BKSDA: Frekuensi Konflik Manusia dengan Gajah Terus Meningkat

BANDA ACEH (popularitas.com) – Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto mengatakan, konflik satwa gajah dengan manusia tidak terlepas habitatnya sudah terganggu.

Menurutnya, habitat gajah semakin berkurang karena telah terfragmentasi dan 85 persen populasinya berada di luar kawasan konservasi, bahkan sudah berada di luar kawasan hutan.

“Konflik satwa tidak terlepas habitat sudah terganggu,” kata Agus saat menjadi pemateri dalam sebuah diskusi yang digelar FJL di Banda Aceh, Kamis, 16 Januari 2020.

Berdasarkan data BKSDA Aceh, kata Agus, konflik gajah di Aceh lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2015 lalu 39 kali konflik naik pada 2016 menjadi 44 kali. Terus terjadi peningkatan pada 2017 menjadi 103 kasus, meskipun terjadi penurunan pada 2018 hanya 73 kasus. Tetapi kembali meningkat pada 2017 sebanyak 107 kasus.

“Konflik satwa semakin meningkat selama 5 tahun terakhir. Meningkat ini juga ditambah tidak ada strategi khusus penanganan konflik,” ungkap Agus.

Sedangkan data kematian gajah dari 2016 hingga 2020 ada 38 gajah mati. Penyebab kematian gajah 74 persen karena konflik, 14 persen perburuan dan 12 persen mati alami.

“Harapan saya kedepan dapat kita sosialisasikan agar dapat meminimalisir konflik gajah,” jelasnya.

Selain Kepala BKSDA, Agus Arianto, diskusi tersebut juga dihadiri Kasat Reskrim Polres Aceh Jaya, Iptu Bima Nugraha Putra, Asosiasi Keuchiek Teunom, Aceh Jaya, akademisi dan sejumlah elemen lainnya.

Diskusi ini digelar guna menyikapi ditemukan tulang-belulang lima ekor gajah di Gampong Peuriya, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh 1 Januari 2020 lalu. Bangkai gajah itu ditemukan dalam kebun sawit milik warga. Satwa dilindungi itu diduga mati akibat tersengat arus listri, karena di lokasi ditemukan kabel listrik terpasang setinggi 1,5 meter.* (C-008)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat