IKM Tika Raja milik Mainiar binaan Disperindag Aceh jaga tradisi leluhur

POPULARITAS.COM – Tika Raja adalah salah satu industri kecil menengah (IKM) yang bertempat di Gampong Sagoe, Pidie Jaya. Ragam produk dihasilkan, seperti kotak hijab, anyaman tikar pandan, dan juga ambal.

Mainiar (46) owner IKM Tika Raja, memulai usaha miliknya itu sejak 2010 silam. Bersama Rusli, suami tercintanya, setiap hari Ia memproduksi ragam pesanan dari warga sekitar, dan juga daerah lain di luar Aceh.

Saat popularitas.com mendatangi rumah yang sekaligus Ia jadikan tempat usaha itu, Mainiar terlihat tengah menganyam tikar pandan, dia duduk bersimpuh, dan kedua tangannya terlihat cekatan menyatukan material untuk membuat produk kerajinan.

“Ini saya sedang buat kotak hijab, ada pesanan dari konsumen di Aceh Besar sebanyak 100 unit,” terangnya sembari dia terus menggerakan dua tangannya untuk menganyam.

Bahan baku untuk membuat ragam produk Tika Raja adalah daun pandan yang banyak tersebar di Kabupaten Pidie Jaya. Saat ini , IKM Tika Raja telah memiliki 10 orang pekerja yang setiap harinya membantu Mainiar memproduk pesanan dari berbagai daerah.

Tujuan dan niat saya mendirikan usaha ini untuk menjaga tradisi leluhur,” katanya kemudian.

Secara perlahan Mainiar beringsut dari tempat duduk semula, Ia kemudian menghadap popularitas.com, dan kembali melanjutkan ceritanya. “Dulu saya bekerja di salah satu LSM luar negeri. Kemudian memutuskan diri untuk keluar dan membangun usaha ini,” jelasnya lagi.

Usaha ini sendiri sudah berjalan 12 tahun, banyak lika-liku, jatuh bangun, dan juga suka dan duka dalam membesarkan IKM Tika Raja. Jadi, awal ketiak berdiri, dirinya mulai memproduksi anyaman tikar, dan dia tak menyangka banyak yang suka, dan laris manis. Lantas setelah itu, dirinya rajin membuka literatur, agar kerajinan yang Ia produksi tidak hanya anyaman tikar saja.

Dapat Binaan Dekranasda dan Disperindag Aceh

Usai mendapatkan binaan dan kerap diikutkan pelatihan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, dan juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mainiar kemudian melakukan improvisasi dan perubahan penting dalam IKM Tika Raja, yakni dengan memproduksi ragam varian lain, tidak semata anyaman tikar saja.

Sejak saat itulah, kemudian IKM Tika Raja memproduk kotak hijab, kotak tisu, kota laundry, cermin, dan juga ragam produk souvenir lainnya berbahan baku tikar dan daun pandan. “Alhamdulillah, respon pasar sangat baik, dan puas atas produk yang kami hasilkan,” tukas Mainiar kemudian.

Harga produk IKM Tika Raja sendiri sangat bervariasi, dari Rp30 ribu, hingga ada yang seharga Rp1 jutaan, tergantung jenis, tingkat kesulitan, dan ukuran dari pesanan dari pihak lainnya. Biasanya, Ibu Gubernur Aceh kerap pesan tikar pandan di sini, yang haganya Rp1 jutaan lebih.

Salah satu produk hasil kreasi IKM Tika Raja milik Mainiar

Saat ini, sambung Mainiar, pesanan dari daerah lain juga banyak seperti dari provinsi Bali, yang keram order tikar dengan ukuran 1,5 M X 70 CM, dan biasanya pesanan dari sana dalam jumlah besar. “Alhamdulillah, saat ini IKM Tika Raja terus berinovasi melahirkan banyak ide-ide untuk menciptakan dan mengkreasikan produk baru,” paparnya. 

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh terus menyokong agar para pelaku IKM di provinsi paling barat Indonesia itu terus berkembang, melalui peningkatan kompetensi berupa pelatihan-pelatihan yang digelar pemerintah maupun lembaga swasta yang kredibel.

Kepala Bidang Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Nila Kanti mengatakan, di samping mengasah kemampuan, pelatihan ini juga akan menjadi ajang bagi para pelaku IKM dalam memperluas jaringan, mitra dan hal-hal baru terkait strategi penjualan produk. 

“Silakan perluas wawasan bisnisnya melalui kesempatan pelatihan yang ditawarkan secara tatap muka maupun online, banyak program pelatihan-pelatihan yang ditawarkan, asalkan kita mau mencari tahu,” ujar Nila Kanti. (**)

Comments
Loading...