Kawal Gajah Supaya Jangan Punah

– Hari masih gelap. Udara dingin kerap terasa menembus ke tulang. Kain sarung ditambah jaket masih belum bisa menangkal dingin udara pagi. Matahari masih belum muncul. Bentuk asap mengepul keluar lewat udara saat berbicara.

Sehabis subuh, beberapa orang dari relawan Tim Pengamanan Flora dan Fauna (TPFF) Desa Karang Ampar-Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah sudah bersiap melakukan patroli pengaman gajah liar di Bukit Paya Lah, Rabu (4/11/2020).

Daerah itu selain terkenal dengan kebun kopi dan hasil tanaman palawijanya, di situ juga terkenal dengan udara dingin karena terletak di area pegunungan.

Kawal Gajah Jangan Punah

Namun pagi itu tak secerah hari-sebelumnya. Matahari tampak enggan menunjukkan sinarnya. Ia tertutup awan mendung karena hujan gerimis semalam. Saya bersama relawan TPFF sudah bersiap masuk ke bukit untuk melihat jejak gajah liar di sana.

Perjalanan ke bukit atau Savannah tempat biasa gajah liar mencari makan terbilang sulit. Perlu waktu satu hingga dua jam ke sana. Jalan terjal dan bebatuan dengan genangan air semakin memicu adrenalin kami. Beruntung mobil gardan 4×4 yang kami naiki sangat cocok di medan seperti ini.

Selang satu jam perjalanan, kami tiba di pemberhentian pertama. Saya diajak perkenalan dengan salah seorang petani jeruk di Bukit Paya Lah. Bang Dun akrab disapa para relawan TPFF itu.

Di kebun milik Bang Dun, saya diajak Muslim ketua dari TPFF untuk melihat jalur gajah liar. Saat melihat pertama kali dari atas Bukit Payalah itu, saya seakan terhipnotis dengan panorama alam di sana. Gumpalan kabut masih tersisa. Beruntung tepat pada pukul 09.00 WIB matahari yang sebelumnya tertutup oleh awan mendung kembali bersinar.

Kawal Gajah Jangan Punah

Suara gema dari Siamang salah satu penghuni hutan juga saling bersahutan.

“Di kebun Bang Dun ini biasanya gajah liar itu sering lewat,” kata  Muslim pria dengan perawakan janggot dan kumis, rambut pendek, pakaian hitam.

Ia mengatakan, di tempat ini pula, ia bersama rekan-rekan TPFF lainnya sering memantau gerak-gerik atau alur dimana gajah liar itu berada.

Peternak Gajah

Kali ini Bang Dun yang membuka cerita. Ia sudah cukup kenal dengan Muslim dan ke-24 anggota TPFF lainnya. Bang Dun juga kerap membantu relawan TPFF dengan memberi informasi terkini dimana lokasi gajah liar itu berada.

“Sering kalau gajah liar itu masuk ke kebun saya, saya telepon Muslim”Ternakmu masuk kebun aku ni,” kata Bang Dun pria dengan perawakan lucu dan mudah akrab dengan orang lain ini.

‘Peternak Gajah’ jadi julukan akrab Bang Dun kepada Muslim. Sebab ia kerap menerima panggilan dari Muslim untuk menanyakan lokasi gajah liar terkini. Hal itu dilakukan Muslim demi mencegah masuknya mamalia besar ini berada ke pekarangan kebun milik warga.

Kawal Gajah Jangan Punah

Gajah liar juga kerap masuk ke pekarangan kebun Bang Dun. Namun hal itu tidak terlalu membuat Bang Dun khawatir. Pernah sekali kata Bang Dun, seekor anak gajah liar masuk ke dalam gubuk tempat dia tinggal.

Anak gajah liar itu mengobrak-abrik apapun yang  dilihat di dalam gubuk itu. Gajah liar itu biasanya hendak mencari garam untuk dimakan.

“Mereka suka cari garam, kalau misalnya jumpa rumah warga atau gubuk milik warga. Biar nggak diserang, tinggal kasih saja apa yang mereka cari,” kata Muslim disela pembicaraan dengan Bang Dun.

Bang Dun juga memiliki pengalaman menarik saat bertemu gajah liar. Kejadian itu terjadi pada tahun 2018. Bang Dun bersama salah seorang temannya hendak turun ke desa Karang Ampar untuk mengambil senapan angin. Bang Dun pergi bersama rekannya pukul 04.00 sore.

Kawal Gajah Jangan Punah
Seekor gajah liar meli8ntas di savana Bukit Payalah, Desa Karang Ampar-Bergang, Aceh Tengah, Rabu (3/11/2020). Menurut keterangan warga setempat, di Desa Karang Ampar-Bergang gajah liar kerap memasuki perkebunan warga untuk mencari makan.

Hari semakin petang. Warna merah jingga mulai menghiasi langit. Bang Dun dan rekannya bergegas kembali ke kebunnya yang dia jaga. Namun nahas. Sudah pertengahan jalan, seekor gajah liar dewasa menghadang di tengah jalan. Bang Dun mencoba mengusir gajah liar itu  agar dapat membuka jalan untuk Bang Dun dan rekannya lalui.

Namun gajah liar itu tak bergeming. Malah hewan besar itu merasa terancam akan kehadiaran Bang Dun. Wajar saja Gajah itu merasa terancam, ternyaja ia membawa kawanannya yang bersembunyi di semak belukar.

Hari semakin gelap. Suara adzan dari desa mulai terdengar. Bang Dun dan rekannya berlari dalam gorong-gorong aliran air. Gajah liar itu mulai mengamuk dan mengejar Bang Dun.

Untung ada gorong-gorong setinggi tiga meter kurang lebih dari atas permukaan jalan. Luas gorong-gorong itu juga terbilang sempit. Hanya satu meter saja luasnya.

Bang Dun dan rekannya bersembunyi di situ. Gorong-gorong tempat Bang Dun berlindung dari kawanan gajah itu  tergenang air setinggi pinggang saat duduk. Jangankan untuk membentangkan kaki, duduk saja kesusahan.

Bang Dun sudah dikepung oleh Gajah liar itu. Mamalia besar menjaga Bang Dun semalaman. Bang Dun berinisiatif menyalakan rokok dan mencoba menghembuskan asap rokok itu keluar. Mungkin kata dia para gajah itu bisa pergi. Bukan takut, malah belalai gajah yang duduk di atas gorong-gorong itu menjulurkan a dan membuat rokok Bang Dun padam.

“Saya kasih asap rokok, malah dia masukkin belalainya ke dalam. Saya bilang kamu mau merokok apa. Dia tunggu kami sampai jam 10 pagi,” kata Bang Dun yang sontak membuat kami tertawa.

Pagi itu kami tak cukup beruntung. Gajah liar yang dicari tak kunjung ditemukan. Namun, sepanjang jalah menuju Bukit Paya Lah, jejak kotoran segar dari gajah liar itu masih membekas di pingiran jalan menuju kebun Bang Dun.

Baca Juga:

85 Persen Gajah di Luar Kawasan Konservasi di Aceh

Waktu sudah menunjuk pukul 10.00 WIB. Mataharipun semakin terik. Meski sempat tertutup awan mendung, kini sinar mentari itu tak segan terus memancarkan sinarnya.

Bang Dun berinisiatif menghubungi temannya yang berkebun tak jauh dari lokasi kami berada. Tepat saja, teman yang dihubungi oleh Bang Dun mengabarkan bahwa pagi tadi sekitar pukul 07.30 WIB ada gajah liar yang melintas dari depan kebunnya.

Sontak saya bersama relawan patroli langsung menaiki mobil dauble kabin yang ditumpangi tadi. Sepanjang perjalanan ke kebun milik teman Bang Dun, aroma pesing dan kotoran gajah bercampur dengan genangan air. Aromanya cukup menyengat.

Sepanjang perjalanan juga, ranting dari pepohonan dan semak belukar yang dilintasi gajah liar itu bertebaran. Kami terpaksa harus merunduk dan membersihkan selah-selah ranting yang menjulur ke tengah jalan.

Kawal Gajah Jangan Punah
Pengunjung melintas di savana Bukit Payalah, Desa Karang Ampar-Bergang, Aceh Tengah, Rabu (3/11/2020). Menurut keterangan warga setempat, savana berupa rumput ilalang itu juga merupakan makan favorit gajah liar di kawasan tersebut.

 

Bang Kul “Si Abang Besar”

“Bang Kul, Bang Kul. Berhenti bentar, mau foto ni,” teriak Sudirman kepada seekor gajah liar yang mulai berlari di Padang Savannah, Bukit Pay Lah. Beruntung sekali. Yang dicari sejak pagi buta ditemukan.

Seekor gajah liar sedang mencari makan di atas hamparan Savannah dekat kebun milik warga yang dihubungi Bang Dun tadi. Entah mengerti atau tidak, gajah yang diteriaki Sudirman tadi berhenti sejenak. Tak buang waktu kami langsung mengabadikan momen yang jarang didapatkan ini.

Gajah itu terbilang cukup dewasa. Gadingnya cukup panjang. Warnanya sedikit coklat. Ada banyak istilah bagi gajah yang tidak bersama kawanannya ini. Orang desa di sana biasa disebut gajah perintis.

“Biasanya gajah yang sendiri ini, dia mencari lokasi dimana kawanannya bisa mencari makan,” kata Muslim menjelaskan kepada kami.

“Bang Kul” sendiri merupakan sebutan lokal yang diberikan warga di sana kepada gajah liar. Bang Kul memiliki artian “Abang Besar”. Setiap melakukan patroli gajah, rekan TPFF selalui memanggil Bang Kul saat bertemu di jalan atau saat masuk pemukiman warga. Mereka tak meneriaki gajah liar. Hanya mengikuti dan menggiring “Bang Kul” menjauh dari perkebunnan warga.

Muslem salah seorang Relawan TPFF menunjukkan kotoran gajah di Savana Bukit Payalah, Desa Karang Ampar-Bergang
Muslem salah seorang Relawan TPFF menunjukkan kotoran gajah di Savana Bukit Payalah, Desa Karang Ampar-Bergang, Aceh Tengah, Rabu (3/11/2020). Menurut keterangan relawan TPFF, kotoran gajah itu baru dua hari.

Tak ada benda tajam yang diambil saat melakukan patroli. Hanya satu petasan saja yang dipersiapkan jika sewaktu-waktu gajah liar itu menyerang balik. Sebab menurut kepercayaan warga desa di sana, gajah liar itu dapat mengerti apa yang diperintahkan.

Pernah sekali awal tahun 2018 seingat Muslim, ia pergi menjaga kebun sendirian. Ia tidur di dalam gubuk yang dibangun tepat di dalam kebun yang dijaganya. Saat tengah malam, Muslim hendak merebahkan badannya untuk beristirahat,  suara grasak-grusuk terdengar jelas di telinga Muslim.

Awalnya Muslim mengira suara berisik yang ia dengar itu ada babi hutan masuk ke kebunnya. Saat itu tak ada penerangan yang ia pegang. Api yang semula ia hidupkan sudah padam. Hanya senter mancis yang diandalkan. Perlahan ia menyusuri sumber suara yang di dengar.

Senter mancis dia pegang erat. Muslim melangkah dengan perlahan. Muslim mengendap-endap waspada. Sebab Muslim masih menerawang hewan  seperti apa yang masuk ke kebunnya.

Seketika senter  mancisnya ia dongakkan ke atas. Seekor hewan berbadan besar dengan belalai dan gading panjang tepat di hadapannya. Telinga hewan itu mengibas-ibas. Muslim terbujur kaku memikirkan hewan besar itu dapat dengan seketika menyerangnya. Jarak  Muslim dengan mamalia besar itu hanya terpaut satu meter saja.

“Saya tanya, Bang Kul lagi cari apa? Jangan ganggu saya, saya cuma berkebun disini,” ucap Muslim mengenang hal yang paling mendebarkan dalam hidupnya.

Gajah liar itu seakan mengerti. Ia bergegas pergi setelah mendapat garam dapur yang disodorkan oleh Muslim.

“Mereka juga bisa memahami kita. Kalau kita ada niat jahat, Bang Kul tau dia,” ungkapnya.

Menurut data dari Forum Konservasi Gajah Indonesia, populasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan hanya 2400 – 2800 yang ada di alam liar. Sementara kurang lebih 550 gajah jinak yang hidup di Taman Safari, Kebun Binatang dan lain-lain.

Angka itu turun sebanyak 35% dari tahun 1992.  Untuk kejahatan terhadap gajah mungkin sudah tidak terhitung banyaknya, baik itu perburuan, peracunan maupun pembunuhan gajah secara sengaja karena konflik.

Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu tim khusus yang bisa dikumpul untuk menangani perdagangan di masing-masing propinsi/kabupetan/kota se-Sumatera untuk melakukan dan/atau mendukung penegakan hukum secara represif.

Relawan dari Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) melakukan pemantauan lokasi gajah liar
Relawan dari Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) melakukan pemantauan lokasi gajah liar dari atas Bukit Payalah, Desa Karang Ampar-Bergang, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (3/11/2020). Menurut keterangan warga setempat, desa itu kerap masuk perkebunan warga untuk mencari makan.

Menjaga hutan seperti Muslim dan rekan-rekannya di TPFF merupakan gerakan mulia yang dilakukan. Muslim dan teman-teman dapat meredam konflik gajah dan manusia dengan tetap merakukan patroli. Ke 24 anggotaTPFF itu juga bukan dari latar belakang yang sejalan dengan apa yang dilakukan sekarang.

Rata-rata dulunya para relawan itu berprofesi sebagai pemburu satwa yang dilindungi, pelaku ilegal loging untuk menyambung hidup. Saat terjadi konflik gajah besar-besaran pada tahun 2017, di situ mereka mulai sadar. Apa yang dilakukan mereka sebelumnya telah merusak habitat hewan-hewan ini. Dan itu seperti karma yang membalik ke mereka.

Selain itu mereka tergerak menjadi relawan Pengamanan Flora dan Fauna ini karena merasa rindu jika nantinya hewan-hewan yang dilindungi ini punah. Anak mereka hanya  bisa melihat lewat gambar dan sebaran video di internet saja. Tanpa bisa melihat langsung bagaimana bentuk aslinya.

Mungkin apa yang dilakukan para relawan di Desa Karang Ampar-Bergang dapat menjadi pemantik awal bagi kita untuk mulai sadar melindungi hutan dan habitat yang ada di dalamnya.[]

Penulis: Indra Wijaya

Editor: Afifuddin Acal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.