Ija Kroeng produk Aceh yang rambah pasar dunia

IJA KROENG, merupakan salah satu produk IKM Aceh yang dirintis oleh Khairul Fajri Yahya. Sang pemilik brand itu telah menekuni usahanya sejak 11 tahun silam. Memanfaatkan rumah sebagai tempat usaha, kini produk kain sarung itu telah merambah pasar dunia, seperti Denmark, Norwegia, Belanda dan Malaysia.

Dalam bincangnya bersama popularitas.com, Minggu (22/8/2021) ditempat usahanya, Khairul, sapaan karib pemuda itu meneranagkan, sejak awal dirinya memberi merek Ija Kroeng agar memudahkan dalam pemasaran. Sebab, sambungnya, nama itu sudah melekat kuat bagi masyarakat Aceh.

“Semua orang Aceh pasti tahu apa itu Ija Kroeng,” sebutnya.

Jadi, sambungnya, jika bicara brand Ija Kroeng, tentu tidak terlepas dari sejarahnya. Menurut Kharul lagi, Ija Kroeng yang berarti kain sarung memang sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Dan bahkan, dari literasi yang Ia baca, sejarawan Aceh, Rusdi Sufi dalam bukunya “Pakaian Tradisional di Aceh” yang diterbitkan tahun 1993 menulis bahwa salah satu lokasi pengrajin Ija Kroeng pada masa itu ada di kawasan Lambhuk, Kota Banda Aceh.

Di sana, pengrajin memproduksikan kain-kain dengan menggunakan alat tenun tangan yang disebut teupeun, sedangkan pekerjaannya disebut pok teupeun dan hasilnya disebut ija pok teupeun.

Dari desa Lambhuk juga dihasilkan kain-kain yang sangat terkenal seperti kain sarong (ija krong), kain selendang (ija sawak) dan jenis-jenis kain lainnya. Begitu terkenalnya sehingga selalu dicari orang, yang sering dinamakan dengan Ija Kroeng Lambhuk.

Ija Kroeng produk Khairul Fajri yang sudah merambah mancanegara

 

“Jadi, semua orang Aceh pasti tahu apa itu Ija Kroeng, nggak mungkin kalau kita bilang Ija Kroeng itu orang menyebut nama makanan, tumbuh-tumbuhan atau pot bunga. Maka dibilangnya pasti nama kain sarung,” jelas Khairul.

Khairul menceritakan, ia mendirikan Ija Kroeng bermula pada tahun 2010, di mana saat itu ia merancang kain sarung hitam putih polos. Meski belum memiliki brand, produksinya mendapat sambutan bagus dari pasar.

Beranjak dari itu, Khairul kemudian memberanikan diri untuk menjadikan usaha tersebut menjadi sebuah brand, sehingga bisa menembus pasar yang lebih luas.

“Sehingga di tahun 2015 kita tekatkan untuk kita jadikan sebagai brand profesional, ada prodaknya, ada brandnya, ada HAKI-nya, ada sistem produksinya, dan lain macam-macam,” ucap Khairul.

Khairul memanfaatkan rumahnya di Jalan Teuku Umar Lorong Mahya No 51 Gampong Setui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, sebagai lokasi produksi dan penjualan Ija Kroeng.

“Ija Kroeng baru memiliki satu workshop (tempat kerja), di mana di workshop itu ada tempat produksinya, ada tempat jualannya atau mini galerinya lah, dan sekarang lagi persiapan untuk membuka galeri baru di daerah Lampineung,” ujarnya.

Ija Kroeng, lanjut Khairul, menawarkan beragam jenis produk kepada konsumen, antara lain kain sarung, celana sarung, baju, syal, dan beragam jenis lainnya.

Dari beragram jenis, katanya, kain sarung warna hitam menjadi jenis produk paling diminati konsumen, terutama untuk kalangan anak muda. Kemudian disusul celana sarung, juga cukup diminati kalangan muda di Tanah Rencong.

“Untuk kalangan muda sendiri itu juga lebih diminati celana sarung, karena bisa dipakai sehari-hari dan bisa dipakai untuk aktivitas di luar tempat peribadatan,” tutur Khairul.

Adapun harganya cukup beragam, seperti kain sarung Rp285.000, celana sarung Rp335.000, baju Rp365.000 dan Rp395.000, kain sarung ikat bahan linen Rp420.000 dan ada kain sarung linen motif bordir manual Rp1.730.000.

Ija Kroeng kini sudah menembus pasar dunia, apalagi lokal dan nasional. Di tingkat dunia, Ija Kroeng sudah menyentuh pasar di berbagai negara seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Malaysia dan negara-negara lainnya.

“Kalau dari Aceh, peminatnya hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh dan hampir seluruh provinsi di Indonesia, dan luar negeri kita pernah kirim ke Denmark, Belanda, Norwegia, dan Malaysia juga,” ucap Khairul.

Pasang Surut di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 merusak berbagai sektor, salah satunya ekonomi. Pembatasan-pembatasan membuat wisatawan sulit masuk ke Indonesia, terutama Aceh. Hal ini juga memberi pengaruh besar bagi IKM Ija Kroeng.

Hanya saja, Khairul lebih jeli melihat peluang pasar. Saat pandemi melanda, ia langsung banting setir, dari sebelumnya merancang dan memproduksi sarung, kini beralih merancang dan memproduksi masker.

“Dimulainya pandemi, kita mengalami penurunan omzet di 2020, itu di Oktober dan November. Menyikapi penurunan omzet ini, di awal-awal pandemi kita mengalihkan produksi sarung ke produksi masker, dan itu Alhamdulillah diterima bagus oleh pasar,” katanya.

Sejak menjadi IKM binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, kata Khairul, Ija Kroeng banyak mendapat hal-hal positif untuk kemajuan usaha, seperti dilibatkan dalam pameran-pameran, diberikan informasi tentang pelatihan dan lain sebagainya. 

“Kelebihan kita mendapat informasi mengenai pelatihan-pelatihan, difasilitasi untuk pameran-pameran, difasilitasi untuk business matching, dijadikan produk kita sebagai souvenir dan lain-lain,” ungkap Khairul.

Khairul berharap, Pemerintah Aceh terutama Disperindag untuk tetap komit dalam menyokong IKM di provinsi paling barat Indonesia ini agar tetap eksis di tingkat lokal, nasional hingga ke pasar internasional. 

“Harapan Ija Kroeng kepada Disperindag tetap komit dari awal, yaitu mengeksekusi slogan membeli dan menggunakan produk lokal, dan itu harus dilakukan setiap waktu lah, dan bukan hanya dislogankan, ayo beli, dan lain-lain, tetapi betul-betul dibeli oleh pemerintah,” demikian Khairul.

Tetap Semangat di Tengah Pandemi

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh berharap kepada para pelaku IKM di Tanah Rencong tetap semangat dalam menjalani usaha di tengah pandemi Covid-19. Pelaku IKM juga diminta tetap menjalani protokol kesehatan dalam melayani pembeli.

“Dan perluas wawasan bisnisnya melalui kesempatan pelatihan yang ditawarkan secara tatap muka maupun online,” kata Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Dra. Nila Kanti, M.Si, Kamis (26/8/2021).

Di samping memanfaatkan program-progam yang disediakan Disperindag Aceh, seperti pojok kreatif, pelatihan digital marketing dan lain sebagainya, para pelaku IKM juga dapat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, daerah, maupun lembaga lembaga pelatihan yang kredible.

Sehingga, lanjut Nila Kanti, diharapkan dengan ikutnya para pelaku IKM dalam setiap pelatihan bisnis akan timbul ide-ide kratif, bertambahnya mitra dan jaringan bisnis.

“Sehingga akan bermanfaat dalam mengambil peluang pasar yang saat ini persaingannya semakin ketat,” ungkap Niken, sapaan akrab Nila Kanti. (***)

Comments
Loading...