MAA Bukukan Hasil Penelitian Nisan Kerajaan Samudera Pasai

BANDA ACEH (popularitas.com) – Hasil penelitian Majelis Adat Aceh (MAA) terhadap Batu Nisan di Kerajaan Samudera akhirnya dibukukan. Ada empat lokasi situs makam Kesultanan Samudera Pase dalam Kecamatan Samudera, Aceh Utara yang menjadi objek dalam penelitian tersebut.

Masing-masing lokasinya adalah situs Sultan Malikussaleh di Beuringen, situs makam Kuta Kareung, Situs Batei Balee di Desa Meucat, dan situs makam Empatpuluh Empat.

Penelitian ini melibatkan lembaga Penelitian Pasee (PIR) yang bekerja sama dengan Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Utara dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Saifuddin Dhuhri, salah satu dosen dari Universitas Malikussaleh (Unimal), seperti rilis yang diterima popularitas.com, Selasa, 29 Oktober 2019 menyebutkan, ada empat ornamen khas yang ditemukan di situs-situs makam tersebut.

Pertama simbol “Kande” dan “Pisang Dua”. Simbol Kande menurutnya melambangkan penda`i yang menyiarkan Islam di Asia Tenggara. “Sebagaimana Islam selalu disimbolkan dengan cahaya, maka kande melambangkan ulamanya. Sedangkan simbol Pisang Dua bermakna kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Samudra Pasai pada masa gemilangnya,” kata Saifuddin.

Ornamen khas kedua adalah “Bungong Kalimah”, yaitu kaligrafi dengan berbagai varian dan ragamnya.

Tgk Zulfikar, salah satu kaligrafer Aceh mengatakan Pase terdapat banyak ragam kaligrafi, dominannya tsulust, kufi dan nasakh. Corak tsulust-nya banyak dipengaruhi oleh likok Turki, sementara tipe naskh mencirikan khat terawal dari perkembangan seni khat dalam dunia Islam.

Adapun ornamen ketiga adalah “Bungong Geometrik”, ornamen yang dibentuk dari gabungan bentuk-bentuk geometri seperti segi tiga, segi empat, bulat dan lainnya.
Sementara ornamen khas ketiga adalah “Bungong Kayei” yang terdiri bunga-bunga kayu yang hidup dan tumbuh di Samudra Pase atau bentuk Arabesque.

“Ornamen Kesultanan Samudra Pasai dan Aceh sangat kaya. Jikalau didekati dengan kajian semiotika, iconography dan iconometrik, maka akan sangat terbuka lebar betapa kayanya khazanah kesenian dan budaya Aceh,” ujar Yudi Andika mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh.

Dia mencontohkan ukuran ketebalan batu nisan, dan penggunaan ikon-ikon tertentu dari nisan. Semua itu menurutnya menujukan kedudukan sosial pemilik nisan.

Sementara Hermansyah selaku filolog Aceh menjelaskan bahwa Pase sudah terkenal melalui naskah Samudra Pasai. Dia menyebutkan dengan keagungan sejarah Pase seharusnya daerah ini memiliki ikon khusus yang dapat dikenal dengan mudah. “Ikon ornamen ini menjadi identitas daerah Pase ini,” kata pria yang juga berstatus sebagai dosen di UIN Ar Ranirry tersebut.

Senada dengan Hermansyah, arsitektur dan juga dosen dari Unimal, Adi Safyan, menguraikan bagaimana menggunakan ornamen ini pada gedung, void ruangan dan lainnya.

“Saat ini hasil penilitian Tim MAA Aceh Utara tersebut sudah kita bukukan dengan judul buku “Pedoman Ornamen Aceh Utara Sebagai Peninggalan Indatu.” Buku ini pertamakali diterbitkan pada tahun 2017, selanjutnya pada tahun 2019 ini buku tersebut dicetak untuk kedua kalinya,” katanya.

Dia berharap dengan kehadiran buku ini dapat memberikan petunjuk dan arahan tentang pentingnya metode penggunaan ornamen Samudra Pase bagi para praktisi dan peneliti, serta guru yang berada di lingkungan Aceh Utara khususnya, dan Aceh pada umumnya. Terkait hal ini, MAA Aceh Utara, bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, serta lembaga Penelitian Pase (PIR) telah melaksanakan sosialisasi buku tersebut di MAA pada Selasa, 22 Oktober 2019 lalu.* (RIL)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat