Meraup cuan lewat kue arafit

POPULARITAS.COM – Di Kabupaten Pidie Jaya, persisnya di Kecamatan Trianggadeng, banyak terdapat jajanan khas, salah satunya adalah kue Arafit. Kuliner itu sangat mudah ditemui di daerah itu. Sepanjang jalan nasional Medan-Banda Aceh, letaknya di Desa Paya, aneka Jenis kue Arafit banyak dijual.

Kue Arafit, dibuat dari campuran bahan baku tepung gadung, kacang merah, dan gula. Warnanya dominan coklat, kekuningan, bentuknya mirip seperti kue bakpia.

Industri Kecil Menengah (IKM) Bintang Satu, merupakah salah satu produsen kue khas Pidie Jaya itu. Tgk Fajar, nama pemilik usaha itu, kala ditemui popularitas.com, Senin, 4 Juli 2022 lalu, menjelaskan bahwa, usaha yang Ia tekuni merupakan warisan orangtuanya.

IKM Bintang Satu sendiri, Kini menempati lokasi saua persis di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan. Disebuah rumah toko yang disewa pria yang masih bujang itu, setiap harinya ribuan biji kue Arafit di produksi, dan dijual memenuhi kebuhan lokal, dan bahkan hingga ke daerah lain, sepeti Pidie, Bireue, hingga Aceh Utara.

Sembari terus bekerja, Tgk Fajar memasukkan kue arafit yang masih hangat ke dalam kotak kotak kecil. Hari itu Ia terlihat gagah, mengenakan kemeja berwarna krim, dan kopiah, Ia begitu cekatan dan trampil menyusun kue-kue itu. “Setelah dikemas, kue ini langsung kita kirim ke luar daerah,” jelasnya.

Sembari terus bercerita tentang kue Arafit, kedua tangan Tgk Fajar tetap bekerja. Empat baki talam berisi kue semua telah Ia masukkan dalam kemasan. “Sebenarnya usaha ini milik ayah, saya cuma melanjutkan,” terangnya kemudian.

Saat meneruskan usaha ayahnya, omset IKM Arafit Bintang Satu, tak kurang Rp1 juta setiap harinya. Namun setelah dikelola Tgk Fajar, pendapatan meningkat tiga kali lipat. “Alhamdulillah, saat ini pemasukan sudah mencapai Rp4 juta per hari,” sambungnya.

Kue Arafit yang di produksi IKM Bintang Satu, terdiri dalam dua varian harga, yakni ukuran kecil dijual seharga Rp500, dan yang besar Rp1000. Disini juga di produksi dua model warna, krim dan hijau, dengan dua bentuk, bulat dan lonjong.

“Sudah empat tahun saya menekuni usaha warisan ayah,” ujarnya. Awalnya pabrik tempat Ia memproduk letaknya di rumah, namun dia memindahkan usahanya ke pinggir jalan persisnya di Gampong Paya. Tentu saja pertimbangan agar lebih mudah dan mendekatkan tempat usaha dengan konsumen. “Baru pindah awal 2020 lalu,” sambungnya.

Kini, usaha IKM Arafit terus berkembang, dengan omset Rp4 juta setiap harinya, Tgk Fajar yang juga menjadi guru di salah satu Pondok Pesantren di daerah itu, saat ini terus mengembangkan usahanya.

Untuk pemasaran, Tgk Fajar mengaku jika Ia setiap harinya mengantarkan langsung kue yang telah di produksi kepada pelanggan, dan bahkan Ia kerap berpergian ke Aceh Utara untuk menemui para konsumen setia Kue Arafit yang Ia produksi.

Dirinya juga tak segan-segan langsung turun kepada para konsumen, untuk diskusi dan bertanya mengenai kue hasil produksinya. Hal itu dimaksudkan guna memperbiki kualitas kue yang Ia buat. “Jadi kalau ada keluhan, baik soal rasa, atau lainnya, maka dapat terus kita perbaiki,” ungkapnya.

Dalam pengembangan usaha miliknya, Tgk Fajar mengaku jika banyak dibantuk oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, baik untuk pelatihan, serta desain kemasan, serta akses pemasaran.

Ragam bentuk penguatan usaha yang dilakukan Disperindag Aceh, menjadi bekal bagi IKM Arafit untuk terus berinovasi, melahirkan banyak jenis dan aneka produk yang disukai masyarakat, demikan Tgk Fahjar menyampaikan. (**)

Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong – Disperindag Aceh
Comments
Loading...