Copa

MESSI, mungkin sedikit dari manusia di atas planet ini, yang paling menderita ketika membela negaranya. Dia, dengan segala bakatnya, seperti dijauhkan oleh takdir yang baik. Bahkan mungkin dia telah dikutuk oleh bakatnya itu pula.

Hari ini dia meradang. Suaranya parau, tapi keras, “Copa America telah diatur untuk Brasil. Argentina lebih pantas ke final. Bukan Brasil”. Dan, di ujung cerita, medali perunggu dari kemenangan Argentina atas Chile, pun ditolaknya.

Lalu, apa sebenarnya yang salah dari Messi, ketika berkaos Argentina?

Mulailah muncul suara lantang; dia tidak menyumbang apapun untuk negaranya, kata sebagian orang. Dia tidak bermain seperti di Barcelona, kata yang lainnya.

Kalau untuk ukuran prestasi Messi hampir memberikan segalanya untuk Argentina. Iya, hampir. Berikut urutannya, emas Piala Dunia U-20. Emas Olimpiade Beijing 2008.

Selebihnya? Hanya empat perak. Iya, empat. Artinya Messi berhasil membawa negaranya nyaris juara.

Nyaris juara artinya tidak juara.

Messi mengoleksi Perak Copa America 2007, perak Piala Dunia 2014, perak Copa America 2015 dan perak Copa America 2016.Dia hanya kalah satu angka dari Macherano, yang memiliki benda itu dari penghelatan Copa America 2004.

Medali perak bagi negara sepakbola seperti Argentina, tidaklah cukup. Mereka meminta ada sebagai pemuncak. Tapi hal itu tidak mampu diberikan Messi, seperti yang dia lakukan untuk Barcelona.Di klub itu, Messi bermain dengan riang, tapi tidak untuk Argentina, kata sebagian yang lain.

Di Barcelona, Messi dilindungi. Bahkan sejak dia didiagnosa gagal dalam pertumbuhan. Di klub itu pula, dia memiliki segalanya, mulai dari pemilik, pemain senior, keluarga bahkan para fans.

Tapi tidak di Argentina.

Di negara tempatnya lahir, dia berhadapan dengan poster demi poster Maradona. Ingatan tentang Maradona. Bahkan mitos demi mitos tentang Maradona. Messi dipaksa harus menaklukkan itu. Setiap langkahnya, larinya, gocekannya dan sikapnya, selalu dibandingkan dengan Maradona. Dia tidak gembira ketika memakai kaos Argentina bernomor sepuluh itu. Messi lalu menjadi ironi. Di Barcelona dia dirayakan. Tapi di Argentina dia diratapi. Begitu dicatat dalam bentangan sejarah.

Lalu kini, kesempatannya sebagai pemain terbesar dalam sejarah sepakbola dunia telah usai. Bermain di Qatar 2020 nanti, di usia 33 tahun bukanlah waktu yang tepat. Sepakbola telah berlari dengan kencang, terutama karena olahraga itu telah menjadi tempat memutar uang dengan cepat. Pertandingan demi pertandingan telah menyita energi. Belum lagi hal-hal di luar lapangan.

Pun demikian, ucapkanlah terima kasih kepada Messi. Dia telah mengharu-birukan sepakbola kita, terutama sejak tahun 2005.

Bahwa ada cerita dia tidak menjadi yang terbesar, itu sudah suratan takdirnya. Karena dia adalah salah satu pemain sepakbola, bukan sepakbola itu sendiri.

***

Penulis adalah Alkaf, seorang blogger kreatif asal Aceh dan pecinta sepakbola.

Iklan Konata 3

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat