Aqua Dwipayana, dari pewarta hingga menjadi motivator yang gemar bersilaturahmi

POPULARITAS.COM – “Wartawan itu, everyday is workday. Wartawan itu setiap hari adalah hari kerja, sesuatu yang menyenangkan, setiap hari, saya bersyukur pernah jadi wartawan. Saya juga ingin menyampaikan bahwa wartawan ini punya potensi besar untuk menciptakan buku.”

Kalimat tersebut muncul dari seorang Aqua Dwipayana kepada peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) angkatan ke-4 yang diselenggarakan  Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) secara virtual pada Sabtu, 19 Maret 2022.

Siapa tidak kenal dengan Aqua Dwipayana, seorang pakar komunikasi, motivator kondang yang telah mengisi berbagai acara dan even dengan bayaran puluhan juta rupiah, bahkan puluhan perusahaan telah memakai jasanya sebagai konsultan komunikasi.

Pria kelahiran 23 Januari 1970 di Pematang Siantar, Sumatera Utara tersebut meniti karir sebagai jurnalis di media Jawapos, Surabaya Minggu, serta Bisnis Indonesia dan lainnya.

Bak petuah bijak “Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohon” Aqua sejak kecil telah mengagumi sang ayah, Syaifuddin yang juga seorang jurnalis.

Kehidupan keluarga yang sederhana dan didikan dari sang ibu yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan membuat Aqua semakin menguatkan tekadnya menekuni bidang jurnalisme sampai ia menimba ilmu di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Dunia kewartawanan Aqua hanya bertahan 6 tahun atau sampai 1994. Terbilang singkat, namun penuh pengalaman berharga, belajar dari berbagai persoalan sosial masyarakat, bertemu banyak narasumber dengan beragam latar belakang disiplin ilmu, jabatan tanpa mengangkangi kode etik jurnalistik.

Faktor itu membuat suami dari Retno Setiasih tersebut menjadi salah satu wartawan yang disegani sekaligus dihormati di Surabaya.

“Hanya 6 tahun, tetapi saya dapat banyak pengalaman, saya menjalin hubungan dengan narasumber, liputan, saya tidak pernah menerima uang, sehingga hubungan baik dengan narasumber masih terjaga sampai saat ini, penting kita menjaga silaturahmi. Dalam setiap hubungan silaturahmi yang dilakukan ada beberapa hal menjadi kuci komitmen peduli dan mendoakan sesama,” ungkap Aqua.

Menurutnya, pewarta sangat penting menjalin silaturahmi dan mempertahankan hubungan baik dengan narasumber juga mitra.

Hal itu tidak mudah, berbagai kendala di awal, tidak didengar, diabaikan, ditolak, semua itu bagian dari proses panjang untuk menjadi jurnalis yang matang.

“Intinya sebenarnya adalah menghargai orang lain, bukan memikirkan apa yang akan didapat tapi memikirkan apa yang bisa diberikan dengan begitu hubungan baik akan terjaga lebih akrab,” tambahnya.

Hubungan baik itu pun membuat Aqua mencoba peruntungan baru menjadi karyawan PT Semen Cibinong, kini bernama PT Holcim Indonesia TBK dan ditempatkan di bagian kehumasan, yang sejatinya masih sejurus dengan disiplin Ilmu Komunikasi. Di situ ia bertahan sampai tahun 2005.

Setelah puas dengan profesi kehumasan, ayah dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana mulai diundang menjadi motivator dan memberikan materi ilmu komunikasi di berbagaiacara dengan pendapatan yang lebih menjanjikan sampai saat ini.

Sejak itu juga, Aqua Dwipayana juga telah menulis sejumlah buku, di antaranya The Power of Silaturahim, Berhenti Kerja Dunia Tidak Kiamat, Berhenti Kerja Semakin Kaya serta Komunikasi Jari Tangan Jilid 1 dan 2.

Apa yang diraih Aqua sepanjang karirnya hingga menjadi motivator kondang , tidak lepas dari apa yang telah dirajut sejak ia menjadi wartawan.

“Profesi jurnalis itu sangat mulia karena memberikan nilai-nilai positif,” ucapnya.

Comments
Loading...