Kilang Sagu di Lhokseumawe Kekurangan Bahan Baku

LHOKSEUMAWE – Sebuah kilang sagu di Jalan Alue Raya, Gampong Kumbang Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, mampu menghasilkan sebanyak 30 ton sagu dalam seminggu. Olahan dari batang rumbia ini dipasok ke Medan, Sumatra Utara.

Salah seorang pengelola kilang sagu, Rizki (28). mengatakan kilang penggiling sagu tersebut berdiri sejak 15 tahun lalu. “Sekali pengiriman bisa mencapai 240 karung,” kata Rizki, Rabu (18/4).
Sagu ini dijual seharga Rp 2.200 per kilogram. Untuk memperoleh bahan baku, Rizki mengaku mulai kesulitan karena pohon ini mulai langka. Dari harga Rp 17 ribu per meter, kini batang rumbia itu dihargai Rp 25 ribu per meter. Bahan ini banyak dipasok dari Aceh Utara dan Bireuen.

Batang pohon yang dipotong-potong ini digiling sehingga mengeluarkan sari dan diolah menjadi tepung. Pengolahan harus menunggu tempat penampungan sari pati itu penuh. Biasanya dibutuhkan waktu selama satu minggu dengan menghabiskan 1.300 meter batang rumbia.

Ada dua orang yang ditugaskan menggiling batang rumbia tersebut. Setiap pekan, Rizki memerlukan lima tenaga bongkar muat yang digaji Rp 80 ribu. “Kalau bahan bakunya lancar, produksinya bisa dipertahankan atau bahkan meningkat,” kata Rizki.

Sagu adalah bahan pangan yang digunakan masyarakat Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Beberapa waktu lalu, di Aceh Barat, dikemukakan wacana menjadikan sagu sebagai makanan pokok pengganti beras. (Sumber : Ajnn.net)

-ads-

-ads-

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.