Kiamat Pemilu Kita

“PEMILU yang benar-benar memilukan. Lebih 300 meninggal dan lebih 1000 jatuh sakit. Wahai kalian yang menang dengan cara curang, berpestalah kalian kelak di atas kuburan dangkal mereka yang meninggal begitu mengenaskan.” —Abdul Hadi WM

Kalimat di atas saya ambil dari status Prof. Dr. Abdul Hadi WM di akun Facebook (FB), 30 April 2019. Di mataku, Abdul Hadi bukan sekadar sastrawan, filsuf, dan budayawan. Ia adalah orang tua yang hebat. Status FB kakek kelahiran Sumenep 1946 ini seringkali saya ikuti. Saya seringkali sependapat dengan pikiran-pikirannya. Banyak yang saya peroleh dari yang ia posting itu. Saya jarang sekali berkomentar, atau sekadar memencet tombol tanda suka, karena saya ingin mengaguminya secara diam-diam.

Status tokoh bernama lengkap Abdul Hadi Wiji Muthari di atas boleh jadi terasa kadaluarsa, karena dua hari kemudian petugas yang menjadi korban Pemilu 2019 sudah bertambah-tambah: sudah 474 orang petugas KPPS yang meninggal dunia dan 3.500 jatuh sakit. Ini pula yang mengundang Din Syamsudin mendesak dibentuknya Tim Pencari Fakta atau TPF.

Desakan yang sama juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie. “”Ini jumlah korban jiwa yang sangat banyak. Ini tidak bisa didiamkan dan merupakan tragedi nasional,” ucap Ical

Ical benar. Tragedi ini bukan peristiwa biasa. Sejumlah media massa asing pun terus menerus memberitakannya. Sebab baru kali ini, dalam sejarah perhelatan demokrasi umat manusia ada kejadian yang begitu tragis.

Tragedi lainnya dalam Pemilu 2019 adalah tentang kecurangan yang tanpa malu dipertontonkan kepada rakyat. Itu sebabnya, Tim Relawan IT Prabowo-Sandi meminta Bawaslu menghentikan Situng KPU dengan melaporkan bukti kesalahan input luar biasa, yakni sebanyak 73.715 error input dari 477.021 TPS.

Inikah demokrasi kita? Pemilu berlimpah “tumbal”. Rakyat mendapat sajian atraksi brutal, kecurangan, ketidakjujuran, kemunafikan, adigang adigung adiguna, terus dan terus. Rakyat menjadi letih dan muak. Tepat kiranya apa yang ditulis Abdul Hadi, yang mengutip sebuah sajaknya tahun 1978, baris terakhir, “Kebohongan satu-satunya tempat berdiri hari ini.”

Emosi rakyat diaduk-aduk, di sisi lain mereka juga diminta sabar dan menerima dengan ikhlas. Lagi-lagi Abdul Hadi mengungkit kesadaran kita, “Politik adalah permainan yang mendebarkan dan menegangkan seperti lakon Hamlet atau Damarwulan Menakjingga. Tak jarang pula lakon yang ditonton itu membuat kita resah, tetapi kita selalu diajari agar optimistis dan sanggup mengendalikàn diri. Penonton tidak boleh tertipu bahwa apa yang dilihatnya sebenarnya hanya sandiwara. Dalang atau sutradaranya bersembunyi di balik layar.”*

*Penulis Miftah H Yusufpati, seorang wartawan senior di Indonesia yang saat ini berdomisili di Jakarta.

Anda mungkin juga berminat