Kerinduan Safrizal ZA pulang ke Aceh

JUMAT 11 Februari 2022, berkesempatan bertemu Safrizal ZA, Direktur Jenderal Bina Administrasi Wilayah Kementrian Dalam Negeri. Pertemuan hangat dan bersahabat itu, berlangsung di ruang pertemuan pria yang pernah menjadi Lurah di Kota Lhokseumawe tersebut.

“Maaf menunggu terlalu lama, tadi harus bertemu dengan Mendagri terlebih dahulu,” kata pria lulusan terbaik IPDN itu kepada popularitas.com.

Sambil menikmati kopi yang telah disediakan, Safrizal memulai diskusi tentang kesibukannya saat ini terkait dengan penangan Covid-19 varian Omicron di seluruh Indonesia. Terutama jelang perhelatan even internasional MotoGP di Mandalika.

Selain menerbitkan Instruksi Mendagri tentang penanganan dan pencegahan Covid-19 pada perhelatan MotoGP di Mandalika, saat ini, terangnya, pihaknya juga tengah merumuskan Inmendagri baru tentang masa waktu isolasi bagi warga perjalanan luar negeri.

Prinsip isolasi itukan mencegah masuknya virus dari satu tempat ke Indonesia, nah ini yang sedang kita bahas dan rumuskan. Misalnya perjalanan dari negara dengan resiko tinggi, berapa lama isolasinya, atau perjalanan dari negara resiko rendah, berapa lama isolasinya. “Nah ini yang nanti akan kita rumuskan, dan terbitkan Inmendagrinya,” ujarnya.

Safrizal terlihat santai malam itu, tidak tampak lelah diwajahnya. Ia menjelaskan semua pertanyaan dengan bahasa yang mudah di mengerti, dan logik.

Saya sendiri, hadir dalam pertemuan itu ditemani oleh Murizal Hamzah, Aldin NL, Azhari, dan Teuku Izin. Obrolan yang kami mulai pada pukul 21.00 WIB itu diselingi dengan sejumlah kisah-kisah masa lalu Safrizal ZA saat jadi Lurah, Sekcam dan Camat di Aceh Utara.

Dia menceritakan hal-hal lucu, penting, dan juga kerja-kerja yang Ia lakukan saat menjadi pelayan masyarakat di Aceh pada periode 90-an.

“Saya pernah jadi Lurah, Sekcam dan Camat di Aceh Utara,” sebutnya.

Pembicaraan kami kemudian berlanjut tentang Pilkada 2024, dan soal Pj Gubernur Aceh kedepannya.

“Soal PJ, saya ini ASN, siap ditempatkan dimana saja dan menjalankan perintah pimpinan, dalam hal ini Bapak Menteri Dalam Negeri,” sebutnya.

Jika memilih, apakah ingin ditugaskan ke Aceh atau menjadi Pj DKI Jakarta, Safrizal Za mengatakan, Jika dirinya ingin pulang ke Aceh. “Saya rindu pulang ke Aceh, ada orangtua saya di Banda Aceh,” katanya.

Safrizal sendiri, merupakan unsur pejabat eselon I di Kementrian di Dalam Negeri, Jika merujuk aturan dan ketentuan, Ia dapat ditugaskan menjadi Pj Gubernur kedepannya.

“Saya tidak meminta jabatan, tapi jika ditunjuk ya siap. Dan jikapun boleh memilih ingin pulang ke Aceh. Membenahi daerah sendiri, dan mengabdikan diri untuk masyarakat di sana,” ujarnya.

Perbincangan kamipun mengarah pada upaya dan apa yang akan dilakukannya Jika dipercaya sebagai Pj Gubernur Aceh. Dari soal kemiskinan, pengangguran, dan juga mensejahterakan rakyat.

“Saya pernah jadi Pj Gubernur di Kalimantan Selatan, dan daerah itu hanya Punya APBD Rp8 triliun,” terangnya.

DR Safrizal ZA tengah membubuhkan tandatangan buku yang ditulisnya sebagai oleh-oleh. Buku itu berjudul Kepemimpinan Melayani di Masa Transisi, sebuah buku yang ditulisnya saat menjabat Pj Gubernur Kalimantan Selatan

Nah, Aceh saat ini memiliki dana otsus, dan setiap tahunnya memiliki anggaran Rp17 triliun. Itu dana yang besar yang dapat kita jadikan istrumen untuk melakukan intervensi melalui program dan kegiatan yang berpihak pada masyarakat.

Masalah mendasar di Aceh itukan soal kemiskinan, pengangguran dan juga minimnya investasi. Nah, persoalan-persoalan ini akan kita urai satu persatu untuk kita carikan jalan keluarnya.

Faktor kemiskinan yang selalu menjadi temuan data BPS itu biasanya masalah rumah sehat, nah untuk intervensi ini kita akan fokus pada pembangunan rumah sehat dan layak huni, dan ini akan jadi prioritas kedepannya.

Persoalan lain yang membuat masyarakat miskin adalah masalah pendapatan dan ketersediaan lapangan pekerjaan, Nah untuk menuntaskan hal ini dibutuhkan program-program dan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat. Misalnya pemberdayaan ekonomi, dan juga penyediaan lapangan kerja.

Disadari bahwa, lapangan pekerjaan di Aceh selama ini banyak di topang oleh sektor pertanian dan perkebunan, dan fokus anggaran akan kita arahkan ke sini. Sehingga sektor ini dapat bergerak dan menyerap ribuan tenaga kerja di Aceh.

Ekonomi Aceh juga selama ini di topang oleh Belanja pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten. Nah kita akan mendorong ada pemerataan dan distribusi pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan di Aceh. Sebab Jika perusahaan ada kerja, maka ada penyerapan tenaga kerja, dan Jika masyarakat bekerja, pasti ada pendapatan.

Terkait dengan dana otsus Aceh yang hanya tinggal 1 persen pada 2023 mendatang, Safrizal ZA yakin bahwa hal tersebut akan ada solusinya. Yang penting semua pihak mau duduk dan membahas hal ini. Dirinya sendiri selaku Putra Aceh akan berusaha maksimal guna menjawab hal ini dengan membangun komunikasi dengan para pihak di Jakarta.

Prinsipnya, pungkas Safrizal, semua pihak harus terlibat membangun Aceh, setiap elemen harus bekerjasama agar semua persoalan dapat dicarikan jalan keluar. Intinya, apapun yang dilakukan saat ini, kita harus fokus pada meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Yang ingin saya tegaskan juga, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyat yang Ia pimpin. Sungguh tidak akan masuk surga seorang pemimpin jika ada rakyatnya yang kelaparan.

Tak terasa waktu semakin larut, jarum pendek jam dinding yang menempal di ruang kerja Safrizal menunjukan angka 23.30 WIB. Dan menyadari waktu semakin malam, kami meminta izin pamit.

Sebelum pulang, Safrizal ZA memberikan buku yang Ia tulis berjudul “Kepemimpinan Melayani di Masa Transasisi”. Buku itu menceritakan tentang pengalaman dan kebijakan-kebijakan yang dilakukannya saat menjabat sebagai Pj Gubernur Kalimatan Selatan selama delapan bulan.

Comments
Loading...