Jeritan Hati Orang Tua  Bimbing Anak Belajar Daring

LHOKSEUMAWE (popularitas.com) – Pandemi Covid-19 memaksa semua orang untuk beradaptasi, tak terkecuali wali murid dan para guru. Sekolah boleh tutup, tetapi proses belajar mengajar tetap berlanjut.

Pembelajaran secara daring selama pandemi digembar-gemborkan menjadi solusi. Kendati tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja sejumlah kendala yang dihadapi, baik para guru maupun wali murid.

Pemindahan belajar mengajar  dari sekolah ke rumah, mau tak mau peran orang tua cukup menentukan, karena menjadi guru dadakan. Artinya orang tua menjadi garda terdepan membimbing anak dalam proses belajar selama pandemi.

Tidak mengherankan orang tua menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Dari tidak memiliki smarphone hingga tidak ada uang membeli kouta internet.

Bahkan lebih parah lagi, ada orang tua yang tidak menguasai penggunakan teknologi komunikasi. Ini tentunya akan menjadi hambatan besar dalam proses belajar mengajar secara daring.

Fadlina Hanum (35) warga Desa Meunasah Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara misalnya. Selama pembelajaran daring, dia terpaksa harus merogoh kocek banyak untuk membeli smartphone.

“Saya harus beli handphone bekas harga Rp 700 ribu, karena uang saya terbatas,” kata Fadlina Hanum.

Belum lagi smarphone harus berbagi dan dipergunakan secara bergiliran, karena dia punya dua anak yang sama-sama harus belajar daring. Sedangkan telepon pintar miliknya hanya ada satu unit.

Fadlina Hanum sebenarnya sudah mempersiapkan kedua anaknya yang di SMP dan SD belajar tatap muka. Seragam sekolah sudah semua dibeli, namun ternyata masih tetap belajar secara daring.

“Jadinya gak ada uang lagi saya untuk beli dua handhone,” ungkapnya.

Kendala yang dihadapi bukan saja keterbatasan biaya. Setelah Hanum memiliki telepon pintar, ternyata dia masih gagap teknologi. Dia tidak paham cara penggunaannya. Aplikasi yang dibutuhkan untuk sekolah daring tidak dikuasai.

Seperti pengunaan email, whatsAap hingga google classrom yang dibutuhkan sebagai sarana belajar daring. Akibatnya ia kebingungan di rumah dalam membimbing anaknya.

Hanum hanya tamatan SMP, tentunya mengalami kendala membimbing anaknya belajar di rumah. Begitu juga dengan suaminya yang hanya seorang nelayan, juga tidak banyak waktu untuk mendampingi anaknya belajar jarak jauh

“Pasrah sajalah bagaimana nantinya,” katanya.

Yang membuat Hanum sedikit lega. Anaknya yang masih SD tidak terlalu banyak belajar secara daring. Tetapi masih secara manual, siswa didampingi orang tua masih dapat ke sekolah untuk mengambil tugas yang diberikan oleh guru. Setelah selesai dikerjakan tugas, kembali ke sekolah untuk dikumpulkan kembali.

“Kalau anak saya yang SD, sesekali aja pakek internet, itupun hanya melihat –lihat pelajaran yang tidak mengerti aja,” jelasnya.

Selama belajar daring di rumah akibat dampak pandemi Covid-19, tidak mengherankan para orang tua menemui banyak kendala. Banyak jeritan hati atau duka dirasakan orang tua menjadi guru dadakan di rumah.

Kisah Hanum menghadapi kendala dalam membimbing anaknya belajar di rumah, juga dirasakan oleh sejumlah orang tua lainnya. Yusriani (40) warga Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe juga mengalami nasib yang sama.

Buk Yus, sapaan akrapnya memiliki dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP juga banyak kesulitan yang didapatkan selama membimbing anaknya belajar di rumah.

Apa lagi kedua anaknya belajar di perkotaan Lhokseumawe. Dia harus putar otak agar smarphone dapat dibeli. Buk Yus pun mengaku, agar kedua anaknya dapat melanjutkan belajar secara daring, terpaksa harus membeli telepon pintar secara kredit sebanyak dua unit.

Belum lagi setiap hari harus membeli paket internet, agar dapat tersambung saat proses belajar daring. Tentunya semakin menambah beban pengeluaran keluarga ini.

Yang membuat Buk Yus harus mengurut dada. Selama pandemi suaminya tidak mendapatkan pekerjaan yang lancar. Sehingga Buk Yus pun harus ikut membantu suami untuk menambah pundi-pundi rupiah dengan cara berjualan kue ke warung-warung.

Buk Yus mengaku, suaminya hanya bekerja serabutan sebagai kuli bangunan. Tentunya himpitan ekonomi semakin bertambah, setelah terlilit kredit dua handphone senilai Rp 4 juta.

“Setiap bulan saya harus bayar cicilan Rp 400 ribu selama 12 bulan,” sebut Buk Yus.

Kata Buk Yus, ia terpaksa harus membeli secara kredit, karena sisa uang tabungan harus membeli laptop untuk anak pertamanya. Karena anak pertamanya juga dibutuhkan laptop selama proses belajar mengajar secara daring.

Hal lain yang menjadi jeritan hari orang tua siswa dalam membimbing anaknya belajar daring adalah soal pengetahuan tentang teknologi. Kendati guru di sekolah sudah memberitaukan cara penggunaannya, termasuk mengirim video tutorial, bagi Buk Yus tetap masih mengalami kendala.

Ia mengaku tetap terus menjalani membimbing anaknya di rumah belajar secara daring. Para orang tua hanya berharap virus corona cepat berlalu. Kepada pemerintah ia juga meminta solusi apa yang dihadapi saat ini.[acl]

Reporter: Riskita

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat