Catatan ringan Firli Bahuri dan keinginannya jadi patriot bangsa

SEBAGAI anggota Polri, dulu saya pernah dan kerap bekerja untuk negara dengan tugas berat, namun kerja-kerja itu tidak mewajibkan saya terkenal, dan populer.  Namun, saat ini, dengan tugas sebagai Ketua KPK RI, popularitas adalah hal yang tak dapat dihindarkan.

Suka tidak suka, popularitas adalah hal yang tidak dapat saya hindari. Karena itu, nama saya secara Pribadi, dan lembaga yang saya pimpin ikut terseret dan melambung popularitasnya. Fakta ini adalah hal yang tidak wajar untuk dihindari.

Satu hal yang saya syukuri, KPK saat ini adalah lembaga yang berada dalam lingkar rumpun eksekutif, dan dalam pelaksanaan kerja-kerja tidak dapat terpengaruh kekuasaan manapun. Hal tersebut sejalan dengan UU revisi KPK, dan kebetulan negara memberikan saya kepercayaan sebagai orang pertama memimpin lembaga KPK hasil UU revisi.

Bahwa kemudian, pengawasan terhadap KPK semakin besar, hal ini ditandai dengan kritik dan penilaian yang diberikan, baik kepada saya pribadi, maupun terhadap kelembagaan KPK.

Sejak awal memimpin KPK, saya menyadari dan berkeyakinan, pengawasan merupakan hal mutlak, sebab hal itulah yang membuat KPK terdorong untuk memberikan kerja-kerja terbaik dalam tugas pemberantasan korupsi di negara yang kita cintai ini.

KPK tidak boleh hanya meneria pujian dan tepuk tangan, sebab hal itu justru membuat kesalahan, dan kesalahan itu terus terpelihara, akan menjadi beban generasi masa Indonesia kedepannya. Sebabnya, pengawasan terhadap KPK adalah hal yang mutlak.

Sebab itulah, merasa diawasi adakan membuat saya, dan seluruh KPK mentalnya akan menjadi lebih baik. Sebab, bisa saja kritikan yang dialamatkan saat ini sebagai bentuk serangan balik koruptor, namun hal itu bukan bentuk ksataria.

Yang perlu digaris bawahi adalah, pengawasan merupakan prinsip check and balance dalam demokrasi, walau ada yang karakter orang yang merasa benar lalu tidak perlu diawasi, makal hal tersebut justru tidak benar.

Terkait dengan ada pihak yang mempersoalkan dukungan politik kepada saya yang muncul dari bayak elemen, seperti Pemuda, ibu-ibu, santri dan tokoh masyarakat lainnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa saya hindari.

Karena itu diawal sudah saya sampaikan, kerja-kerja saya sebagai ketua KPK RI tidak terlepas dari popularitas tersebut. Dan mereka yang mendukung mungkin adalah orang yang mengenal saya dari jarak jauh, dan dukungan banyak ragamnya, ada bentuk kasih sayang, dan bentuk kebencian, dan semua itu diluar kendali dan tidak bisa saya kontrol.

Dan tentu dukungan itu, baik berupa rasa benci, rasih cinta, merupakan hal yang wajar, meningat tugas-tuga saya saat ini Penuh dangan ekspose dan pemberitaan banyak media.

Konsekuensi tugas itulah yang kemudian menggambarkan perbedaan saya dengan orang lain, sebab sebagai manusia biasa saya ingin tampak apa adanya, tidak sok istimewa, karena memang saya dulunya merupakan anak kampung yang lahir dari keluarga miskin. 

Saya mengajak seluruh anak bangsa untuk terlibat dalam upaya membangun budaya antikorupsi, menghindari perilaku koruptif. Semua dilakukan untuk membersihkan NKRI dari praktik praktik korupsi. Semua menjadi ramai sekali lagi karena saya tidak bisa menghindar menjadi pribadi yang disorot dengan mata yang lebih tajam dari hari ke hari.

Bahkan istri saya pun, ikut disorot. Beliau yang mencintai seni dan musik itu, karena rasa bangganya menjadi bagian dari kerja pemberantasan korupsi di KPK lalu menciptakan lagu yang merupakan hak setiap warga negara untuk mencipta. Juga memperoleh kritik.

Dan lagu itu telah didaftarkan tahun lalu di Direktorat Hak Cipta Kemenkumham. Lalu pencipta lagu itu menyumbangkannya  kepada lembaga tempat saya bekerja dan lembaga menerima lagu itu dengan sebuah ucapan terima kasih.

Saya terima kritik ini, termasuk kritik kepada pencipta lagu itu dan tentu saya tidak akan menghindar apabila itu semua demi kebaikan bangsa dan negara saya akan teruskan.

Saya ingin tetap menjadi manusia biasa, menjadi Patriot bangsa yang bekerja untuk Indonesia Raya.

Makanya saya menulis Firli Bahuri untuk Indonesia. Saya singkat FBI pun menjadi sorotan. Padahal saya sampaikan itu semua untuk mengingatkan diri saya bahwa saya dalam pengabdian kepada Indonesia Raya. 

Saya memimpin sebuah lembaga yang saya harus jaga reputasi dan kehormatannya, tetapi saya tidak ingin yang bekerja di lembaga itu menjadi manusia yang berbeda. Kita adalah manusia biasa yang berusaha menegakkan hukum dan etika dalam tugas kita sebagai manusia biasa, sebagai warga dan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Saya tidak ingin menjadi manusia yang kaku, yang membenci pergaulan hanya karena pada dasarnya tidak memahami arti dari kehormatan dan jiwa besar. 

Saya percaya Indonesia dapat menjadi negara yang bersih dari korupsi bukan karena pencitraan tapi karena tegaknya sistem hukum dan keadilan di semua lini kehidupan kita. 

 

Oleh Firli Bahuri

Penulis adalah Ketua KPK RI

Comments
Loading...