IKM Cilet Coklat Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

POPULARITAS.COM – Usaha Cilet Coklat yang dikelola Didi Supriadi sudah dua pekan berhenti beroperasi. Sebab, stok yang diproduksi sebelumnya masih tersedia, gara-gara transaksi jual beli turun selama lebaran Idulfitri 1442 H.

“Kita kemarin sebelum lebaran sudah produksi banyak, jadi habisin stok yang ada dulu baru mulai produksi lagi, soalnya kan kondisi Aceh lagi kurang tamu lebaran ini,” kata Didi saat dihubungi popularitas.com, Minggu (2/62021).

Cilet Coklat hadir di Banda Aceh pada Desember 2014 lalu, digawangi oleh seorang owner bernama Didi Supriadi. Usaha ini muncul dengan konsep memperkenalkan Aceh lewat cover coklat, yang memperkenalkan budaya, tarian, wisata, dan lain-lain.

“Cilet coklat memiliki tagline juaranya cokelat Aceh, yang sudah memperkerjakan sedikitnya 8 orang karyawan dan sebagian di antaranya teman-teman disabilitas yang pegang di bagian produksi,” ucap Didi.

Kurang lebih tiga tahun berjalan, usaha Cilet Coklat menjadi salah satu industri kecil menengah (IKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh.

“Menjadi binaan IKM sejak 2016 kalau tidak salah, awal sekali di program PENAS KTNA,” sebut Didi.

Kata Didi, Cilet Coklat kini memiliki tiga outlet resmi di Banda Aceh, yakni Jambo Tape, Pasar Aceh dan Peunayong. Di luar tiga tenmpat itu, Cilet Coklat juga bisa didapatkan di semua toko souvenir di Banda Aceh.

“Cilet Coklat juga bisa kita dapatkan di swalayan-swalayan sebagian Aceh. Penjualan seluruh Indonesia melalui mesia online instagram dan WA,” tutur Didi.

Tantangan Selama Pandemi

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan di Aceh, tetapi juga ekonomi. Pembatasan keluar masuk wisatawan ke Aceh menyebabkan daya beli kuliner di Tanah Rencong tersendat, salah satunya Cilet Coklat.

Dalam mengatasi persoalan itu, pengusaha Cilet Coklat melakukan inovasi pada produk untuk menciptakan penghasilan cepat. Di antaranya, menciptakan bubuk menjadi minuman siap saji, mengolah makanan khas Aceh jadi cemilan seperti coklat, dan lain-lain.

“Selama pandemi kami banyak berinovasi produk, untuk menciptakan pengahsilan cepat. Alhamdulillah kami tetap bertahan di tengah pandemi,” katanya.

Saat ini, Cilet Coklat milik Didi memiliki 30 jenis, terdiri 28 coklat batangan dengan berbagai varian rasa dan cover budaya, serta tari dan 1 varian bubuk serta 1 varian minuman.

Namun, Didi tak mau membeberkan omzet yang didapatkan dari penjualan di tiga outlet tersebut, baik sebelum maupun sesudah pandemi Covid-19.

“Omzet sementara cukup, hehe,” pungkas Didi.

Disperindag Perluas Jaringan IKM

Dalam kesempatan itu, Didi juga mengungkapkan bahwa selama Cilet Coklat menjadi salah satu IKM binaan Disperindag Aceh, jaringan perdagangan industri ini semakin luas, bahkan mencapai internasional.

Didi mengaku usahanya banyak dilibatkan di berbagai pameran lokal, nasional maupun internasional. Di samping itu, usahanya juga dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan yang ada.

”Banyak sekali hal-hal positif yang kami IKM dapatkan, semoga Disperindag Aceh semakin berjaya dan program-program kerjanya makin lebih baik, tetap jadi pembina yang baik,” kata Didi. 

Harus Tetap Aktif Meski Perlahan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh terus menyokong agar industri kecil dan menengah (IKM) di Bumi Serambi Mekkah tak menyerah di tengah pandemi Covid-19. IKM harus tetap aktif meski perlahan.

“IKM ini tidak boleh menyerah, harus tetap maju, bersama-sama walaupun tertatih-tatih, tetapi kita harus tetap berjuang. Pandemi ini tidak akan selamanya, tentunya ini akan berakhir, kita harus kuat untuk itu,” kata Kepala Disperindag, Mohd Tanwier pada popularitas.com, belum lama ini.

Disperindag Aceh fokus perluas akses pasar produk IKM
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, saat memamerkan sejumlah produk IKM Aceh hasil binaan instansi tersebut, Rabu (21/4/2021). FOTO : Hendro Saky/popularitas.com

Tanwier menyebutkan, supaya IKM tetap eksis di tengah pandemi, pihaknya telah berusaha dengan meluncurkan sejumlah program, salah satunya program pojok kreatif.

Ia menjelaskan, pada program ini, pelaku IKM bisa meletakkan barang atau produknya untuk dijual di cafe-cafe atau tempat-tempat keramaian.

“Kita dari Dinas Perindustrian sudah berusaha, salah satunya dengan program itu,” kata Tanwier.

Di sisi lain, kata Tanwier, pihaknya juga berpesan agar pelaku IKM untuk selalu menjaga protokol kesehatan pencegahan Covid-19. 

“Kita tetap menyampaikan kepada teman-teman IKM untuk selalu menjaga protokol kesehatan, tentunya untuk tetap aktif dalam kegiatan ini. Karena yang mendukung perekonomian Republik Indonesia ini justru teman-teman dari IKM,” katanya. (Advertorial)

-ads-

-ads-
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.