Ini Penyebab Paus Sperma Terdampat di Aceh

BANDA ACEH – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menduga penyebab terdamparnya 10 ekor Paus jenis Sperma di perairan Aceh Besar akibat adanya gangguan aktivitas seismik yang tak lazim.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, menganalisis terdamparnya segerombolan mamalia itu akibat adanya aktivitas manusia seperti eksplorasi atau pengeboran di kawasan laut  Samudra Hindia atau Pasifik, sehingga melintasi ke selat Malaka.

“Ini menandakan karena terganggunya aktifitas seismik, bisa gempa atau lainnya,” kata Sapto Aji Prabowo, Rabu (15/11/2017).

Terdamparnya 10 ekor paus di pantai Ujong Kareng, Gampong Darung, Kecamatan Majid Raya, Aceh Besar, Senin (13/11/2017) lalu masih menjadi bahan pembicaraan sesama pengamat lingkungan.

Pasalnya, ini bukan yang pertama terjadi di Aceh. Sebelumnya pernah terdampar di pesisir laut Alue Naga, Banda Aceh dan juga di daerah lainnya di Indonesia seperti Maluku dan Bali.

Selain itu, kata Sapto, penyebab 4 ekor paus mati saat ini tim masih menelusuri penyebab kematian tersebut. Dari ke empat paus itu satu diantaranya telah diatopsi untuk menjadi bahan pemeriksaan pihak petugas.

“Sampel yang diambil hanya satu ekor dan hasil itu masih dalam proses pemeriksaan belum kita ketahui apa penyebabnya. Dugaan sementara karena adanya jamur yang sangat mungkin sudah jadi “poxviruse” atau virus yang diawali dari jamur,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah Aceh turut memberikan apresiasi kepada sejumlah tim yang tergabung dalam proses evakuasi 10 ekor paus terdampar.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh, Mulyadi Nurdin, memberikan apresiasi penuh baik terhadap petugas maupun warga sekitar yang telah ikut berpartisipasi dalam  menjaga dan melindungi ekosistem dan lingkungan, terutama dalam memelihara habitat hewan yang dilindungi.

“Masyarakat dan sejumlah pakar ikut bekerja keras dalam menyelamatkan paus yang terdampar tanpa mengenal pamrih, ini patut diapresiasi,” ujar Mulyadi.

Upaya penyelematan dilakukan oleh relawan dan masyarakat setempat berhasil menyelamatkan enam dari sepuluh paus yang terdampar di pantai tersebut. Sedangkan empat lainnya mati karena diduga sakit.

“Meskipun setelah dilakukan berbagai upaya untuk menyelamatkannya, beberapa ekor ikan paus itu mati, namun heroisme masyarakat bersama relawan untuk menolong sangat luar biasa,” ujar Mulyadi Nurdin.

Mamalia jenis paus sperma itu merupakan makhluk yang dilindungi berdasarkan PP No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, penangkapan paus untuk dimanfaatkan dagingnya, baik dalam keadaan hidup maupun mati serta dalam bentuk bagian-bagiannya, sama sekali tidak diperbolehkan.

Diketahui ikan paus itu memiliki berat sekitar 6 sampai 7 ton, dengan panjang 10 meter. Paus-paus itu ditemukan pada Senin pagi sekitar pukul 10.00 wib oleh warga setempat.[acl]

PENULIS : ZUHRI NOVIANDI

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.