IKM Sabuk Kelapa Milik M Zamil Bertahan 30 tahun

ACEH BESAR – Tidak kurang dari 12,5 kilometer ke arah pelabuhan Krueng Raya Malahayati, Aceh Besar, kita akan menemukan sebuah SPBU yang tidak lagi beroperasi. Dan dibagian belakang SPBU tersebut terdapat jalan kecil yang hanya dapat dilintasi satu mobil.

Dan tepat diujung jalan tersebut, terlihat rumah sederhana berkonstruksi beton yang dibagian halaman belakangnya terhampar tanah luas dan berdiri kokoh beberapa bangunan lain yang berfungsi sebagai workshop. Dibangunan tersebut terlihat berserak sabut kelapa yang sebagian sudah diolah dan sebagian lain masih melekat pada bagian tangkainya.

Nah ditempat inilah berdiri usaha dagang (UD) Bina Usaha milik M Zamil ZA. Usaha yang telah dirintisnya sejak 30 tahun lalu tersebut, beralamat lengkap di Kilometer 12,5 Desa Lamnga, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

“Kalau warga disini umumnya jika ditanya lokasi usaha sabut kelapa milik saya, sudah pasti semua mengetahuinya,” kata M Zamil mengawali pembicaraan kepada media ini beberapa waktu lalu.

Seraya mengambil perkakas kerjanya miliknya, M Zamil menceritakan bahwa usaha yang dirintisnya ini mengalami jatuh bangun, dan hal yang paling Ia ingat adalah peristiwa tsunami yang terjadi hampir 15 tahun yang lalu yang meluluhlantakkan semua aset usaha miliknya.

Sempat jatuh dan kehabisan aset dan modal usaha, M Zamil tidak patah arang, dengan dibantu temannya yang juga merupakan seorang pengusaha, Ia merajut kembali usaha hingga saat ini.

“Berkat bantuan teman, saya mulai bangkit kembali menegakkan seluruh usaha pengolahan sabut kelapa ini,” ungkapnya.

UD Bina Usaha milik M Zamil ZA memproduksi segala jenis alat kebutuhan rumah tangga yang terbuat dari sabut kelapa. Diantaranya adalah keset kaki, babat, pel lantai, tali dan sorong air.

Saat ini, jelasnya, rata rata usaha miliknya mampu memproduksi hingga 150 lembar keset kaki, 100 babat, 50 pel lantai, 250 meter tali dan sorong air perharinya.

Untuk memproduksi berbagai produk hasil usahanya, M Zami ZA memberikan pelatihan kepada 30 orang warga didesa tersebut untuk membuat berbagai jenis barang produksi dari sabuk kelapa.

“Jadi pekerja saya itu adalah warga disini yang saya latih,” ungkapnya.

Dengan melatih warga disini, lanjutnya, warga binaannya mampu memproduksi berbagai barang produksi yang kemudian Ia beli dari warga. “Cara dan metode ini lebih efektif,” kata suami dari Syamsariah ini.

Ayah dari sembilan orang anak ini juga menjelaskan, sebenarnya potensi Aceh untuk pengembangan industri berbahan baku sabuk kelapa sangat terbuka luas, sebab Aceh dianugerahi bahan baku yang tidak terbatas.

Selain itu juga, permintaan pasar Asia dan Eropa terhadap produk sabuk kelapa hasil Aceh juga cukup tinggi.

“Sebelum tsunami saya sempat beberapa kali ekspor ke Malaysia, dan ada rencana untuk kirim barang kembali kesana, namun kapasitas produksi masih terbatas,” paparnya.

Saat ini saja, dengan omset 18 juta perbulan, sambungnya, produksinya telah menembus pasar di seluruh Aceh dan sebagian di Medan. “Harga jual produk disini perlembarnya antara Rp10 ribu hingga Rp50 ribu, dan harga bisa agak lebih mahal jika di order untuk ukuran yang besar,” tuturnya.

Selama pandemi COVID-19 usaha milik M.Jamil ZA ini tetap mempekerjakan 15 karyawannya. Walaupun ada penurunan produksi mencapai 50 persen.

Dia mengakui, pada masa pandemi, produksi serat sabut kelapa menurun. Begitu juga produksi barang-barang yang bahan bakunya dari serat sabut kelapa, seperti keset kaki, pot, tali tambang, dan produk lainnya. Namun demikian, permintaan cocopeat (serbuk sabut kelapa) meningkat, karena bersamaan musim bunga.

Dia juga mengatakan, tetap memproduksi produk-produk dari bahan serat sabut kelapa selama bulan Ramadhan. Meski demikian, aktivitas penggilingan sabut kelapa selama puasa diberhentikan, dan akan dilanjutkan setelah Lebaran nanti.

Produksi barang-barang seperti keset kaki, pot, tali dan lainnya, menggunakan stok bahan baku serat sabut kelapa yang masih tersedia.

“Penggilingan tersebut dihentikan karena bulan puasa, bahan baku juga kurang, karena banyaknya pemetikan kelapa muda sebagai buka puasa. Sedangkan serat sabut kelapa harus dari kelapa yang sudah tua. Jadi selama puasa kami memutuskan untuk tidak ada penggilingan sabut kelapa, tapi produksi bahan tetap ada walaupun sedikit berkurang,” ucap M.Jamil.

Ketua Forum Daerah Usaha Kecil dan Menengah (Forda UKM) Aceh Besar itu berharap kepada Dinas Perindutrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh untuk bisa melihat langsung bagaimana perkembangan dari produksi sabut kelapa miliknya.

Selain itu harapanya kepada pemerintah untuk terus memberikan suport dan membantu agar usahanya itu bisa semakin berkembang.

Menurut M.Jamil, usaha pengolahan sabut kepala tersebut mampu membuka lapangan pekerjaan, dan itu sama saja membantu pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran di Aceh.

Usaha Dibangun dari Bawah

“Awalnya saya bekerja sendiri. Keset kaki ini saya bawa naik labi labi (angkot) ke Pasar Aceh. Di pasar, barang ini saya panggul sendiri, dan saya jajakan ke pembeli, dan ke toko-toko. Kadang tak ada yang laku. Harus saya bawa pulang lagi,” cerita M.Jamil, mengenang masa-masa sulit ketika dia baru merintis usahanya, sekitar 40 tahun lalu.

Kata M.Jamil, kerja kerasnya di masa lalu kini telah membuahkan hasil, mampu mempekerjakan orang-orang di sekitarnya. Di rumah produksinya ini lah M.Jamil mengolah sabut kelapa untuk diambil seratnya. Padahal selama ini sabut kelapa itu terbuang seperti sampah, dan dia olah menjadi bahan yang bernilai ekonomis dan bermanfaat.

“Awalnya hati saya tergerak setelah melihat banyak sabut kelapa yang terbuang menjadi sampah di daerah ini. Saya berpikir, bagaimana caranya agar ‘sampah’ ini bisa bermanfaat. Sejak itulah saya mulai coba mengolahnya dengan alat sederhana dan seadanya,” lanjut M.Jamil berkisah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Mohd Tanwir, saat memperlihatkan produk rokok kretek tangan yang di produksi dari Tanah Gayo, Aceh Tengah, Selasa, 7 Juli 2020. FOTO : Hendro Saky

M.Jamil awalnya memanfaatkan sepeda dayung yang dia modifikasi untuk mengangkut sabut kelapa dari seputran kampungnya. Lama ke lamaan, ketika kebutuhan bahan baku sabut kelapa semakin besar, M.Jamil mulai menggunakan mobil pick up. Kini dia mendapat suplai bahan baku dari pelanggannya.

“Ini pak, hasil dari usaha kita selama ini,” kata M.Jamil sambil menunjuk sebuah mobil pribadi warna putih, Toyota Avanza Velos, yang parkir di depan kantornya. Selain mobil pribadi, pengusaha yang mudah senyum ini juga memiliki mobil niaga, jenis pick up, untuk mendukung usahanya.

Pria yang kini kerab menjadi instruktur untuk pelatihan keterampilan dan kewirausahaan ini mengaku, paska tsunami, dia sempat kehilangan semangat. Tapi kondisi itu tidak lama, dan M.Jamil bangkit kembali.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier mengatakan, menghadapi pandemi COVID-19 yang telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi, khususnya di Provinsi Aceh, para pelaku IKM (industri kecil dan menengah), membutuhkan dukungan akses pasar.

Disperindag Aceh fokus perluas akses pasar produk IKM
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, saat memamerkan sejumlah produk IKM Aceh hasil binaan instansi tersebut, Rabu (21/4/2021). FOTO : Hendro Saky/popularitas.com

“Sektor IKM yang sampai saat ini masih bertahan dan mendukung perekonomian daerah. Karena itu kita patut mendukung sektor IKM ini, khususnya untuk akses pemasaran produk mereka,” kata Kadis Perindag Aceh, Mohd Tanwier, di ruang kerjanya, Selasa (20/4/2021).

Menurutnya, di Provinsi Aceh saat ini terdapat hampir 41 ribu IKM, yang tersebar di seluruh daerah di Aceh. Keberadaan IKM di Provinsi Aceh ini menjadi bagian penting dalam mendukung perekonomian di daerah, karena mereka hidup dari hasil penjualan produknya sendiri.

Selain itu, para pelaku IKM, contohnya usaha pengolahan serat sabut kelapa seperti M.Jamil, mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya.

“IKM ini yang bisa kita katakan benar-benar mandiri. Mereka bekerja memproduksi berbagai produk, kemudian menjualnya kepada masyarakat. Jadi mereka hidup dari hasil penjualan produknya sendiri,” lanjut Kadis Perindag Aceh itu. (*** advertorial)

-ads-

-ads-
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.