ASA Kopi, inovasi kunci bertahan di tengah Pandemi Covid-19

ASA Kopi, inovasi kunci bertahan di tengah Pandemi Covid-19

BETHSEBA, hari itu terlihat duduk di meja kasir, toko ASA Kopi. Jemarinya terlihat tengah mengetik sesuai pada layar monitor komputer di depannya. Beberapa orang terlihat lalu lalang, terdapat jejeran produk kopi didalam toko yang terletak di Peunayong, Banda Aceh.

Hampir genap tujuh bulan, Bethseba dipercaya sebagai pengelola ASA Kopi di Banda Aceh. Perempuan asal Salatiga, Jawa Tengah ini bertugas memasok kopi untuk lokal dan nasional dalam jumlah di bawah satu ton.

“Toko ini berdiri sejak kurang lebih tiga tahun lalu. Kalau saya fungsinya di sini sebagai pengelola untuk memajukan penetrasi orginal Gayo Coffee untuk daerah lokal,” kata Beth saat ditemui di tokonya, Kamis (8/7/2021).

ASA Kopi adalah milik Armiyadi, pengusaha kopi asal Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Usaha ini menjadi salah satu industri kecil menengah (IKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh.

Armiyadi dikenal sebagai salah satu pengusaha kopi sukses di Tanah Gayo. Memulai karir sejak 2006, produknya kini menjadi langganan pecinta kopi di berbagai belahan dunia, terutama Amerika Serikat.

“Aktivitas Bapak Armiyadi sekarang dia sebagai eksportir yang memasok ke beberapa negara; Amerika dan Asia,” kata Beth.

Amriyadi menghabiskan banyak waktu di Takengon. Selain sebagai seorang pengusaha, ia juga menjadi mentor coach di bidang pembibitan, perawatan sampai pengolahan kopi menjadi siap saji.

“Jadi dari hulu sampai hilir, Pak Armiyadi itu sangat menguasai dan paham,” jelas Beth.

baca juga : Disperindag Aceh fokus perluas akses pasar produk IKM

Apabila pengiriman di atas satu ton, kata Beth, itu langsung ditangani langsung oleh Armiyadi. Biasanya, pengiriman dalam jumlah ini dilakukan ke luar negeri.

“Kalau yang misalkan yang kecil-kecil untuk pembeli di bawah satu ton itu berarti masuknya ke sini, ke Banda Aceh, terutama untuk rosbin sama brown. Brown itu bubuk,” tutur Beth.

70 Persen Pasar Online

Pandemi Covid-19 merusak berbagai sektor, salah satunya ekonomi. Pembatasan-pembatasan membuat wisatawan sulit masuk ke Indonesia, terutama Aceh.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sudah 14 bulan provinsi paling barat Indonesia itu tak dikunjungi wisatawan asing. Hal ini akibat pembatasan, terutama di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.

Dalam mengatasi hal tersebut, ASA Kopi terus melakukan inovasi agar tetap hidup meski di tengah pandemi. Proses pemasaran kopi pun dialihkan menjadi online.

“Saya dari awal sudah tahu, kalau kita tidak melakukan explore di online, parah, nah kami di online aja. Karena di online itu menguasai sekitar 70 persen pasar,” ucap Beth.

Beth menekankan, pemasaran di online tidak boleh serta merta. Menurutnya, perlu trik-trik khusus dalam menerapkan sistem online, supaya pelanggan tidak kabur ke produk lainnya.

“Misal, kita dapat customer online ini, kita tidak kenal orangnya kan, kalau kita tidak melakukan engagement (hubungan), tidak melakukan follow up dengan people skill, tentunya akan kabur juga.”

“Jadi ya online ya memang 70 persen, tetapi setelah dia masuk, kita harus melakukan pendekatan, baru dia akan menjadi customer kita, terus menjadi pelanggan tetap, reseller dan seterusnya. Sejak kita pegang, Alhamdulillah omzetnya ada, net workingnya jalan,” kata Beth.

Dalam kesempatan itu, Beth menjelaskan, selain di Takengon, proses penggilingan dan pengemasan juga dilakukan di Banda Aceh. Dalam beberapa kesempatan, ia juga menerima pengemasan untuk produk-produk kopi UMKM lainnya.

“Ada yang dilakukan itu di Takengon, ada juga yang kita lakukan di sini, tergantung kebutuhan sih. Karena kita di sini mengelola UMKM, jadi kalau teman-teman minta tolong dikemasin di sini, kita kemasin juga,” ucap Beth.

Adapun jenis kopi yang dipasarkan adalah robusta dan arabica. Kedua jenis kopi ini sama-sama diminati oleh pasar internasional. Untuk jenis robusta misalnya, dilepas ke pasar Jepang dan Korea.

“Diekspor keluar tergantung negaranya, kalau negaranya kayak Jepang dan Korea itu mereka cenderung robusta. Tetapi kalau ke Amerika dan Eropa itu arabika,” tutur Beth.

Banyak Keuntungan menjadi IKM Binaan

Beth mengaku banyak sekali keuntungan menjadi IKM binaan Disperindag Aceh, salah satunya soal perizinan. Di samping itu, para IKM juga akan mudah memperluas jaringan, terutama dengan pelanggan lokal, nasional hingga internasional.

“Kalau kita menjadi binaan sebuah instansi pemerintah atau siapapun sih sebenarnya, kita itu jangan jadi orang yang diam, kita harus aktif, sering nanya, karena mereka tidak akan memberikan sesuatu apapun kalau kita tidak nanya,” katanya.

Menurut Beth, menjadi binaan Disperindag Aceh bukan hanya mendapatkan hal dalam bentuk material, tetapi inmaterial.

“Saya rasa, kalau orang berhubungan dengan instansi pemerintah maunya cuma minta duit, saya rasa itu salah, kurang tepatlah sebenanrnya. Karena kalau ingin dapetin uang aja, dia bikin UMKM,  bikin laporan keuangan yang bagus dia pasti akan diberikan oleh siapapun,” pungkasnya.

Inovatif dan Kreatif

Kepala Disperindag Aceh, Mohd Tanwier meminta para pelaku IKM di Tanah Rencong agar inovatif dan kreatif di tengah pandemi Covid-19. Para IKM harus memahami apa yang dibutuhkan pasar.

“Para IMK harus inovatif dan kreatif; apa yang dibutuhkan pasar, target pasar kita apa, apakah kaum millenial atau apa,” kata Tanwier.

Dia juga mengajak para pelaku IKM di Aceh untuk memanfaatkan pasar digital di tengah pandemi Covid-19. Ini agar produk-produk yang dilahirkan di masing-masing IKM dapat laku di pasaran.

Disperindag Aceh fokus perluas akses pasar produk IKM
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, saat memamerkan sejumlah produk IKM Aceh hasil binaan instansi tersebut, Rabu (21/4/2021). FOTO : Hendro Saky/popularitas.com

“Para IKM kita juga harus bisa melihat kondisi hari ini. Hari ini peluang terbesar untuk pasar adalah pasar digital, suka tidak suka, ya kita harus masuk ke segmen itu,” kata Tanwier.

Di beberapa kesempatan seperti seminar, kata Tanwier, pihaknya selalu mengingatkan para IKM agar memanfaatkan pasar digital. Sebab, pasar digital ini dapat menjangku ke berbagai wilayah, bahkan luar negeri.

“Mungkin kemarin di seminar ISMI di sini ada beberapa yang sudah (ke pasar digital), kita harus bergabung ke situ, ke sistem tersebut, karena penjualan secara digital itu bisa kemana-mana, seluruh dunia ini kita berjualan,” ucap Tanwier.

Ia menyebutkan, sebelum pandemi Covid-19, Disperindag Aceh selalu melibatkan IKM di setiap pameran-pameran. Di sana, mereka bisa berinteraksi langsung dengan pasar-pasar baik lokal, nasional dan internasional.

Namun, lanjut Tanwier, saat pandemi Covid-19, pameran-pameran seperti itu sudah jarang dilakukan. Kalaupun ada, lanjut Tanwier, kegiatannya serba terbatas dan pengunjungnya juga dibatasi.

“Karena ada pembatasan-pembatasan, makanya yang paling ideal adalah media teknologi, jadi media teknologi tak ada kaitan dia dengan Covid-19, dia nggak terkontamidasi dengan Covid-19, dia tetap bisa eksis,” ujar Tanwier. (***Advertorial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.