Lima Hari Kunker, Irwandi Hanya Habiskan Anggaran Rp 1,125 Juta

BANDA ACEH –  Dalam bulan Oktober 2017 Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) selama lima hari ke beberapa kabupaten/kota di Aceh dengan pesawat pribadinya. Selama perjalan, Irwandi hanya menghabiskan dana Rp 1,125 juta.

Perjalan untuk memantau sejumlah proyek sumber  APBA dan Otsus tersebut berlangsung  mulai tanggal 25 hingga 30 Oktober.  Anggaran sebesar Rp 1,125 juta tersebut digunakan untuk membeli 125 liter sebagai bahan bakar pesawat shark Aero buatan Slowakia miliknya.

Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh, Mulyadi Nurdin, Lc, MH, Kunker oleh Gubernur Aceh itu merupakan penghematan luar biasa dalam melakukan kunjungan ke daerah.

“Ada 10 kabupaten dan kota yang dikunjungi oleh gubernur untuk meninjau proyek-proyek APBA dan Otsus tahun 2017 dengan biaya yang sangat murah, dan ini tidak bisa dilakukan jika bukan dengan pesawat terbang,” ujar Mulyadi Nurdin, Rabu (01/11/2017).

Ia mencotohkan, perjalanan gubernur dari Banda Aceh ke Aceh Tenggara, jika dilakukan dengan jalan darat akan menghabiskan biaya per mobil tidak kurang dari Rp. 1 juta, ditambah lagi dengan kebiasaan konvoi puluhan mobil lainnya yang mengiringi rombongan gubernur, yang tentunya sekali jalan menghabiskan biaya puluhan juta rupiah.

“Dengan menggunakan pesawat, konvoi kendaraan tidak dilakukan, karena gubernur langsung ke daerah tujuan via udara dan setiba di lokasi langsung menggelar pertemuan dengan bupati/walikota setempat dan melakukan peninjauan proyek-proyek pembangunan,” lanjutnya lagi.

Perjalanan gubernur , tambah Mulyadi, dengan mengelilingi Aceh menempuh jarak sejauh 1.700 kilometer menghabiskan total waktu 6,5 jam terbang. Dalam perjalanan Irwandi Yusuf terbang bersama Ketua Pengendali dan Percepatan Kegiatan (P2K) APBA Aceh Taqwallah.

Gubernur Irwandi memulai penerbangannya dari Bandara SIM Blang Bintang, Aceh Besar menuju Kabupaten Simeulue, kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Sabang dan kembali ke Bandara SIM.

“Perjalanan udara ini bisa menghemat waktu dan biaya, karena kalau transportasi darat selain jarak tempuh yang menghabiskan cukup banyak waktu, dengan iringan kendaraan yang cukup panjang, jangkauan dari satu daerah ke daerah lainnya juga memerlukan banyak biaya,” ujar Mulyadi Nurdin.

Apalagi kata Mulyadi, di Aceh saat ini  sudah tersedia 11 bandara yang bisa didarati pesawat: Bandara Sultan Iskandar Muda (Aceh Besar), Bandara Rembele (Bener Meriah), Bandara Malikul Saleh (Aceh Utara), Bandara Exxonmobil Oil (Lhoksukon).

Kemudian, Bandara Cut Ali (Tapak Tuan), Bandara Maimun Saleh (Sabang), Bandara Senubung (Gayo Lues), Bandara Syekh Hamzah fansuri (Singkil), Bandara Kuala Batee (Abdya), Bandara Cut Nyak Dhien (Nagan Raya) dan Landasan Perintis Kuala Langsa (Langsa).[jam/rel]

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.