Kata Penyelenggara Soal Kerusuhan di Acara ACF 2019

BANDA ACEH (popularitas.com) – Panitia Aceh Culinary Festival (ACF) 2019 dari EXO Production menyebutkan ada miskomunikasi yang menyebabkan penutupan event tersebut diprotes massa. Pihak EXO Production juga membenarkan ihwal materi promosi terkait penampilan Base Jam di perhelatan itu yang melecut reaksi negatif dari tim Aswaja di Aceh.

Wan Windi Lestari selaku manajer EXO Production menyebutkan pada awalnya penyelenggara telah sepakat dengan manajer Base Jam untuk menampilkan poster dengan logo Base Jam saja tanpa foto personil.

“Namun, tersebarnya disain poster lain tetang penampilan Base Jam di ACF selain poster resmi yang disepakati pihak Base Jam dan panitia, adalah di luar pengetahuan kami,” ujar Wan Windi Lestari, Selasa, 9 Juli 2019.

Dia menyebutkan penyebarluasan disain poster yang menampilkan foto grup band Base Jam berada di atas Masjid Raya Baiturrahman, tidak berkoordinasi dengan manajemen Base Jam dan EO. Disain itu sendiri belakangan diketahui diproduksi oleh komunitas binaan dari Kementerian Pariwisata. Alhasil, konten poster tersebut mengundang reaksi negatif bagi warganet di Aceh.

“Kami lalu berkoordinasi dengan pihak Kemenpar untuk segera menarik disain tersebut dari akun-akun resmi Kemenpar, juga akun-akun komunitas di bawah binaan Kemenpar. Permintaan tersebut pun dipenuhi,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Indi, pihak Event Organizer juga tidak mengetahui adanya pertemuan antara Tim Aswaja Aceh dengan Disbudpar provinsi.

“Kami tidak dilibatkan dalam proses pembuatan kesepakatan tersebut, dan tidak ada arahan mutlak verbal/non verbal dari Kadisbudpar selaku pimpinan kami untuk memenuhi kesepakatan itu. Ketika kami pertanyakan tentang sikap apa yang harus kami ambil terkait pertemuan tersebut, pak Kadis mengarahkan kami untuk melihat perkembangannya dulu,” terangnya.

Selanjutnya, H-1 acara ACF, kata Indi pihaknya mendapat konfirmasi dari kepolisian bahwa Base Jam diperbolehkan manggung dengan menampilkan 1-2 lagu religi. “Info yang sama juga kami dapatkan dari Kadispar.”

“Kami lantas berkoordinasi degan manajemen Base Jam, yang juga dihadiri oleh perwakilan dari unsur kepolisian. Dalam koordinasi tersebut disepakati bahwa Base Jam akan tampil diawali dengan lagu Bungong Jeumpa dan ditutup degan lagu religi. Saat itu dalam song list, Base Jam akan membawakan total 10 lagu,” tambahnya.

Menurut Indi, pada Minggu malam, 7 Juli 2019 saat terjadinya keributan di acara ACF tersebut, sekelompok massa yang terlibat dalam kerusuhan masuk ke area depan panggung sejak pukul 21.30 WIB. Sampai saat itu belum ada instruksi penggantian song list kepada stage manager yang memimpin jalannya acara.

“Acara masih berlangsung tertib, bahkan sampai penampilan Andi Seuramoe Reggae yang membawakan lagu-lagu bergenre regae,” ujar Indi.

Memasuki waktu Base Jam akan tampil, penyelenggara mendapat instruksi dari Kadisbudpar untuk mengganti song list Base Jam menjadi lagu-lagu religi dan lagu Aceh.

“Kami (EO) tidak mengetahui latar belakang hingga keluar instruksi tersebut dari Kadispar,” tambahnya.

Penyelenggara acara lantas mengomunikasikannya dengan pihak Base Jam. Kata Indi, pihak Base Jam sempat mempertanyakan kenapa karya-karnyanya tidak boleh ditampilkan, sementara band yang tampil sebelumnya juga menampilkan lagu dengan musik dan lirik bertema tidak jauh berbeda dengan karya mereka.

“EO sempat menyampaikan bahwa Base Jam tidak punya stok lagu-lagu religi pada Kadispar. Solusi ‘terhenti’ antara arahan Kadispar dan kendala teknis Base Jam. Akhirnya berkoordinasi dengan pihak kepolisian lagi, hasilnya Base Jam akan membawakan 3 lagu saja terdiri dari 1 lagu Aceh, 1 lagu sendiri dan 1 lagu religi,” terangnya.

Keributan terjadi, kata Indi, saat Base Jam membawakan medley lagu Bungong Jeumpa dan lagu Jatuh Cinta. Menurutnya beberapa orang dari kelompok massa mencoba menerobos naik ke atas panggung, tapi berhasil dihentikan oleh pihak kepolisian. “Sementara, kelompok massa yg berada tepat di belakang FOH mulai berteriak-teriak, ribut.”

Dia menyebutkan, beberapa properti event dirusak dan sempat terjadi dorong-dorongan antara pihak kepolisian dengan massa yang disangka akan melakukan perusakan pada alat sound system.

“Panitia langsung mengamankan Base Jam keluar dari lokasi acara. Tim operator langsung mengemasi barang-barang,” ujarnya.

Menurutnya, usai kericuhan itu kelompok massa masih berada di lokasi, setidaknya sampai pukul 23.59 WIB.

Saat ini, ungkapnya, permasalahan yang terjadi di acara Aceh Culinary Festival sudah ditangani pihak kepolisian.

“Kami sebagai saksi telah memberi keterangan dan siap mengikuti proses hukum yang berlaku,” pungkasnya. (ASM)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat