Gurihnya Budidaya Udang Vaname

BANG nanti malam jam 9 datang ke tambak yah, hari ini panen. Begitu satu pesan singkat melalui layanan aplikasi WhatsApp masuk dari Bang Zul, salah seorang sahabat yang juga pembudidaya udang vaname. Siap meluncur, jawabku kemudian.

Minggu malam, 7 Juli 2019, bakda isya, langsung kupacu sepeda motor merek honda keluaran tahun 2019, ke lokasi yang dituju. Sebenarnya sudah beberapa kali Zulfadhli mengirim pesan serupa setiap tambak undangnya memasuki siklus panen, namun dalam kesempatan ini menyempatkan diri mendatanginya.

Sepanjang perjalanan, terbayang kelezatan dan gurihnya daging udang vaname. Dirumah, istri dalam sebulan beberapa kali memasaknya dengan menjadikannya lauk sambal.

Butuh 12 menit perjalanan dari lokasiku ketempat tambak udang milik Bang Zul. Setelah melewati jalan besar menuju makam Syiah Kuala, memasuki lorong tanpa aspal mengakhiri tujuan. Wah, terang benderang ini lokasi, dan seperti pasar malam saja, batinku kemudian.

Melihat kehadiranku, Bang Zul yang semula sedang berbicara dengan beberapa orang, mengakhiri percakapannya, dan menyalami seraya berkata, kiban haba, yang bermaksud menanyakan kabar dalam bahasa Aceh. “Lihat-lihat dulu, air kolam sedang kita keringkan,” katanya.

Lokasi tambak milik Zulfadhli terlihat dikelola dengan profesional, setiap kolam ditutupi dengan plastik tebal berwarna hitam, dan jarak antar kolam terdapat ruang pejalan kaki yang luas, dan juga selimuti terpal tebal.

Terlihat beberapa orang tengah mengeringkan salah satu tambak yang siap dipanen. Sementara dibeberapa sisi kolam lainnya, terdengar suara aliran air yang berasal dari kincir air apung yang ditempatkan pada setiap sudut.

“Setiap satu kolam berukurang 1200 meter persegi, kita tempatkan 4 kincir air apung,” kata Bang Zul menerangkan kemudian saat ditanya fungsi dari alat tersebut.

Saat ini, terangnya kemudian, lokasi tambaknya terdapat 9 kolam, yang masing-masing berukurang 1200 meter persegi, atau seluas 25 x 20 meter.

Budidaya udang vaname saat ini secara bisnis sangat menjanjikan, dan memberikan keuntungan besar, sebab, selain permintaan tinggi, harga jual juga lumayan baik. “Budidaya udang vaname, high provit and high risk, atau besar untung juga besar resiko,” katanya.

Namun, dengan memanfaatkan teknologi pembudidayaan yang terus berkembang, resiko dapat diminimalkan, tapi, kalau di Aceh, tantangan terbesar yang didapati petani budidaya adalah soal kepastian pasokan listrik.

Saat menerangkan perihal teknik budidaya udang vaname, kolam udang yang akan dipanen air berangsur surut, dan terlihat lima pekerja menarik jala yang telah disiapkan, dan tampak dengan jelas ribuan udang siap panen seukuran jempol tangan orang dewasa.

Sejurus kemudian, udang-udang tersebut ditempatkan dalam wadah plastik berbentuk segi empat, dan selanjutnya dibawa kesatu bangunan dilokasi yang sama. “Setelah pemanenan itu, tahap selanjutnya dilakukan penyortiran,” jelasnya.

Proses penyortiran dilakukan dengan menumpuk udang hasil panen dari kolam keatas meja yang didesain sedemikian rupa, dan selanjutnya sejumlah pekerja dengan menggunakan sarung tangan karet, melakukan pemilihan didasarkan pada ukuran besar dan kecil.

“Penyortiran didasarkan pada besar dan kecil udang hasil panen, karena harga berbeda,” terang bang Zul kemudian.

Ia melanjutkan, setiap kolam udang miliknya dengan ukurang 25 x 20 meter tersebut, menghasilkan rata-rata 2 hingga 2,5 ton udang vaname, dan saat ini, dilokasi tambaknya terdapat 9 kolam. “Jadi setiap siklus panen atau 4 bulan sekali dari 9 kolam dihasilkan 20 hingga 22 ton,” sebutnya.

Nah, dalam satu tahun, terdapat dua kali siklus panen, sehingga rata-rata dari 9 kolam miliknya menghasilkan 40 hingga 44 ton. Soal harga, sambungnya, saat ini, untuk ukurang besar dibeli langsung oleh perusahaan Rp90 ribu perkilogramnya, sedangkan ukurang kecil Rp70 ribu perkilogramnya. “Ini bisnis yang menjanjikan, jika dikelola dengan serius dan profesional,” tukasnya.

Jika diasumsikan rata-rata dengan kalkulasi harga tersebut, maka setiap satu siklus panen, atau 4 bulan sekali, 9 kolam milik Zulfadhli menghasilan omset Rp1,4 miliar.

Saat ditanya tentang keuntungan, Bang Zul hanya menjawab bahwa, dari omset yang ada, setelah dipotong biaya operasional, margin yang diperoleh rata-rata hanya pada kisaran 30 persen hingga 35 persen setiap satu kali siklus panen.

Untuk mengelola kolam-kolam miliknya, Zulfadhli memperkerjakan tujuh orang karyawan, yang terdiri dari dua orang tenaga teknis, dan lima orang petugas pembersihan.

Dalam menjalankan pembudidayaan tambak miliknya, Zulfadhli bekerjasama dengan salah satu perusahaan pakan terbesar, yakni PT Pokphand Indonesia. “Jadi saat kita panen, hasil langsung dibeli oleh mereka,” katanya.

Zulfadhli mengatakan, di Aceh, pembudidayaan udang vaname masih sangat terbuka luas prospeknya, ini mengingat panjang garis pantai di Aceh hampir 3 ribu kilometer, dan saat ini.

Informasi yang Ia dapatkan, saat ini, pasokan udang vaname dari Aceh, berkontribusi sebesar 40 persen terhadap hasil provinsi sumatera utara, untuk tujuan ekspor ke Jepang, Korea dan Amerika Serikat.

Dan Ia mengharapkan, pemerintah Aceh, untuk memberikan perhatian luas terhadap usaha budidaya ini, sebab, selain memberikan dampak terhadap perekonomian daerah, kegiatan ini juga sebagai solusi dalam mengatasi pengangguran.

Disisi lain, dirinya mengharapkan adanya keseriusan pemerintah Aceh soal jaminan ketersediaan pasokan listrik, sebab, kendala yang dihadapi petambak udang saat ini adalah kepastian aliran listrik. “Ditambak ini butuh aliran listrik 24 jam,” tukasnya.

Inilah resiko terbesar dihadapi petani petambak udang di Aceh, katanya, sebab, jika 1 jam saja listri padam, maka dapat dipastikan kerugian besar sudah didepan mata. “Listrik mati, udang mati, rugi sudah pasti,” jelasnya.

Seraya berdiskusi, aroma udang goreng sangat terasa tercium. “Sepertinya sudah tersedia yang digoreng nih, ayo kita makan dulu,” kata Zulfadhli mengakhiri diskusi kami malam itu. (SKY)

Anda mungkin juga berminat