Masjid Tuha Indrapuri, pilihan wisata reliji di Aceh Besar

POPULARITAS.COM – Aceh miliki sejarah dan peradaban yang panjang. Dari catatan yang ada, sebelum kerajaan islam berjaya di daerah ini, pernah ada kebudayaan hindu yang sempat hadir di bumi berjuluk serambi mekkah itu.

Jejak kebudayaan hindu tersebut, salah satunya berada di Masjid Tuha Indrapuri, di Aceh Besar. Menurut sejarawan, tapak tempat berdirinya rumah ibadah umat muslim itu, dahulunya merupakan Candi sisa peninggalan kerajaan hindu.

Kamis (30/6/2022), popularitas.com berkunjung ke situs sejarah Masjid Tuha Indrapuri di Aceh Besar. Sinar mentari menyengat, dan ketika tiba di pelataran rumah ibadah itu, sejumlah orang terlihat hilir mudik hendak menunaikan sholat zuhur.

Menuju Masjid Tuha Indrapuri tidak begitu sulit, jika anda berpergian dengan angkutan udara, dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), jarak perjalanan tidak kurang dari 20 menit dapat mencapai lokasi.

Nah, jika hendak menginap dulu di Banda Aceh, butuh 35 menit perjalanan dari pusat Ibukota untuk mencapai tempat ini. Tempatnya persis di Pasar Indrapuri, Aceh Besar, terpaut 24 kilometer dari dari pusat kota.

Memasuki masjid, terdapat dua gapura persis di gerbang masuk, dibagian atas gerbang yang terbuat dari besi terdapat tulisan Masjid Tuha Indrapuri warna putih yang ditopang dua tembok setinggi 3 meter dominasi hitam kuning terbuat dari batu alam.

Pepohonan berjejer sepanjang jalan menuju bangunan masjid, dan jalan paving Blok menambah kenyamana para pengunjung yang ingin menengok saksi sejarah peradaban negeri ini.

Sebelum mendapati bangunan utama, terdapat undakan sebelas anak tangga persis didepan pintu masuk masjid, dan setelahnya terhampar kolam besar yang diperuntukan bagi jamaah yang hendak cuci kaki sebelum memasuki rumah ibadah itu.

Saksi sejarah kerajaan Hindu di Aceh

Salah satu pengelola masjid, Ismawardi kepada popularitas.com menceritakan, dahulunya bangunan masjid ini merupakan candi yang didirikan oleh kerajaan Hindu Aceh.

Sejarah asal mula kerajaan ini berawal dari kisah adik dari Putra Harsya dari India yang suaminya terbunuh dalam suatu peperangan yang dimenangkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 Masehi, kemudian melarikan diri dari kerajaannya ke Aceh.

Sesampainya di Aceh ia mendirikan sebuah kerajaan. Dan pusat kerjaan itu, Kini menjadi tapak tempat Mesjid Tuha Indrapuri sekarang.

Tuha dalam bahasa Indonesia berarti tua.  Sedangkan Indrapuri sendiri berarti Kuta Ratu.

“Hal ini didasari fakta bahwa didekat Indrapuri terdapat perkampungan orang Hindu, yaitu di kampung Tanoh Abei sekarang. Serta disana banyak pula terdapat kuburan-kuburan orang Hindu,” kata Ismawardi pada Kamis (30/6/2022).

Sambil merapikan peci yang ia kenakan, Ismawardi kembali melanjutkan ceritanya. Konon, pada tahun 700 Masehi Islam mulai masuk di Aceh. Dan sekitar tahun 1618 Islam berkembang di Aceh dan saat itulah pura tersebut dihancurkan.

Kemudian di atas reruntuhan itu dibangun masjid oleh Sultan Iskandar Muda dan sampai sekarang Masjid tersebut masih digunakan oleh penduduk sekitar untuk melaksanakan ibadah.

“Dan saat itulah lamuri ini dialih fungsikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk dijadikan masjid,” ucapnya.

Masjid Tuha memiliki pekarangan luas 33.875 meter persegi dan ditutupi oleh dua tingkatan sekitar satu hingga dua meter. Bentuknya mirip dengan benteng. Di areal masjid juga terdapat dua kolam kecil sebagai tempat berwudhu dan mencuci kaki.

Di samping itu, bangunan ini memiliki tiga tingkatan atap seng, yang setiap tingkatannya menyerupai piramida yang menjadi ciri khas Masjid dipengaruhi budaya Hindu.

Saat pembangunan masjid, Sultan Iskandar Muda mamasang 36 tiang penyangga bersama penopang atap. Dari tiang tersebut masih terlihat beragam bentuk ukiran khas masa kerajaan kuno.

Ornamen tiang-tiang Masjid Tuha Indrapuri. FOTO : popularitas.com/Riska Zulfira

Ukiran dan arsitektur masjid tergolong unik, menurut Ismawardi hampir seluruh bangunan berkontruksi kayu dengan beberapa khas ukiran Arab. Bahan bangunan masjid ini pun berupa beton dengan campuran kapur dan karang laut yang dihancurkan.

“Makanya dindingnya itu sangat kuat, terbukti sudah berabad-abad betonnya masih sangat tahan,” terangnya.

Ismawardi juga mengatakan bahwa candi atau benteng ini terdapat di tiga lokasi berbeda. Ketiga benteng ini dikenal dengan nama “Aceh Tiga Segi” atau “Aceh Lhee Sagoe”. Di Indrapuri, satu lokasi diperuntukkan bagi Ratu Arsya, dua benteng lain berada di pinggir laut sebagai tempat pertahanan.

Adapun kedua kerajan lain berdiri di pinggir laut. Kerajaan itu terletak di Krueng Raya, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, yang disebut Indrapatra. Satu kerajaan lain bernama Indrapurwa. Kerjaaan ini terletak di Gampong Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Masjid yang memiliki ragam khas peninggalan kuno ini memiliki daya tarik terhadap masyarakat sekitar dan bahkan bagi pecinta sejarah dari Negara-negara lain. Salah satunya Malaysia. Para pecinta sejarah dari Negara sahabat ini tiap tahunnya selalu berdatangan untuk melihat dan mengenali lebih jauh seluk beluk masjid Tuha yang bernuansa Hindu tersebut.

“Hanya saja waktu pandemi sempat tertahan, tidak ada wisatawan luar yang berkunjung kesini, kalau sekarang sudah normal kembali,” ucapnya.

Di sini, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1884-1903) dinobatkan sebagai Raja Aceh. Ketika itu, masjid kuno ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Aceh sekaligus basis pertahanan pasukan.

Dan kini, jejak peninggalan sejarah itu dapat diziarahi oleh wisatawan untuk menikmati keindahan arsitektur masjid tersebut.

Meskipun Mesjid Tuha Indrapuri sudah dimasukkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, ternyata pelaksanaan shalat tarawih dan shalat ied masih berlangsung sampai saat ini. (**)

Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong – Disperindag Aceh
Comments
Loading...