Inovasi produk, kiat Bawadi Coffee bertahan selama Pandemi

POPULARITAS.COM –  Di sofa lobi salah satu hotel berbintang di lima Jalan Panglima Nyak Makam, Kota Banda Aceh, Teuku Dharul Bawadi tampak duduk santai. Dengan setelan kupiah khas Aceh, sesekali ia menoleh ke kiri-kanan. Dari arah depan, popularitas.com datang menyapanya.

“Kita duduk di sudut sana saja ya,” kata Bawadi, mempersilakan untuk duduk di sofa paling sudut lobi hotel, persis di samping kolam renang.

Hari itu, Rabu (16/6/2021) siang, pria yang akrab disapa Bawadi ini baru saja mengikuti sebuah event berskala nasional yang digelar di hotel berbintang lima tersebut. Penyelenggaranya adalah Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI).

“Saya kebetulan pengurus ISMI, ini kebetulan lagi istirahat shalat dan makan siang,” tutur Bawadi.

Pada kegiatan itu, puluhan pengusaha berkumpul, termasuk Bawadi. Pria asal Kabupaten Aceh Jaya itu sejak beberapa tahun terakhir memberanikan diri terjun ke dunia bisnis, terutama bisnis kopi.

Awal mula Bawadi terjun ke bisnis kopi berbekal dari pengalamannya bekerja di tempat orang lain yang juga bergerak di bidang kopi. Bawadi saat itu bertugas sebagai sopir untuk mengantarkan kopi-kopi ke sejumlah tempat, termasuk pameran.

Dari pekerjaannya itu, Bawadi berkenalan dengan sejumlah pembeli kopi, termasuk pembeli dari Malaysia. Pembeli ini kemudian menanyakan kepada Bawadi kenapa tidak mencoba membuka usaha sendiri saja.

“Pembeli dari Malaysia itu tanya ke saya, kenapa tidak produksi kopi sendiri saja. Dari sini saya termotivasi untuk membuka usaha sendiri,” ucap Bawadi.

Berbekal pengalaman dan modal seadanya, Bawadi kemudian membuka usahanya sendiri yang diberi nama Bawadi Coffee. Produksi perdana langsung dipasarkan ke luar negeri; Malaysia dan Singapura.

“Saya memilih luar negeri karena kopi Aceh memang sudah terkenal di sana, kalau saya pasarkan di lokal pasti kalah dengan merek-merek lainnya di sini,” katanya.

Menjadi Binaan Disperindag Aceh

Pada 2016, Bawadi Coffee menjadi salah satu industri kecil menengah (IKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh. Melalui binaan itu, biasanya ia mendapat kesempatan mengikuti pameran sebanyak dua kali dalam setahun.

“Tahun 2016, kita sudah mulai bergabung dengan pemerintah dan oleh Disperindag setahun dua kali kita dibawa ke pameran. Alhamdulillah kita memang didukung untuk dibawa promosi ke pameran,” ujar Bawadi.

FOTO: Pekerja mempromosikan kopi ‘Bawadi Coffee’ pada sebuah pertemuan bisnis di salah satu hotel di Kota Banda Aceh, Rabu (16/6/2021). (Muhammad Fadhil/popularitas.com)

“Karena memang dari awalnya Bawadi ini kita bermitra dengan pemerintah, kita minta dipromosikan, bukan dari minta bantuannya,” tambahnya.

Bukan hanya itu, beberapa tahun kemudian Bawadi juga menjadi binaan dari pihak-pihak lainnya. Ini menjadi salah satu penyebab roda bisnisnya bisa berjalan.

Usaha bisnis kopi yang ditekuni Bawadi kini sudah cukup terkenal, baik di tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Dia pun aktif mengekspor kopinya ke luar negeri.

Di Aceh sendiri, Bawadi Coffee melakukan produksi kopi di kawasan Gla Deyah, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar dan kawasan Pango, Kota Banda Aceh.

“Kalau di Gla Deyah proses penggorengan (kopi), kalau di Pango penggoren ada, packing ada dan juga ada siap saji, namun beda pengelolaannya,” ucap Bawadi.

Terkendala Covid-19 dan Solusi

Pandemi Covid-19 menjadi momok menakutkan bagi pembisnis, termasuk Bawadi. Akibat virus tersebut dan ditutupnya penerbangan internasional, bisnisnya menurun drastis nyaris 70 persen.

“Wisatawan, tamu-tamu banyak yang tidak masuk ke sini, jalur internasional juga ditutup, sehingga untuk penjualan menurun drastis,” tutur Bawadi.

Pembatasan pergerakan orang membuat Bawadi harus putar otak. Beberapa bulan kemudian, Bawadi mencoba bangkit secara perlahan, namun pasti. Pun pada akhirnya, ia meluncurkan sejumlah program inovasi agar bisnisnya tetap berjalan di tengah pandemi.

“Dari Bawadi Coffee sendiri kita membuat program-program, contohnya kita membuat program delay lima pcs Bawadi Coffee Premium kita berikan free ongkir ke seluruh Indonesia. Dengan ada program-program seperti itu, saya lihat efektif sedikit,” ucapnya.

Disperindag Harus Lebih Fokus Bina IKM

Bawadi mengucapkan terima kasih kepada Disperindag Aceh yang telah membina sejumlah IKM di Tanah Rencong. Ia juga berharap agar Disperindag Aceh terus berpacu untuk membina IKM-IKM lainnya.

“Disperindag sebenarnya harus lebih fokus lagi mendirikan kawasan industri untuk UMKM, sehingga UMKM yang memang kira-kira membutuhkan legalitas, dengan adanya kawasan tersebut, UMKM dengan mudah mendapatkan legalitas,” katanya.

Menurut Bawadi, IKM di Aceh selama ini sulit berkembang karena tak mudah untuk mendapatkan legalitas dari pemerintah. Sebab, mereka yang ingin usahanya memiliki legalitas, harus terlebih dahulu mendapat izin dari BPOM dan SNI.

“Karena untuk saat ini banyak IKM yang tidak bisa mendapat izin BPOM dan SNI. Karena tempat mereka tidak berstandar untuk diberikan legalitas,” jelas Bawadi.

Manfaatkan Pasar Digital

Kepala Disperindag Aceh, Mohd Tanwier mengajak para pelaku IKM di provinsi paling ujung barat Sumatera itu untuk memanfaatkan pasar digital di tengah pandemi Covid-19. Ini agar produk-produk yang dilahirkan di masing-masing IKM dapat laku di pasaran.

“Para IKM kita juga harus bisa melihat kondisi hari ini. Hari ini peluang terbesar untuk pasar adalah pasar digital, suka tidak suka, ya kita harus masuk ke segmen itu,” kata Tanwier kepada popularitas.com, Sabtu (19/6/2021).

Di beberapa kesempatan seperti seminar, kata Tanwier, pihaknya selalu mengingatkan para IKM agar memanfaatkan pasar digital. Sebab, pasar digital ini dapat menjangku ke berbagai wilayah, bahkan luar negeri.

Disperindag Aceh fokus perluas akses pasar produk IKM
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, saat memamerkan sejumlah produk IKM Aceh hasil binaan instansi tersebut, Rabu (21/4/2021). FOTO : Hendro Saky/popularitas.com

“Mungkin kemarin di seminar ISMI di sini ada beberapa yang sudah (ke pasar digital), kita harus bergabung ke situ, ke sistem tersebut, karena penjualan secara digital itu bisa kemana-mana, seluruh dunia ini kita berjualan,” ucap Tanwier.

Ia menyebutkan, sebelum pandemi Covid-19, Disperindag Aceh selalu melibatkan IKM di setiap pameran-pameran. Di sana, mereka bisa berinteraksi langsung dengan pasar-pasar baik lokal, nasional dan internasional.

Namun, katanya, saat pandemi Covid-19, pameran-pameran seperti itu sudah jarang dilakukan. Kalaupun ada, lanjut Tanwier, kegiatannya serba terbatas dan pengunjungnya juga dibatasi.

“Karena ada pembatasan-pembatasan, makanya yang paling ideal adalah media teknologi, jadi media teknologi tak ada kaitan dia dengan Covid-19, dia nggak terkontamidasi dengan Covid-19, dia tetap bisa eksis.”

“Makanya saya bilang, suka tak suka, kita harus berinovasi juga ke situ, sekarang kan sudah 4.0, nah kita harus mengikuti itu,” ungkap Tanwier.

Dalam kesempatan itu, Tanwier juga mengatakan bahwa Disperindag Aceh siap memfasilitasi para IKM-IKM untuk memperoleh legalitas. Disperindag Aceh juga siap menjadikan mereka sebagai binaannya dan melibatkan setiap adanya kegiatan.

“Pada prinsipnya binaan kita seluruh IKM yang ada di Aceh, kalau menurut saya nggak ada ini binaan si pulan, ini binaan si pulen, tentu kita sebagai pemerintah harus membina semua tanpa ada membedakan. Tetapi, pembinaan itu lebih melekat sebenarnya ada di kabupaten/kota,” demikian Tanwier. (Advertorial)

-ads-

-ads-
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.