Kisah Muslim Amerika yang Bertahan

TAK ada yang bisa dilakukan selain menyaksikan gedung berkubah tembaga di kota minyak Victoria di selatan Texas itu habis terbakar.

Musnah sudah masjid yang menjadi tempat perayaan kelulusan putri Abe Ajrami, bersama teman-teman SMA-nya, masjid yang dikunjunginya bersama keluarga setiap hari Jumat untuk salat dan bercengkerama.

“Saya berusaha menahan diri,” ujar Ajrami, orang Amerika keturunan Palestina yang segera berlari menuju masjid begitu mendapat telepon. Dia menceritakan kejadian itu di ruang tamu, sementara istrinya, Heidi, seorang mualaf asli Amerika, duduk di sebelah kanannya dan kedua putrinya duduk di sebelah kirinya, sedangkan putranya sedang tidur di lantai atas.

Keluarga ini mengingatkan saya pada keluarga saya sendiri. Ayah saya, yang berasal dari Libanon, juga datang ke Amerika Serikat untuk mendapatkan pendidikan dan masa depan yang lebih baik, seperti halnya Ajrami. Ibu saya dulu menganut Unitarian Universalisme, seperti Heidi, bertemu dengan calon suaminya di kampus, kemudian menjadi mualaf. Orang tua saya membesarkan lima anak Muslim Amerika yang berkulit khas sawo matang.

Ajrami, yang lahir dari keluarga miskin di Jalur Gaza, bersekolah di sekolah keperawatan karena hanya sekolah itulah yang biayanya terjangkau. Pada 1994, seorang teman membantunya mendapatkan visa dan beasiswa di Omaha, Nebraska. Di sana dia berkenalan dengan Heidi, anak tentara kelahiran Texas. Mereka pindah ke Victoria ketika Heidi mendapat pekerjaan di sana sebagai dosen bahasa Inggris di kampus, sedangkan Ajrami menjadi direktur perawat di sebuah rumah sakit. Ajrami sekarang menjalankan usaha penyedia staf medis, dan keluarga itu tinggal di sebuah rumah besar, lengkap dengan kolam renang.

Pada malam ketika masjid itu dibakar, 28 Januari 2017, Ajrami hanya bisa menyaksikannya bersama sejumlah orang dari masyarakat minoritas Muslim ini. Hanya beberapa jam sebelumnya, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk melarang masuk orang-orang yang datang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Kebakaran itu, yang diduga dilakukan seorang penyulut kebakaran yang telah didakwa dengan kejahatan kebencian, mengakibatkan beberapa bagian gedung masjid ini roboh. Ajrami memotret masjid itu dan mengunggahnya ke Internet. “Kami akan membangunnya kembali, dengan CINTA!” tulisnya dalam keterangan foto. Unggahan ini pun menjadi viral. Hanya dalam hitungan hari masjid itu mendapat donasi senilai 13 miliar rupiah. Kota Victoria pun bersatu untuk mendukung mereka. Bahkan, hingga kini mereka mendapat kiriman cek.

Ajrami dengan jelas melihat tugas yang dihadapinya. “Semula, saya tidak ingin cap itu, Muslim, menjadi satu-satunya identitas saya. Namun, karena kebakaran itu kami harus berada di garis depan,” ujarnya. Ajrami menyediakan waktu untuk media dan memberikan ceramah tentang agamanya.

“Kita harus menarik napas dalam-dalam karena pada titik tertentu kita mulai mempertanyakan diri kita sendiri,” ujarnya. “Mengapa saya melakukan ini? Mengapa saya harus membuktikan kepada orang lain bahwa saya orang baik?”

Saat ini sekitar 3,45 juta Muslim di Amerika hidup dalam iklim kebencian. Agama mereka didistorsi oleh ektremis garis keras di satu sisi dan gerakan anti-Muslim di sisi lain. Maraknya permusuhan dipicu oleh retorika anti-Muslim dari para pengamat dan politisi konservatif. Trump berulang kali menggambarkan Islam sebagai ancaman, meneruskan kicauan (retweet) video anti-Muslim dari grup Inggris pengumbar kebencian dan menjaga jarak dari agama ini.

Foto: National Geographic/Lynsey Addario

Masjid Ajrami merupakan satu dari 100 lebih masjid yang menjadi target ancaman, vandalisme, atau pembakaran di seluruh Amerika. Pada 2016, FBI mencatat peningkatan sebesar 19 persen dalam insiden terhadap Muslim dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Anak-anak Muslim dilaporkan lebih cenderung menjadi korban penindasan daripada anak-anak dari agama lain.

Meskipun demikian, komunitas Muslim di Amerika semakin berkembang. Pakaian sederhana untuk wanita berhijab dibuat oleh kaum Muslim di AS, dan Macy’s sekarang menjual busana Muslimah. Aneka produk halal, tersedia di Costco dan Whole Foods. Mattel bahkan meluncurkan Barbie Muslim. Ada berbagai jurusan kuliah Muslim di Berkeley, California, dan sekolah pascasarjana di Claremont, California. Kegiatan komunitas semakin berkembang, dan para aktivis Muslim membentuk persekutuan dengan komunitas marginal lainnya.

Sebagai reaksi atas penargetan mereka, sejumlah Muslim kini terjun ke dunia politik. Kelompok seperti Pluralism Project mendukung dan melatih puluhan kandidat Muslim di Maryland untuk bersaing dalam pemilu. Ada dua orang Muslim di Kongres dan lebih banyak lagi mencalonkan diri dalam pemilu tahun ini.

Para imigran yang relatif baru dan anak-anak mereka adalah bagian terbesar dari penganut agama Islam. Kebanyakan imam salat di Amerika tidak lahir di Amerika. Namun, ada juga sejumlah besar pemimpin dan cendekiawan Muslim yang fasih dalam bahasa generasi Muslim yang dibesarkan di AS. Hampir separuh Muslim di Amerika lahir di Amerika. Hampir separuhnya adalah generasi milenial dan baru berusia dewasa setelah 11 September 2001.

Salah seorang pemimpin yang dapat dipahami generasi ini adalah Usama Canon, pendakwah keturunan kulit hitam-kulit putih dari California. Dia menjadi mualaf pada 1996.

“Seorang ulama besar berkata bahwa Islam itu seperti aliran air yang murni dan jernih yang warnanya sama dengan warna dasar sungai yang dilaluinya,” ujar Canon, yang berbicara dengan saya di sebuah masjid di Houston. “Jadi, saya harap Muslim di Amerika bisa mewarnai hamparan bebatuan di dasarnya dengan cara yang indah dan bisa berperan dalam proyek Amerika dengan cara seperti aliran air itu, yang khas Amerika dan menonjolkan warna dan cita rasa Amerika, tetapi tetap berjiwa otentik seperti tradisi Islam.”

Warna dan cita rasa itu berasal dari beragamnya komunitas Muslim yang belum pernah saya lihat dalam satu dekade lebih menulis tentang dunia Muslim. Islam adalah salah satu agama yang paling beragam di Amerika Serikat. Dengan penganut berasal dari sekitar 75 negara, saya menemukan keragaman ras, praktik ibadah, kelas, budaya, dan bahasa yang hanya pernah saya lihat sekali sebelumnya—di Mekah, saat menunaikan ibadah haji.

Penjelajahan saya tentang Islam di Amerika mempertemukan saya dengan para mualaf Sufi, yang kebanyakan berkulit putih, di pedesaan Pennsylvania yang bermeditasi, menyembah Tuhan, dan bertani bersama di sebuah tempat peristirahatan spiritual. Tempat ini dinamakan Farm of Peace yang memiliki atmosfer yoga dan alami. Sang imam, sering melakukan terapi bekam dan akupunktur. Dia juga peternak dan jagal di pertanian seluas 42 hektare ini.

Saya berkenalan dengan sejumlah Muslim Bosnia di Chicago yang sedang mendengarkan paduan suara anak perempuan yang menyanyikan pujian untuk Nabi Muhammad. Saya masuk ke masjid yang selalu didatangi ayah saya, sebuah majelis Syiah Asia Tenggara, di sebelah mal di daerah pinggiran Chicago. Di pintunya terdapat kunci digital baru untuk keamanan tambahan. Imam di sana mendorong jemaah untuk menggunakan hak pilih, mencalonkan diri dalam pemilu, dan terlibat dalam organisasi dan layanan masyarakat. Dan saya mengunjungi komunitas besar Muslim Arab di Dearborn, Michigan, tempat tinggal sebagian besar keluarga ayah saya. Di sana, orang menggunakan campuran bahasa Arab dan Inggris dalam bahasa slang setempat, rambu ditulis dalam dua bahasa, dan masakan Timur Tengah lebih lazim daripada piza.

Di Houston, saya menghabiskan waktu di masjid pertama di Amerika yang menggunakan bahasa Spanyol, Centro Islamico. Masjid itu mulai digunakan pada 2016. Latino adalah salah satu populasi Muslim yang paling cepat berkembang. Pendiri masjid ini, Mujahid Fletcher, mengatakan bahwa Islam adalah jalannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik setelah sebelumnya pernah terlibat dalam geng. Dia menjadi mualaf tepat sebelum peristiwa 11 September, jadi sulit baginya untuk menjelaskan agama barunya kepada keluarganya yang menganut Katolik Roma. Saat itu, tidak banyak buku berbahasa Spanyol tentang Islam atau ulama berbahasa Spanyol untuk menghilangkan ke-salahpahaman. Masjidnya sekarang menerbitkan buku-buku tersebut dan menyi-arkan khotbah melalui Internet dalam bahasa Spanyol, Inggris, dan Arab.

Setiap penggambaran Muslim AS harus menyertakan penganut kulit hitam Amerika. Mereka berjumlah setidaknya seperlima dari keseluruhan Muslim Amerika. Islam sering disebut sebagai agama tidak resmi hip-hop. Praise to Allah, sebutan untuk Tuhan dalam bahasa Arab, dan sejumlah frasa lain, disisipkan dalam lirik seniman terkenal. Harlem di New York City masih dihuni oleh komunitas historis Muslim Kulit Hitam dengan plang di sejumlah restoran yang berbunyi, “No Pork on My Fork, Tidak Ada Babi di Garpu Saya.” Di Los Angeles Selatan, Jihad Saafir, seorang imam dan putra ulama Muslim Kulit Hitam, mengubah masjid di toko ayahnya menjadi pusat komunitas dan sekolah yang dinamis yang mengajarkan sejarah Islam melalui kacamata pemberdayaan dan sejarah bangsa Afrika dan orang AS asal Afrika.

Di masjid Saafir-lah, Hamidah Ali duduk di sebelah saya saat berbuka puasa Ramadan dengan makanan Cina yang halal. Saya bertanya padanya tentang apa arti Islam di Amerika baginya. “Islam itu keren,” jawab Muslim Amerika keturunan Afrika generasi kedua yang berusia 27 tahun itu. Anting-anting bulat besar menyembul dari balik kerudung turbannya, dan dia menyebutkan beberapa orang idolanya, mulai dari artis hip-hop hingga muslim Amerika paling terkenal, almarhum Muhammad Ali. Ali memang sosok kontroversial selama kariernya—penentang sejati Perang Vietnam, Muslim Kulit Hitam yang bangga, yang populer di kalangan aktivis hak-hak sipil—tetapi perjuangannya untuk keadilan sosial di kemudian hari membuatnya menjadi ikon budaya. Pemakamannya secara Islam disiarkan di setiap jaringan besar TV AS.

Saat Canon, pendakwah dari California, berbicara di hadapan ratusan jemaah yang kebanyakan generasi milenial di daerah pinggiran Houston di Maryam Islamic Center—dia dengan lancar berpindah-pindah dari istilah slang ke lelucon ke kutipan Alquran. Mereka bertanya kepadanya tentang cara menangani kebiasaan yang membuat mereka kesal: wanita dihakimi karena mengenakan rias wajah di ruang salat atau orang tua imigran yang mengharapkan Anda menikah dengan orang yang berbudaya sama. Jawaban darinya dikemas dalam aneka cerita apa adanya, yang menggabungkan antara pengalaman pribadi dengan ajaran Islam tentang belas kasih, cinta, dan rasa hormat.

Itulah landasan organisasinya, Ta’leef Collective. Dengan dua kampus di Freemont, California, dan Chicago, Canon berusaha menciptakan ruang penerimaan yang terutama melayani generasi muda Muslim dan mualaf.

Foto: National Geographic/Lynsey Addario

Bagi Muslim kelahiran Amerika, ada kalanya masjid bisa terasa seperti tempat asing, dengan kerumunan imigran dari berbagai negara. “Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang sepenuhnya menerima sehingga orang bisa datang kapan saja,” ujar Canon, “dan dengan keinginannya sendiri.”

Orang-orang Muslim pertama dibawa ke Amerika sebagai budak pada abad ke-16, yang kebanyakan dari Afrika Barat. Di Dunia Baru, menurut para cendekiawan, 10 sampai 20 persen budak adalah Muslim. Karena dilarang melakukan ibadah agamanya, mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi, sehingga pelan-pelan Islam pun lenyap bersama keluarga yang membawanya ke Amerika.

Namun, unsur Islam dibangkitkan kembali di komunitas Amerika keturunan Afrika melalui gerakan nasional kulit hitam dan pergerakan hak-hak sipil sebagai alat pemberdayaan, yang dipandang sebagai reklamasi budaya yang pernah dirampas dari masyarakat. Kebangkitan ini dimulai dengan pergerakan seperti Nation of Islam. Namun, kini mayoritas melakukan bentuk yang lebih lazim dalam beragama.

Gelombang pertama imigran Muslim dalam sejarah modern dimulai pada akhir 1800-an; kebanyakan berasal dari daerah Levant, mencari peluang ekonomi dan umumnya menetap di wilayah Barat Tengah. Namun, semua pintu tertutup bagi Muslim pada 1924, melalui undang-undang keimigrasian yang melarang imigran dari Asia. Pada 1965, gelombang berikutnya dimulai, ketika undang-undang baru membuka kembali AS untuk didatangi warga dunia. Kelompok imigran Muslim terbesar berasal dari Asia Selatan. Sekarang terdapat lebih dari 2.100 masjid di seluruh AS.

Namun, bagi sebagian orang, memiliki masjid sendiri masih merupakan angan-angan, seperti keluarga Muslim di pedesaan Santa Clara County, selatan San Jose, California.

Lumbung di pertanian Mohammed Idris Hussain di San Martin—yang menjadi tempat tinggal veteran Perang Vietnam asal Fiji-Amerika ini bersama keluarganya sejak 1980-an—tidak lagi digunakan untuk mengandangi domba. Lumbung itu digunakan Komunitas Islam South Valley yang beretnis campuran untuk beribadah.

Pada awalnya, ini dimaksudkan sebagai solusi sementara, Komunitas ini mengumpulkan uang, membeli sepetak lahan, dan menyusun rencana untuk mendirikan Cordoba Center. Lebih dari satu dekade setelah langkah pertama itu, komunitas ini kini berjumlah sekitar seratus keluarga, dan mereka masih tetap menggunakan lumbung Hussain untuk beribadah.

Komunitas ini telah menghabiskan sekitar 41 miliar rupiah dalam usahanya untuk membangun masjid ini, tetapi pusat dakwah Islam ini masih sekadar cetak biru di dapur Sohail Akhter. Orang Amerika keturunan Pakistan ini adalah pimpinan proyeknya. “Menebar ketakutan adalah senjata terhebat yang mereka gunakan untuk melawan kami karena jumlah kami hanya sedikit,” ujarnya, sambil menjelaskan bahwa pihak penentang menuduh mereka sedang berusaha membangun pusat pelatihan teroris. “Tidak banyak orang di sini yang pernah berjumpa dengan seorang Muslim. Mereka menghubungkan kami semua dengan terorisme. Mereka ketakutan.”

Penentang utama mereka adalah Gilroy-Morgan Hill Patriots dan People’s Coalition for Government Accountability. Patriot mengunggah retorika anti-Muslim di Facebook dan mensponsori pembicara anti-Muslim di perpustakaan.

Pemimpin Patriot mengatakan bahwa perlawanannya bukan tentang Islam tetapi tentang lingkungan. “Pada dasarnya orang-orang ini datang dan mengintimidasi masyarakat,” ujar Georgine Scott-Codiga. “Mereka mendominasi lalu-lintas, mobil, menimbulkan kebisingan. Kami sebenarnya hanya ingin melindungi kawasan itu.” Namun, tambahnya, dia dapat memahami orang-orang yang khawatir bahwa orang Muslim akan mengubah “jalan hidup” mereka.

Advokat hak-hak sipil mengatakan bahwa penggunaan masalah lingkungan merupakan taktik yang biasa digunakan oleh kelompok anti-Muslim untuk menghalangi pembangunan masjid dan pekuburan Muslim. Argumen serupa telah digunakan untuk menghalangi, atau mencoba menghalangi, berbagai proyek yang diselenggarakan di Georgia, Massachusetts, Minnesota, Tennessee, dan Texas.

Pada pertemuan pertama tentang penggunaan lahan di hadapan komisi perencanaan wilayah pada 2012, Akhter dan anggota komunitas Muslim lainnya diteriaki dan disuruh pulang kembali ke negaranya masing-masing.

“Saya sudah tinggal di sini sejak 1990, dan saat itulah untuk pertama kalinya saya benar-benar memiliki perasaan takut,” ujar Akhter. “Saya dibesarkan di Fort Wayne, Indiana, yang dulu menjadi sarang kegiatan KKK, dan tidak pernah melihat hal semacam ini sebelum terjadinya peristiwa 11 September.”

Perebutan lahan masjid dan pemburukan citra Muslim menimbulkan efek negatif pada anak-anak Akhter yang dibesarkan di Amerika. Dia melihat mereka menjauhkan diri dari agama setelah ditindas di sekolah dan disebut teroris. Nudrat, istri Akhter, seorang agen realestat, sekarang takut untuk sendirian menunjukkan rumah yang dijualnya. “Ada kalanya saya merasa tidak aman; kadang dia menemani saya,” ujarnya, sambil menunjuk ke arah suaminya.

Nudrat khawatir orang mungkin akan bereaksi negatif melihatnya berkerudung. Ada beberapa insiden yang membuatnya syok. “Saat itu saya sedang di Costco, dan seorang wanita menghampiri saya, menyodorkan buklet kecil, dan berkata, ‘Anda mungkin akan senang membacanya,’” ujarnya. “Saya tak menyadari apa isi buklet itu, dan ketika membukanya, ternyata itu buku komik Muslim yang mengatakan, ‘Oh, kami akan membunuh semua orang.’ Itu ditujukan untuk mengolok-olok Muslim, dan saat itu saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Kejadian itu tak terduga.”

Penghinaan itu telah memicu kemarahan, ujar Akhter, tetapi juga membuat umat Islam di sini lebih tegas dalam membela agamanya dan hak-haknya. “Ini rumah kami,” ujar Akhter. “Jika ada orang datang dan mengusir Anda dari rumah—apakah Anda akan menyerah? Itu pemikiran yang paling tidak masuk akal.”

Terlepas dari masalah yang dihadapi, Bakri Musa, seorang ahli bedah Amerika keturunan Malaysia di komunitas ini, mengatakan dia lebih senang menghadapi tuntutan hukum daripada jenis tuntutan lain. “Saya lebih senang bila mereka menuntut kami daripada membakar masjid. Tantangan ini lebih terukur,” ujarnya.

Itu yang Musa sukai tentang menjadi Muslim di Amerika: hak berekspresi dan beribadah dilindungi. Dia menunjuk ke beberapa rak di rumahnya yang sederhana. Rak itu dipenuhi beragam buku karya ulama Sunni dan Syiah.

“Inilah tempat yang tepat untuk menjadi Muslim, keilmuan tanpa intervensi,” ujarnya. “Di Malaysia, saya bisa dipenjara karena memiliki karya tulis Syiah di rumah saya.”

Keesokan hari setelah kami berbicara, masjid menyewakan aulanya untuk penyelenggaraan makan malam lintas agama dengan pemimpin Yahudi dan Kristen, serta tamu lainnya. Musa dan istrinya, Karen, seorang Amerika asal Kanada, duduk di samping pasangan Yahudi, menjelaskan hidangan Asia Selatan. Kini, kegiatan semacam ini semakin sering dilakukan—kerja sama lintas agama, pelayanan masyarakat. Tidak peduli betapa lantangnya suara para penentang, mereka mengatakan bahwa mereka diterima di masyarakat dan berharap segera memiliki masjid sendiri.

Banyak generasi muda Muslim Amerika yang merasa lelah harus terus menjelaskan tentang diri mereka atau berbicara atas nama umat Islam. Mereka mencari tempat tinggal yang menggabungkan keyakinan mereka dan kepekaan Amerika.

Saya berkenalan dengan Rami Nashashibi di South Side, Chicago, tempat beroperasinya Inner-City Muslim Action Network (IMAN) selama dua dekade. Dia menyeberang dari klinik dan perkantoran di satu sisi jalan ke restoran Meksiko di sisi lain yang diubah menjadi tempat salat, kafetaria, dan ruang kantor tambahan.

Aktivis komunitas Islam berusia 46 tahun ini mendirikan tempat itu untuk digunakan umat Islam melayani orang-orang yang kurang beruntung. Kini dia telah membangun koalisi umat Islam—kulit hitam, Asia Selatan, Arab, kulit putih, Latino—untuk menggunakan keyakinan Islam, dalam menangani masalah sosial yang menjangkiti masyarakat.

Orang tua Nashashibi adalah orang Arab yang tidak religius. Dia mendapatkan hidayah, seperti kebanyakan mualaf Amerika, melalui hip-hop dan pergerakan keadilan sosial.

Sekarang Nashashibi dan stafnya di IMAN bekerja sama dengan para pemilik toko kecil di sudut jalan untuk membawa makanan segar dan lingkungan yang lebih ramah—seperti tidak memasang jeruji di jendela—ke daerah ‘kering makanan’ di lingkungan berpenghasilan rendah. Mereka melibatkan penduduk setempat dalam organisasi masyarakat, menyediakan layanan kesehatan gratis, dan menjalankan program pemasyarakatan untuk para mantan narapidana. Para narapidana ini keluar dari penjara dengan berbekal sedikit uang dan sering kali tidak mendapat dukungan dari keluarga.

Saya berkunjung di bulan Ramadan, waktu paling sibuk di IMAN. Untuk buka puasa kali ini, makan malam komunitas disajikan di lahan parkir di belakang klinik. Sejumlah penjual menjajakan jus dingin, pai kacang, dan perhiasan warna-warni. Para tamu berasal dari lingkungan sekitar: penggerak komunitas, politisi, pemim-pin agama, dan teman. Di latar belakang terpampang lukisan mural di gedung IMAN, yang menampilkan salah satu ayat Alquran. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Nashashibi menyampaikan sambutannya. “Baik memberikan layanan kesehatan ataupun membangun rumah, kami paham bahwa Anda harus melakukannya dengan membangun kekuatan, menjalin hubungan, membina persekutuan,” ujarnya. “Anda akan terus melihat kami—seperti yang kita lihat, sejak pemilu ini—menggunakan tagar ‘Fight Fear, Build Power’ (Lawan Ketakutan, Bangun Kekuatan) sebagai tanggapan terbaik untuk situasi yang sedang kita hadapi.”

“Mana suaranya?” ujarnya kepada hadirin. “Fight fear!” serunya. Hadirin pun berteriak, “Build power!”

Keesokan harinya, tim dari IMAN mendatangi sebuah toko kelontong, Morgan Mini Mart, untuk menghadiri acara yang disebut Refresh the ‘Hood. Di luar toko, pembawa acara menyanyikan lirik lagu Tupac, bernyanyi rap. “The sweeter the juice, the deeper the roots.” Kepada pejalan kaki, para relawan memberikan smoothies segar dan salsa mangga yang terbuat dari produk yang dijual di toko.

Sadia Nawab, 28 tahun, manajer bidang seni dan budaya untuk IMAN, duduk di trotoar di luar toko bersama dua orang remaja yang sedang melukis di atas media tempat sampah untuk memperindah toko.

Dia putri imigran Pakistan, dibesarkan di lingkungan imigran mayoritas Arab di pinggiran kota Chicago, dan bersekolah di sekolah yang mayoritas kulit putih. “Saya tahu saya Muslim,” ujarnya. “Saya hanya tidak tahu apa artinya itu. Dan orang mengotak-ngotakkan Anda: Arab, Muslim, imigran, tidak bisa bahasa Inggris. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

Melalui IMAN, dia mulai mengetahui apa artinya menjadi Muslim. “Saya mengalami perubahan, melakukan tugas sangat berat menghadapi masyarakat di South Side, Chicago,” ujarnya. “Saya mampu berkembang, secara emosional dan mental. Saya baru berusia 17 tahun ketika mulai menjadi relawan, dan itu adalah usia yang berharga.” Katanya, dia butuh mentor yang memahami dirinya sebagai remaja Muslim Amerika. Itu yang ditemukannya di IMAN. “Di sini saya tidak selalu merasa seperti orang asing. Rasanya nyaman,” ujarnya.

IMAN adalah cara untuk membuat Islam relevan bagi umat Islam Amerika, ujar Nashashibi, terutama bagi mereka yang sedang mencari tujuan dan hubungan dengan agama yang sering digambarkan sebagai ancaman asing. “Kami berusaha menjunjung tinggi warisan semangat Islam yang sarat perubahan, memberdayakan, dan mengilhami, yang tidak terus berusaha meminta maaf dan menjelaskan dirinya,” ujarnya.

Ini adalah penawar, ujarnya, untuk rasa apatis yang membuat orang menjauh dari agama atau untuk rasa rapuh, kehilangan hak, dan kegeraman yang membuat orang melakukan kekerasan, baik di South Side, Chicago atau di medan perang Suriah dan Irak. Dan AS, ujarnya, adalah tempat terbaik untuk menjadi Muslim saat ini. “Amerika selalu menyediakan, bahkan di waktu yang paling kelam sekalipun, ruang untuk ditaklukkan agar orang bisa mewujudkan cita-citanya yang belum tercapai.”*

Sumber: National Geographic

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat