Menelisik Kebenaran Ilmiah ‘Jabbal Magnet’ di Aceh Besar

JABBAL Magnet, merupakan satu wilayah yang berjarak 60 kilometer dari Kota Madinah, di Kerajaan Arab Saudi. Daerah ini menjadi terkenal, dan menarik pegiat ilmu, serta wisatawan, untuk berkunjung.

Salah satu keunikan dari kawasan ini, adalah fenomena daya tarik magnet, yakni kenderaan bermotor yang melewati area jalan beraspal di tempat ini, pada posisi diam dan mesin dimatikan, mampu bergerak sendiri, dan bahkan kecepatannya bisa mencapai 120 km/jam. Dan bahkan, disebut-sebut, jarum penunjuk pada kompas, tidak bekerja efektif saat digunakan diwilayah ini.

Nah, publik di Aceh, sejak, Minggu, 5 Januari 2020, dikejutkan, dengan keberadaan wilayah, yang disebut mirip dengan Jabbal Magnet di Madinah. Kawasan itu terletak di Aceh Besar, tepatnya di Kecamatan Blang Bintang.

Informasi keberadaan Jabbal Magnet dikawasan itu, pertama kali di viralkan oleh Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali. Saat meninjau secara langsung daerah tersebut, bahkan orang nomor satu di kabupaten itu, menggunggah video dilaman media sosial miliknya, berupa fenomena mobil yang dapat berjalan sendiri, dengan kondisi mesin mati.

Sontak saja, unggahan video Bupati Aceh Besar tersebut, dengan cepat tersebar luas melalui platform media sosial lainnya, dan respon masyarakat beragam, berupa bentuk penasaran, dan bahkan, sebagian diantaranya ketidakpercayaan.

Benarkah kawasan yang mirip ‘Jabbal Magnet’ di Aceh Besar itu benar adanya, sebagaimana disampaikan oleh Bupati Aceh Besar.

Ketua Ikatan Ahli Geologi (IAGI), Aceh, Joni R Ahmad, PhD, kepada media ini, Senin, 6 Januari 2020, mengatakan, jika dilihat dari rekaman video yang beredar, sepertinya, peristiwa pergerakan mobil dikawasan ini, lebih dipengaruhi oleh gaya gravitasi lebih dominan, dan pengaruh tersebut dikarenakan adanya perbedaan elevasi, atau kemiringan.

Jikapun kemudian disebut bahwa, botol aqua, yang bukan terbuat dari bahan besi juga bisa menggelinding, hal tersebut semakin menjadi aneh. Dan sudah barang tentu, perbedaan elevasi semakin menegaskan hal tersebut. “Jadi bukan fenomena adanya daya tarik magnet, namun lebih kepada perbedaan elevasi,” sebutnya.

Pengaruh pandangan berupa referensial, dengan kondisi lingkungan juga akan mempengaruhi persepsi. Hal ini memunculkan pseudo atau tipuan matan, seolah jalan menanjak, padahal fakta sebenarnya jalan itu menurun.

Selain itu juga, sambungnya, dirinya telah mendapatkan informasi bahwa, Dinas ESDM telah melakukan survei dan turun langsung ke lokasi yang disebut-sebut mirip ‘Jabbbal Magnet’ itu, dan fakta yang didapati, laju mobil yang terjadi pada lokasi, disebabkan karena adanya perbedaan elevasi, ke arah yang lebih rendah. “Jadi, kesimpulan sementara, peristiwa tersebut bukan karena adanya magnet, tapi karena elevasi,” paparnya. (*SKY)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat