Mogok Usai Isi BBM, Pemilik Mobil Minta SPBU Ulee Glee Tanggung Jawab

POPULARITAS.COM – Salah seorang konsumen Pertamina Dex bernama Teuku Iskandar meminta SPBU Ulee Glee dan PT Pertamina untuk bertanggung jawab atas kerusakan mobilnya setelah mengisi BBM jenis Pertamina Dex di SPBU tersebut.

“Saya menuntut tanggungjawab pihak SPBU 14.241.413 di Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya dan pimpinan Pertamina Wilayah Aceh karena mobil saya rusak berat setelah mengisi bahan bakar di SPBU tersebut beberapa waktu lalu,” kata Iskandar, Selasa (22/6/2021).

Iskandar menceritakan, kejadian tersebut berawal saat dirinya berangkat dari Kota Lhokseumawe menuju Banda Aceh dalam rangka pekerjaan pada 9 Februari 2021 lalu menggunakan mobil Toyota Fortuner-VRZ dengan nomor Polisi BL 777 BO.

Sekira pukul 15.30 WIB, Iskandar mengisi BBM jenis Pertamina Dex senilai Rp350 ribu di SPBU 14.241.413 Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya karena kondisi mobil kehabisan bahan bakar.

“Setelah pengisian itu saya melanjutkan perjalanan dan kira-kira belum sampai satu kilometer saya mengenderai mobil tiba-tiba mobil saya mati total di tengah jalan dan hampir saja ditabrak oleh mobil lain dari belakang karena matinya secara mendadak,” ucap Iskandar.

Setelah itu, lanjut Iskandar, dirinya meminta rekannya untuk menarik mobil ke bengkel karena memang tidak bisa jalan lagi. Hingga kini, mobilnya masih di bengkel untuk diperbaiki.

“Dari sejak saya bawa sampai hari ini belum bisa hidup, di mana banyak alat mesin yang rusak total dan sudah diganti, tetapi mesinya belum juga bisa dihidupkan. Saya mendapat penjelasan dari pihak bengkel bahwa mobil saya tidak bisa hidup lagi dikarenakan air sudah masuk ke semua ruangan mesin, jadi otomatis harus dilakukan pembongkaran secara permanen,” katanya.

Menurut penjelasan mekanik, kata Iskandar, air itu bersumber dari tangki BBM yang diisi dari SPBU Ulee Glee yang kira-kira kadar airnya mencapai 40 persen dari total minyak jenis Pertamina Dex.

“Buktinya juga sampai sekarang masih saya simpan,” ujar dia.

Atas kejadian tersebut, Iskandar lalu memberitahu kepada pemilik SPBU Ulee Glee dan pihak SPBU berniat menyelesaian secara kekeluargaan.

Pemberitahuan itu, terang Iskandar, sebelum mobil dibongkar karena perincian anggaran untuk ganti alat alat mesin mobil diperkirakan di bawah Rp100 juta.

“Tetapi, sekarang saya tidak mungkin berdamai secara kekeluargaan karena mobil harus bongkar mesin secara permanen dan biayanya diperkirakan di atas Rp100 juta,” klaim Iskandar.

Iskandar menuntut pihak SPBU membayar seluruh biaya yang habis untuk perbaikan mobil yang jumlahnya itu di atas Rp100 juta. Namun pemilik SPBU hanya mau membayar di bawah Rp100 juta sehingga sampai sekarang belum ada titik temu.

“Nah, atas kondisi tersebut, beberapa bulan lalu saya berinisiatif mengirim surat kepada Pertamina wilayah Aceh di Banda Aceh untuk meminta keadilan dan kerugian. Saya berkirim surat itu sampai tiga kali namun hingga sekarang belum ada tanggapan,” tutur dia.

Oleh karena itu, Iskandar menuding bahwa pihak Pertamina wilayah Aceh dan pemilik SPBU Ulee Glee tidak bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

“Setidaknya mereka bertanggung jawab, membayar seluruh kerugian saya akibat kerusakan mesin dan membayar kerugian saya akibat berhentinya mobil itu beratifitas, maka saya akan membawa kasus ini ke pihak berwajib,” tutur Iskandar.

Sementara Sibral Malasyi, pemilik SPBU Ulee Glee belum memberikan keterangan saat dikonfirmasi soal itu. Demikian juga Pertamina wilayah Aceh, telepon tak terhubung dan pesan WhatsApp tak dibalas.

Editor: dani

-ads-

-ads-
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.