ditangan dinginnya, Ia membuka Pendidikan Dokter Spesialias Bedah Plastik di Universitas Syiah Kuala. Saya ini udah tua, harus ada banyak anak-anak Aceh yang punya ilmu bedah plastik, sebab itu membuka pendidikan dokter spesialis bedah plastik adalah cita-cita saya, katanya padaku dalam kesempatan bertemu.

Saat ikut dalam sholat jenazah hingga mengantarkannya ke permakaman, ratusan kolega, dan sahabat-sahabatnya, para mahasiswa kedokteran yang merupakan muridnya ikut serta.

Selamat beristirahan Dokter Muhammad Jailani, kebaikan yang engkau tebarkan, akan menjadi catatan amal kebaikan pemberat saat hisab nantinya. Innalillahi wa inna Illaihi rajiun.

Comments
Loading...