Museum Peranakan Tionghoa

Penulis : Tjandra Ghozalli

KEMARIN, 18 Maret saya bersama Dr. Ibrahim Irawan pemilik majalah Indonesia Media terbitan Los Angeles USA bertandang ke Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di BSD Serpong.Museum ini bertempat di sebuah bangunan Ruko 2 lantai Perkantoran Golden Road, BSD.

Kami diterima oleh Azmi Abubakar, putra Aceh, pemilik Museum tersebut dan saya perkenalkan kepada Ibrahim Irawan.  Terlihat banyak majalah Star weekly terbitan 1950 an  berserak di atas meja (rak) kaca.  Juga majalah Panorama terbitan Kwee Tek Hoay yang beredar di dekade 30 – 40 an.  Di samping majalah SinPo, dan majalah tempo doeloe lainnya.  

Ada satu papan nama sekolah Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) asli terbuat dari papan kayu tebal yang diukir berusia 112 tahun menarik perhatian saya.  Seperti diketahui THHK adalah sekolah Tionghoa resmi tertua dan pertama di Indonesia, lahir pada tahun 1900.  THHK inilah yang memperkenalkan istilah Tionghoa di Indonesia sebagai ganti sebutan kata Cina yang sering menjadi kata olok olok.  Jadi THHK bagi suku Tionghoa tidak kalah penting dari Sumpah Pemuda yang mensahkan sebutan “Tionghoa” dan kata ini hanya populer di Indonesia dan kurang lazim di negara lain.  Kami membicarakan banyak hal dalam kehidupan bernegara saat ini.

Dalam suatu kesempatan Azmi beropini bahwa Malioboro di Yogya sesungguhnya daerah Pecinan sebab di sepanjang jalan tsb dipenuhi rumah toko bergaya bangunan Tionghoa (dulu) yang sekarang sudah dimodifikasi juga ada Bio tempat sembahyang warga Tionghoa..  Jadi dahulu Yogya terbuka bagi suku Tionghoa, kenapa sekarang dipermasalahkan?  Kami juga mendiskusikan masalah Universitas Cheng Ho yang akan didirikan oleh Azmi. Berlokasi di utara Aceh dengan pemandangan pegunungan yang indah seluas 10 hektar.

Di sekolah ini akan diajarkan tentang tokoh Tionghoa dan kiprah orang Tionghoa di seluruh Indonesia – barangkali menjadi semacam universitas Sinologi seperti yang ada di UCLA – Amerika dan Cornellis Univ, Ibrahim akan mengusahakan agar Azmi dapat mensharingkan pengetahuannya yang sangat berharga ini di universitas UCLA.  Selama ini Azmi berjoang sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain.  Padahal banyak pengusaha Tionghoa mau menyumbang ratusan juta namun ditolak oleh Azmi karena tidak mau dikatakan sebagai “orang bayaran” .  Memang untuk mengangkat citra dan sejarah Tionghoa seutuhnya harus dari tokoh bersuku lain, bukan dari tokoh Tionghoa. Ini akan lebih trust dan efektif. Azmi begitu bersemangat ketika bercerita tentang Laksamana John Lie yang bermarkas di Aceh, menyelundupkan senjata dari Singapura guna membantu perang melawan Belanda.  

Ada enam karung surat dan buku catatan harian John Lie dimiliki oleh Azmi dari seorang pemulung, ketika rumah John Lie dijual.  Banyak surat John Lie yang bersifat dinas dan ada pula yang romantis disimpan oleh Azmi dengan baik.  Di lemari rak tampak penuh buku silat sebagian karya Kho Ping Hoo juga beberapa seri komik si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Thio (Ganes Th).  Juga ada buku komik Si Put On yang jenaka karya Kho Wan Gie  sebagai komik tertua dan pertama yang lahir di Indonesia tahun 1929.  Begitu banyak hal yang kami bahas bersama Azmi dan Ibrahim sehingga waktu terasa bergulir cepat.  Tak terasa sudah 4 jam lebih berdiskusi dan kamipun pamit diri.  Jarang ada orang yang begitu berempati dengan sejarah suku Tionghoa dan Azmi kekecualian walaupun dia bukan warga suku Tionghoa namun semangatnya melampaui kami kami ini.

Anda mungkin juga berminat