Isak Tangis Rohingya Sampai di Daratan

LHOKSEUMAWE (popularitas.com) – Assalamualaikum. Begitu ucapan pertama dari mulut pengungsi Rohingya setiba di darat setelah lebih tiga bulan terombang-ambing di tengah laut.

Mereka diselematkan oleh nelayan di Aceh Utara saat berada di perairan Aceh Utara dengan kondisi memprihatinkan. Wajah mereka sudah lesu, kapal yang ditumpangi nyaris tenggelam akibat mengalami kerusakan.

Ada sekitar 100 orang pengungsi Rohingya penuh sesak dalam kapal KM Nelayan 2017.811. Tidak hanya orang dewasa, ada 30 anak-anak juga berada dalam kapal tersebut.

Warga Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara tampak bergotong-royong mengevakuasi pengungsi Rohingya ke daratan. Meskipun pihak petugas sempat hendak menolak kembali mereka ke tengah laut. Namun warga bersikeras untuk tetap menjemput dari tengah laut untuk evakuasi ke daratan.

Isak Tangis Rohingya Sampai di Daratan

Sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian warga kepada sesama muslim pengugsi Rohingya. Warga Lancok, kemudian bergotong-royong mengumpulkan sumbangan untuk membeli makanan, sebelum menarik kapal yang berada sekitar 500 meter dari bibir pantai.

Koordinator yang mengumpulkan sumbangan, Syukri mengatakan, pihaknya terpaksa mengutip sumbangan dari warga untuk memenuhi kebutuhan makanan kepada pengungsi Rohingya tersebut.

Syukri bilang hal itu dilakukan karena warga merasa iba melihat 100 pengungsi Rohingya itu terombang-ambing di perairan dan diterpa hujan dan petir.

“Kami merasa iba, makanya kami sebelum menarik kapal kami ‘tek-tekan’ untuk membeli mereka makanan,” kata Syukri, Kamis (25/6/2020).

Nelayan di Lancok, kata Syukri tergerak untuk menolong karena mereka membayangkan jika berada di posisi tersebut. Rata-rata warga di sini nelayan, jadi mereka membayangkan jika mereka ada di posisi itu di negara lain.

Setelah membeli makanan, warga kemudian menarik kapal dan pengungsi Rohingya itu untuk diturunkan ke darat, meskipun dalam kondisi hujan.

“Gak sanggup aku bayangkan, saat kami mengantar makan dan minum dengan boat ikan kecil kami, pas kapal kami mendekati kapal mereka tangisan mereka, aku pun ikut menangis,” kata Syukri.

Saat mereka menginjakkan kaki di daratan. Tangis pun pecah. Mereka saling berangkulan, bulir kristal tak berhenti mengalir di kedua pipi pengungsi Rohingya.

Isak Tangis Rohingya Sampai di Daratan

Meskipun keterbatasan bahasa. Warga pun menyambut mereka dengan suka cita, warga tetap berusaha untuk berkomunikasi meskipun dengan bahasa isyarat.

Sebelum mereka berada di daratan. Syukri yang menjemput langsung mereka ke tengah laut tak dapat membayangkan bila kondisi itu menimpa mereka. Saat kapal miliknya mendekati kapal pengungsi Rohingya. Sontak saja mereka melambaikan dan menjulurkan tangan meminta pertolongan.

“Ada lelaki tua dan wanita yang sudah tua menagis dan menyerahkan tanganya seperti ingin ikut ke kapal kami, belum lagi anak kecil yang masih ditimang-timang di dalam kapal itu membuat rasa bersalah kami apabila mereka tak tarik ke darat,” ungkap Syukri.

Bersama rekannya, Syukri kemudian memutuskan untuk menolong pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di tengah laut dengan kondisi kapal nyaris tenggelam. Pada pukul 15.55 WIB, Kamis (26/6/2020), bersama rekannya langsung menarik kapal tersebut ke daratan.

“Kami lihat dari jauh aja sedih membayangkan apabila posisi mereka adalah kami, apalagi melihat langsung mereka yang minta tolong, kami warga Lancok semua nelayan, merasa bersalah kalau tidak menolong,” tukasnya.

Kata Syukri, terlebih seluruh pengungsi Rohingya itu merupakan seakidah, yaitu umat muslim. “Tidak mungkin sekali kita membiarkan orang Islam terus terombang ambing di lauta. Sedangkan kita hanya menyaksikan dan membiarkan mereka lepas lagi ke laut, seperti apa nasip mereka nanti di lautan itu,” tuturnya lagi.

Kepala Kantor SAR Banda Aceh Budiono mengatakan, pihaknya dan warga terpaksa mengevakuasi pengungsi Rohingya dari laut ke darat karena alasan kemanusiaan. Apalagi saat itu, cuaca lagi kurang baik, hujan disertai petir.

“Ini bagian dari kemanusiaan, kita mengevakuasi manusia dalam keadaan darurat ke tempat yang lebih aman,” kata Budiono.

Selanjutnya pengungsi Rohingya tersebut bakal menjalani pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan oleh pihak terkait. “Nanti ada instansi lain yang melanjutkan langkah selanjutnya,” kata Budiono.

Warga Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara Gotong Royong menarik kapal yang terombang-ambing dari perairan setempat.

Mereka juga menurunkan semua pengungsi Rohingya yang berada di atas kapal ke darat. Saat kapal merapat ke bibir pantai Lancok, warga menyambut pengungsi Rohingya dalam guyuran hujan.

Setelah tiba di tempat penampungan. Seluruh pengungsi Rohingya menjalani rapid test untuk memetakan apakah mereka ada yang terjangkit virus corona.

“Rapid test ini dilakukan untuk memastikan mereka terlepas dari covid 19, hal ini juga guna untuk mengantispasi penyebaran covid 19,” kata Ketua Gugus Tugas Covid 19 Suaidi Yahya,

Apabila reaktif positif covid-19, sebutnya, maka mereka mereka akan dikarantina. “Hitungan mereka kita ambil berdasarkan alat rapit test, yang terpakai semuanya ada 100 orang, itu sudah tergolaong anak-anak dan dewasa,” jelas Wali Kota Lhokseumawe.

Kata Suaidi Yahya, saat ini belum bisa dipastikan bagaimana dan sampai kapan mereka akan terus bertahan pengunsian ini, dirinya juga mengatakan pihaknya akan berkoodinasi lagi dengan pihak-pihak terkait.

Isak Tangis Rohingya Sampai di Daratan

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) akan bekerjasama dengan Pemerintah Aceh dalam membantu proses karantina bagi 94 Muslim etnis Rohingya yang terdampar di Aceh Utara.

Protection Associate of UNHCR, Oktina mengatakan, berterimaksih kepada warga dan pemerintah setempat yang telah melakukan evakuasi manusia perahu itu, dan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemda untuk langkah penanganan selanjutnya.

“UNHCR siap membantu pemerintah daerah untuk proses karantina (94 rohingya) dan segala macam keperluan lainnya,” kata Oktina disela-sela proses evakuasi warga Rohingya tersebut di Pantai Lancok, Aceh Utara Kamis (25/6/2020) seperti dilansir Antara.

Dia bersyukur pemerintah daerah dan Basarnas yang telah membantu proses evakuasi. Dengan begitu para pencari suaka tersebut tidak harus bertahan lagi tengah laut dengan menumpangi kapal motor nelayan Aceh.

Dalam situasi seperti itu maka yang terpenting adalah keselamatan Muslim etnis Rohingya tersebut yang diketahui telah berbulan-bulan terombang-ambing di laut lepas, hingga akhirnya diselamatkan oleh nelayan Aceh.

“Kami sangat berterima kasih sudah mengevakuasi, setidaknya mereka aman disini. Yang penting mereka terselamatkan dulu, diberi bantuan air minum, makanan, karena mereka telah berbulan-bulan di laut,” ujarnya.

Menurut dia, UNHCR juga akan melakukan registrasi terhadap 94 warga etnis Rohingya tersebut. Pihak belum memiliki rencana untuk memindahkan mereka ke tempat pengungsian di Medan, Sumatera Utara.

“Belum ada rencana untuk itu (pindahkan ke Medan). Kita masih tetap berkoordinasi,. mudah-mudahan pemerintah daerah di sini akan mengambil keputusan, bagaimana pun kita mengikuti dari pemerintah daerah,” ujarnya.

Seperti diketahui, kapal motor nelayan Aceh dilaporkan menyelamatkan puluhan warga negara asing (WNA) etnis Rohingya, Myanmar, yang terkatung-katung di perairan laut Aceh Utara karena kapal motor yang ditumpangi rusak.

Pengungsi etnis Rohingya yang diselamatkan nelayan Aceh dari tengah laut tersebut berjumlah 94 orang yang terdiri dari laki-laki 15 orang, perempuan 49 orang dan anak-anak 30 orang.

Oktina menyebutkan pengungsi Rohingya yang berhasil dievakuasi oleh warga Lancok, meyakini tidak terpapar virus corona.

UNHCR Yakin Pengungsi Rohingya Tidak Terpapar Covid-19

“Saya rasa mereka tidak Covid-19 ya, karena mereka sudah tiga bulan di laut gak mungkin mereka terkena covid-19. Justru yang dikhawatirkan mereka rentan terpapar Covid-19, sudah sampai kedaratan,” kata Protection Associate of UNHCR, Oktina, Jumat (26/6/2020).

Kata Oktina, pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan para Rohingya tersebut bertahan di tempat kantor bekas Imigrasi Lhokseumawe itu. Setidaknya mereka sudah ada tempat berteduh sementara setelah terombang-ambing di tengah laut selama tiga bulan lebih.

“Sementara di kantor Imigrasi dulu ya, apapun keputusannya lihat nanti dulu yang terpenting mereka telah di daratan, kelihatannya kondisi fisik mereka sangat lemas sekali, kerena sudah tiga bulan di laut jadi butuh penanganan cepat, apalagi ada anak-anak, perempuan dewasa,” ujarnya.

Untuk memastikan itu nanti para relawan itu akan memantau terus bagaimana dan seperti apa kondisi kesehatyan mereka para pengunsi tersebut. Kata Oktina akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Imigrasi, untuk mencari solusi bagaimana seperti apa keputusannya.

“Jumlah mereka kisaran 98 atau 99, tapi akan kami data kembali nanti, selain itu kami juga akan berkoordinasi dengan TNI/ Polri juga untuk pengamanan mereka,” tutupnya.[acl]

Reporter: Risky

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat