Cerita Yudi Hidayat Tekuni Pembuatan Rencong Aceh Sejak 1995

POPULARITAS.COM – Provinsi Aceh mempunyai sejarah panjang dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, sehingga Indonesia meraih kemerdekaan.

Salah satu senjata yang digunakan orang Aceh dalam melawan penjajah adalah rencong. Sehingga, rencong kini sudah dijadikan simbol identitas diri, keberanian, dan ketangguhan masyarakat Aceh.

Salah satu wilayah di Aceh yang masih melestarikan pembuatan rencong adalah Gampong Baet Mesjid, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar.

Dia adalah Yudi Hidayat. Pria berusia 37 tahun ini sejak tahun 1995 silam menekuni bidang pembuatan rencong sebagai senjata khas Aceh.

Pekerjaaan pembuatan rencong ditekuni Yudi sejak ia masih usia remaja atau 11 tahun dan saat itu Aceh masih didera darurat militer, antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia.

Yudi membuat rencong sebagai souvenir atau kenang-kenangan dan juga bisa sebagai benda tajam yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Aceh.

Pada masa konflik bersenjata, rencong sangat laku dan sangat diminati oleh TNI sebagai oleh-oleh khas Aceh, juga sebagai cenderamata yang bisa dipajang di rumah ataupun kantornya.

Kegiatan melestarikan budaya Aceh ini terus ditekuninya hingga saat ini sebagai bukti kecintaannya untuk Aceh. Di sisi lain, juga untuk membantu ekonomi diri sendiri dan warga sekitar.

“Alhamdulillah dengan menekuni pekerjaan ini, saya dapat membantu membangkitkan ekonomi keluarga dan warga sekitar, dan saat ini saya menjadi distributor rencong di berbagai toko suvenir di Aceh,” kata Yudi saat ditemui, Selasa (5/10/2021)

Harga yang terjangkau menjadikan pemilik toko senang mengambil barang dari Yudi. Harganya bervariasi mulai Rp10 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung ukuran dan jenis bahan bakunya.

“Ada juga yang lebih mahal lagi dan itu tergantung pesanan konsumen,” ujar Yudi.

Cenderamata rencong ini, kata Yudi, banyak diminati oleh orang luar Aceh dan tamu dari mancanegara, seperti Malaysia dan negara tetangga lainnya.

Bahkan, pasca bencana Gempa dan Tsunami melanda Aceh tahun 2004, rencong laris manis karena diminati oleh para relawan asing yang datang ke Aceh.

“Di situlah cenderamata ini semakin terkenal ke berbagai belahan dunia,” jelas Yudi.

Selama menjadi pengrajin dan distributor, Yudi meraih keuntungan sekitar Rp3 juta setiap bulannya.

Namun, saat pandemi omzet dari penjualan rencong menurun drastis menjadi Rp1 juta per bulan. Hal ini karena tidak ada lagi tamu-tamu luar yang datang ke Aceh.

“Dan tidak ada lagi even-even nasional yang diadakan di Aceh,” ungkap Yudi.

Dia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga usahanya kembali membaik. Ia juga berharap Pemerintah Aceh dapat mengadakan kembali even-even bertaraf nasional dan Internasional dalam mendongkrak perekonomian rakyat.

“Semoga saat pandemi berakhir, even-even kembali hadir di Aceh untuk mendongkrak kembali perekonomian warga Aceh yang telah anjlok semasa Covid-19,” kata Yudi.

Salah seorang pembeli, Ziaul Fahmi datang langsung ke kediaman Yudi untuk membeli senjata tradisional itu, Selasa (5/10/2021).

Menurut Ziaul, barang yang diproduksi pengrajin rencong Gampong Baet Mesjid, Aceh Besar ini sangat bagus dan berkualitas.

“Pembuatannya bagus dan sangat rapi, kali ini saya membeli 8 rencong dengan ukuran bervariasi untuk saya kasih sebagai cendramata kepada teman saya di Pulau Jawa,” kata Ziaul, pemuda asal Bireuen yang kini bermukim di Subang, Jawa Barat.

Ziaul juga berharap kepada pemuda Aceh untuk selalu ikut serta melestarikan adat dan budaya Aceh supaya tidak punah. Salah satunya dengan membeli rencong sebagai produk lokal.

“Pemuda Aceh juga diharapkan selalu ikut mendukung dan memasarkan produk-produk Aceh demi membangkitkan perekonomian rakyat Aceh,” ujar Ziaul.

Editor: dani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.